Breaking News

UTS dan STP Siap Sulap Olat Maras Jadi Hutan Kurma dan Zaitun

Calon Gubernur NTB DR Zulkieflimansyah  Ikut Menanam Bibit Kurma, Tin dan Zaitun di Kaki Bukit Olat Maras.



Sumbawa Besar, Berita11.com— Tiga tahun ke depan, Kabupaten Sumbawa bakal memiliki kebun Kurma yang berbuah ranum. Selain Kurma, Sumbawa juga memiliki kebun Zaitun dan Tin yang berbuah lebat. Harapan tersebut ditandai dengan penanaman bibit kurma, tin dan zaitun di lahan seluas 1 hektar yang berlokasi di kaki Bukit Olat Maras tepatnya antara Akademi Komunitas Olat Maras (AKOM) dan SMK Al-Kahfi, atau lokasi yang disebut dengan Taman Al-Qur’an.

Penanaman bibit buah yang banyak disebut dalam Al-Qur’an ini merupakan ide besar Dr. Arif Budi Witarto M.Eng—Direktur Sumbawa Techno Park (STP) yang juga pakar rekayasa protein dunia dari Universitas Teknologi Sumbawa (UTS). Penanaman bibit tersebut dilakukan secara simbolis oleh pendiri UTS, Dr. H. Zulkieflimansyah SE., M.Sc yang juga Calon Gubernur NTB, didampingi Ketua Yayasan Dea Mas, Ny. Niken Saptarini M.Sc dan Direktur STP, Dr. Arif Budi Witarto, Sabtu (28/42018).

Ada 100 bibit yang ditanam. Terdiri dari 60 bibit kurma yang dibagi dalam tiga jenis yakni Kurma Azwa, Kurma Barhe dan Kurma KL1 dari Thailand. Kemudian bibit Zaitun dan Tin masing-masing 20 bibit.  

Doktor Arif—demikian sapaan akrab jebolan Departemen Biologi Fakultas Teknik Tokyo University of Agriculture and Technology  menjelaskan, program budidaya tanaman Al-Quran cocok dengan label wisata halal yang saat ini tengah dikembangkan NTB. Selain itu, iklim NTB  sangat cocok untuk mendukung tumbuh kembangnya bibit pohon tersebut.
Penanaman tiga bibit tanaman ini ungkap Doktor Arif, sebagai upaya untuk memperkaya khasanah Taman Al-Qur’an yang coba dihadirkan di daerah ini.

Penanaman tiga tanaman yang banyak disebut di dalam kitab suci umat Islam itu dilakukan dengan keyakinan akan mendatangkan keberkahan bagi masyarakat dan daerah. Tiga tanaman ini sangat cocok dibudidayakan karena iklim di Sumbawa mendekati iklim di daerah asli asal tanaman tersebut karena sama-sama daerah panas.

Diakui Doktor Arif, khusus Kurma, banyak tumbuh di berbagai daerah di Indonesia, namun tidak berbuah. Ditanamnya Kurma dan Zaitun ini agar bisa berbuah karena pihaknya memiliki teknologi yang bisa membedakan mana kurma jantan dan betina sejak usia tiga bulan.

Dengan teknologi ini juga, Bunga Kurma betina akan direkayasa agar dibuahi kurma jantan, sehingga diyakini kurma di Taman Al-Qur’an Olat Maras ini akan tumbuh dan berbuah.

“Untuk kurma asli Arab berbuah saat usianya mencapai 5 sampai 10 tahun, tapi Kurma KL1 dari Thailand berbuah pada usia tiga tahun yang terbilang lebih cepat. Sedangkan buah Tin sudah banyak tumbuh dan berbuah di Indonesia,” katanya.

Dijelaskannya,  zaitun sama seperti kurma. Ketika  di Jepang,  Zaitun dijadikan tanaman hias di pot-pot pekarangan rumah dan berbuah lebat. “Jadi ada teknologi khusus yang kami siapkan sebagaimana yang diterapkan di Jepang,” papar peraih penghargaan Nano Award dari Kementerian Negara Riset dan Teknologi dan Masyarakat Nanoteknologi Indonesia 2009.

Mengenai pemeliharaan tanaman ini, Dr. Arif mengakui sangat sederhana. Selain tidak perlu dipupuk, hamanya juga tidak terlalu banyak. Hanya yang diperhatikan di awal penanaman adalah penyiraman agar akarnya tumbuh dan kuat. Di samping itu menjaganya agar tidak dimakan sapi dan hewan ternak lainnya.

“Kurma berumur sampai 100 tahun dan Zaitun bisa sampai 1000 tahun. Selain untuk edukasi, tiga tanaman (Kurma, Tin dan Zaitun) ini jika ditanam dalam jumlah banyak di NTB memiliki potensi ekonomi yang bagus,” katanya.

Menurutnya, kurma banyak dicari saat  Ramadhan. Buah tin dan zaitun juga memiliki potensi bagus, apalagi jika melihat segudang manfaatnya bagi kesehatan. Ini sudah terbukti, daun zaitun pun bisa kelola menjadi teh, dan ini sudah dipraktekkan mahasiswa setempat menjadi sebuah produk.

Sementara itu Dr. H. Zulkieflimansyah menyatakan bahwa Olat Maras ini menjadi simbol untuk mewujudkan segala sesuatu yang menurut orang mustahil. Di kaki bukit ini UTS dibangun di tengah rasa pesimis dan keraguan berbagai pihak. Kini di kaki bukit ini juga dibangun Taman Al-Quran yang di dalamnya ditanami kurma, tin dan zaitun.

“Kita selalu meretas jalan baru sehingga nanti jika (taman Al-Qur’an) ini sukses dalam 2 tahun saja, saya kira akan ditiru oleh banyak orang di Pulau Sumbawa,” kata Doktor Zul.

Ia membayangkan bukit yang tadinya tandus dan gersang diisi kurma, zaitun dan tin. Selain dapat meresap air dan menghasilkan buah yang bagus, lokasi tersebut juga dapat menjadi wisata rohani bagi banyak orang sekaligus menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan.

“Kita butuh orang seperti Pak Arif ini yang memberikan inspirasi bagi banyak orang yang menurut orang tidak mungkin, bisa menjadi kenyataan. Ini langkah pertama untuk perjalanan panjang. Sebagaimana yang biasa kami dengungkan, bahwa perjalanan panjang selalu dimulai dari langkah pertama.  Kita menjadi saksi bahwa langkah pertama itu selalu dimulai dari sini (Olat Maras),” pungkasnya. (RD/*)

No comments