Breaking News

Soal Pro Kontra Hasil Survei Cagub dan Cawagub NTB, ini Respon Balik OMI

Calon Gubernur NTB Dr. Zulkieflimansyah Akrab dengan Berbagai Tokoh Masyarakat.



Sumbawa, Berita11.com— Hasil survei Olat Maras Institute (OMI) terbaru yang dirilis belum lama ini mendapat tanggapan beragam dari berbagai pihak. Dalam survei yang dilakukan OMI pada rentang waktu 3-12 Juni 2018 menempatkan Pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah SE., M.Sc—Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah (Zul-Rohmi) di posisi tertinggi dengan raihan 28 % suara.

Menguntit di belakangnya, pasangan calon H. Moh. Suhaili Fadhil Thohir SH—Muh. Amin SH M.Si (Suhaili—Amin) 21,6 %, H. Ahyar Abduh—H. Mori Hanafi (Ahyar—Mori) 17,7 % dan H. Moch. Ali Bin Dachlan—TGH Lalu Gede Sakti MA (Ali—Sakti) memperoleh 12,6 %, serta tidak menjawab 20,1 %.

Hasil ini menimbulkan pro dan kontra. Bagi yang pro menilai survei itu sesuai fakta lapangan dengan melihat ikhtiar Zul-Rohmi yang melakukan gerakan sangat massif. 

Pasangan bernomor urut 3 yang didukung PKS dan Partai Demokrat ini turun langsung menemui masyarakat hingga di pelosok sekalipun. Sedangkan bagi yang kontra menilai hasil survei tersebut membuat kegaduhan dan memunculkan gejolak di tengah masyarakat. Mereka juga menuding hasil survei kecenderungan untuk memenangkan calon tertentu. Bahkan ada yang meragukan hasil survei tersebut. Terhadap kontra ini, Direktur OMI, Miftahul Arzak, S.Ikom., MA memberikan tanggapan.

Dalam jumpa persnya, Minggu (17/6/2018), Miftah—akrab peneliti yang juga dosen ini disapa, menegaskan bahwa kegiatan yang dilakukan lembaganya adalah akademik penelitian, bukan kegiatan politis untuk memenangkan salah satu calon sebagaimana tudingan berbagai kalangan tertentu terhadap hasil survei yang dirilisnya dua hari kemarin.

OMI merupakan kumpulan dosen, peneliti, praktisi penelitian dan lembaga survei baik dari UTS, IISBUD dan UNRAM yang melakukan survei persoalan sosial, ekonomi dan kebudayaan di NTB. Kebetulan momentumnya Pilkada, OMI pun menjadikan bagian penelitiannya terhadap elektabilitas pasangan calon Pilgub NTB.

“Jadi banyak yang kami teliti, tidak semata-mata elektabilitas calon,” ungkapnya.

Miftah juga menekankan bahwa dalam setiap penelitian yang dilakukan OMI memiliki etika penelitian, tidak ada rekayasa atau angka hasil survei yang diubah-ubah. Sebab menurutnya, survei yang dirilisnya menyangkut kebutuhan public dan kredibilitas lembaga.
Para peneliti di OMI cukup berkompeten dan bersertifikasi. Mereka telah mengikuti berbagai pelatihan survei baik di UI, LIPI maupun Kemenristek Dikti.

“Memang dasarnya ini survei penelitian dan bermetodologi. Unsur yang kami lakukan adalah akademik penelitian. Jadi hasil yang kami rilis tidak bermaksud membuat kegaduhan, gejolak apalagi cenderung mengarah atau memenangkan calon tertentu. Hanya kebetulan saja hasil survei menempatkan Pasangan Zul Rohmi unggul dari calon lain”

“Ketika hasilnya memenangkan calon selain Zul Rohmi akan kami publis. Jika mau kami mempersilakan lembaga penelitian lain melakukan survei seperti kami dan menggunakan metode yang sama (Multistage Random Sampling). Saya berani berkeyakinan hasilnya akan sama seperti hasil yang dirilis OMI. Saya siap mempertanggungjawabkan hasil survei OMI ini secara metodologis,” paparnya.   

Bahkan jika kondisi (hasil survei OMI) saat ini tetap bertahan sampai hari pencoblosan, Miftah berkeyakinan Zul-Rohmi akan menjadi pemenang pada Pilgub NTB 27 Juni 2018 mendatang. Hasil survei OMI hari ini adalah final. Artinya hasil survei tersebut kecenderungannya terjadi pada 27 Juni nanti.

Sementara Ketua Metodologi OMI, Yadi Satriadi S.Ikom mengatakan bahwa fenomena survei ini cukup menarik, karena mengungkap sebuah kebenaran berdasarkan metodologis. Diakui Yadi, banyak respon yang muncul baik pro maupun kontra dari hasil survei terbaru yang dirilis OMI.

Ia memaklumi hal itu sebab masalah pro dan kontra dalam menerima sebuah kebenaran sudah terjadi sejak zaman para nabi dan Rasullullah. Kitab suci yang diturunkan Allah yang sudah pasti kebenarannya saja, tidak semua manusia mengikuti dan mengakuinya. Apalagi hasil survei yang notabene buatan manusia. Namun Yadi memastikan angka dari hasil survei dilakukannya (OMI) benar-benar berlandaskan etika sebagai seorang peneliti. Tidak ada angka-angka yang dirubah dalam menyampaikan hasil survei.

Masalah survei terkait dengan populasi dan sampel. Yang menjadi populasi dalam survei ini adalah DPT se-NTB yang diperoleh OMI dari KPU Propinsi NTB yang mencapai sekitar 3 juta lebih pemilih. Sampel dari populasi ini ditemukan 1.200.

“Kita ibaratkan sampel dengan semangkuk atau sedandang soto. Untuk mengetahui soto ini enak, sudah pas atau tidak, kita tidak perlu makan satu dandang soto, cukup kita cicipi satu sendoknya saja sudah merepresentasikan bagaimana soto itu enak atau tidak. Rasa soto ini bisa pas ketika campurannya diolah secara benar dengan porsi yang pas. Kalau kebanyakan garam terlalu asin, kebanyakan gula terlalu manis. Makanya bumbu yang ada ini kita aduk agar sebarannya merata. Begitulah dengan sampel tadi, kami racik tentunya dengan menggunakan rumus yang ada,” bebernya.

Kembali ditegaskan Yadi, rilis hasil survei OMI ini tidak mewakili siapapun dan calon manapun. Hanya kebetulan hasil survei itu memenangkan Zul Rohmi. “Sekali lagi kami katakan, semua ini berdasarkan metodologi,” pungkasnya. [RD]

No comments