Breaking News

Hingga Juli, BNNK Bima Rehabilitasi 29 Pecandu Narkoba

Kepala BNNK Bima, Ivanto Aritonang Memimpin Konferensi Pers di BNNK Bima, Jumat (27/7/2018).


Bima, Berita11.com— Sejak awal Januari hingga Juli 2018, Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Bima menangani rehabilitasi untuk 29 pencandu Narkoba. Dari puluhan pecandu tersebut, tiga di antaranya telah selesai menjalani masa assessment.

Kepala BBNK Bima, Ivanto Aritonang menyebut, sesuai data klien rawat jalan klinik pratama BNNK Bima, pecandu yang ditangani berusia 15-25 tahun dengan daerah asal terbanyak dari Kecamatan Mpunda Kota Bima.

“Jenis kelamin klien laki-laki dengan zat terbanyak yang digunakan adalah sabu,” ujarnya saat konfrensi pers BNNK Bima di kantor setempat, Jumat (27/7/2018).

Ivanto mengakui hingga saat ini pihaknya masih bekerja pada tataran upaya-upaya pencegahan dan penanganan pasca seperti rehabilitasi melalui upaya assessment, sedangkan untuk langkah penindakan, BNNK Bima menyerahkan sepenuhnya kepada pihak kepolisian. Karena hingga kini BNNK belum memiliki tenaga khusus untuk bidang penindakan.

“Untuk penanganan pasca terdapat tim assessment terpadu. Jika ada tangkapan Polres bukan pengedar diajukan assessment. Kita sudah berupaya maksimal,” ujarnya.

Menurut pejabat yang sebelumnya berkarir di BNN Provinsi NTB ini, jaringan pengedar Narkoba di wilayah BNNK Bima termonitor oleh pihak BNN Provinsi NTB, Polda NTB dan Polres, kecuali BNNK. Misalnya berkaitan munculnya kasus penangkapan Narkoba jenis sabu seberat 1 kilogram di wilayah Kota Bima.

“Kalau untuk jaringan hitam pengedar Narkoba itu termonitor kecuali oleh BNNK Bima. kendala utama kaim adalah masalah SDM. Untuk kegiatan mapping kita juga kesulitan,” ujarnya.

Masalah lain karena kendala anggaran yang terbatas karena untuk penanganan pasca atau upaya sosialisasi sudah ditetapkan dari BNN Pusat. Idealnya jumlah personil yang dibutuhkan oleh BNNK Bima 88 orang. Namun hingga saat ini tenaga yang tersedia baru 33 orang.

“Tukin kita terbatas sudah dipatok sekian sehingga untuk menambah tenaga juga sulit. Sementara untuk meminta tambahan tenaga dari pihak kepolisian atau kejaksaan itu juga sulit karena mereka sendiri masih kekurangan,” ujar Ivanto.

Ivanto menyebut tingkat prevelensi atau pengguna Narkoba di Provinsi NTB 1,77 yang dihitung dari usia produktif pengguna Narkoba 17-50 tahun. di mana data pengguna sebanyak 5.000 pecandu. “Sehingga memang diperlukan tindakan penanganan,” katanya.  [Achmad/US]




No comments