Breaking News

Pasca Gempa Lombok dan Buka Tutup Pelabuhan Tano, Penumpang Pesawat Meningkat

Plt Kepala Kantor Unit Penyelenggara Bandara Kelas II Sultan Muhammad Salahuddin Bima, Sutarmin SAP.


Bima, Berita11.com— Pasca peristiwa gempa tektonik 7,0 Skala Richter yang mengguncang Pulau Lombok dan daerah sekitar Minggu (5/8/2018) dan penerapan sistem buka tutup Pelabuhan Poto Tano Sumbawa dan Pelabuhan Khayangan Lombok karena cuaca buruk, jumlah penumpang pesawat melalui Bandar Udara Bima meningkat.

Plt Kepala Kantor Unit Penyelenggara Bandara Udara Kelas II Sultan Muhammad Salahuddin Bima, Sutarmin SAP mengatakan sejak kondisi cuaca buruk yang berimbas sistem buka tutup pelabuhan penyebrangan di Sumbawa dan pasca gempa tektonik yang mengguncang Pulau Lombok memang terjadi peningkatan pembelian tiket pesawat.

“Kalau jumlah penumpang tetap kita masih penumpang peak season (masa puncak) berangkat keluar masuk Bima. Ini masih padat-padatanya,” ujar Sutarmin kepada 
Berita11.com di kantor setempat, Selasa (7/8/2018).

Sutarmin memprediksi peak season masih terjadi hingga tiga hari ke depan. Dampaknya banyak delay (penundaan) pesawat hampir seluruh maskapai.  “Dampaknya banyak delay dari Mataram, dari Denpasar, yang kemarin juga baru datang atau yang hari ini harusnya pagi berangkat jam 10,” katanya.

Menurut Sutarmin, kondisi sebagian korban gempa bumi Lombok yang memilih mengungsi juga mempengaruhi peak season penumpang pesawat. “Apalagi juga mahasiswa lagi libur dan sekolah juga diliburkan pasca gempa,” kata Sutarmin yang didampingi Kasubag TU Bandara Setempat, Sudarmana S.St.

Kendati saat ini merupakan puncak musim penumpang pesawat, namun pihaknya memastikan tidak ada penambahan traffic atau armada pesawat maupun reroute. 

“Tidak ada penambahan traffic. Kondisi cuaca dari BMKG kalau soal cuaca tetap melayani schedule normal, tidak pengaruh dari segi cuaca, dari segi penumpang ada peningkatan yang masih peak season itu. Kita belum tahu waiting listnya berapa,” katanya.


Meskipun ada peningkatan harga tiket dari hari biasa yang diberlakukan maskapai, menurut Sutarmin hal itu masih wajar karena tidak melampui batas bawah dan batas atas yang telah ditetapkan oleh pemerintah sesuai Permenhub Nomor 49 Tahun 2012 Tentang Standar Pelayanan Penumpang Angkutan udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri.

Sesuai regulasi tersebut penentuan batas bawah dan batas atas tiket pesawat ditentukan dari pelayanan dengan standar maksimum (full service), pelayanan dengan standar menengah (medium services), dan pelayanan dengan standar minimum (no frills) atau low cost carrier.

“Tiga maskapai di sini berbeda-beda jenis pelayanannya. Jadinya harga tiket juga berbeda-beda,” katanya.


Sementara itu, informasinya harga tiket pesawat penerbangan dari BIL ke Bima meningkat menjadi Rp800 ribu lebih dari hari-hari sebelumnya di bawah harga tersebut. Hal tersebut dibenarkan oleh Sutarmin. [AD/US]

No comments