Breaking News

Selain Galang Bantuan, Ahli Bencana NU Sarankan Edukasi Mitigasi Gempa Dimasukan ke Kurikulum

Seluruh Warga NU yang Tergabung dalam Tim NU Peduli Menggalang Bantuan untuk Korban Gempa Lombok.


Mataram, Berita11.com—  Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (NU) Nusa Tenggara Barat dan Ormas lain NU  menggalang dukungan dan bantuan kemanusiaan untuk warga yang terkena dampak gempa  di Lombok Timur , Lombok Utara, Lombok Barat, Mataram dan Lombok Tengah.

Hal tersebut dilakukan karena masifnya dampak kerusakan dan korban jiwa akibat gempa tersebut. selain itu, penggalangan bantuan kemanusiaan juga  bagian dari ikhtiar kaum Nahdliyin untuk meringankan beban penderitaan warga yang terdampak gempa.

Ketua Tim NU Peduli, Baiq Mulyana mengatakan, sesuai perintah PB NU, terhitung mulai Sabtu (11/8/2018)  seluruh aktivitas bantuan kemanusiaan untuk gempa bumi di Lombok menggunakan satu pintu yakni NU Peduli yang sekretariat utama atau poskonya di Aula PW NU di jalan Pendidikan Kota Mataram.

“Ini untuk memudahkan koordinasi dan efektifitas penyaluran bantuan untuk korban gempa se Pulau Lombok yang terdampak,” ujar Baiq Mulyana yang juga Rektor Universitas NU, Selasa (14/8/2018)

Lebih lanjut Baiq Mulyana mengatakan hingga saat ini NU Peduli sudah menyalurkan bantuan untuk korban gempa Lombok di puluhan titik. Bantuan yang disalurkan bentuk paket sembako, makanan bayi, terpal, tikar, tenda, dan sejumlah jenis lain.

“Untuk dapur umum, NU peduli sudah buka di Sesa Sigar Penjalin  Lombok Utara dengan kapasitas tiga kali makan masing-masing 2000 sampai 4000 nasi bungkus per sekali masak,” katanya.

Selain itu, NU Peduli juga mendapatkan bantuan puluhan  tenaga medis, para medis serta psikolog trauma healing dari PW NU Jawa Timur, PW NU Jawa Tengah via RS Kudus, PC NU Nganjuk, PC NU Boyolali, Bali , Sampang serta dari Universitas NU Jawa Timur.

“Dan yang baru tiba rombongan dari Universitas Brawijaya/ Pergunu Malang yang dipimpin Dr Eng Fadly Isman,” info Baiq Mulyana yang didampingi Ahmad Fauzan dari klaster Litbang NU Peduli.

Bhakti sosial NU Peduli, lanjut Baiq Mulyana tidak berhenti saat tanggap darurat usai seperti yang telah ditetapkan pemerintah. Hal itu karena NU Peduli akan terlihat pada upaya paska tanggap darurat khususnya yang menyangkut pemulihan trauma korban.

“NU Peduli sudah menerjunkan tim dokter, para medis dan trauma healing satu paket agar masyarakat bisa pulih dan bangkit untuk menyongsong masa depannya, “ ujarnya.

Rektor Universitas NU ini melaporkan hingga kini saldo rekening NU Peduli Rp274.577.875 yang bersumber dari donasi beberapa lembaga seperti Freeport , PT China Harbour Indonesia dan sumber lain.

“Pendek kata NU Peduli akan transparan dan akuntabel dalam penggunaan dan pelaporannya,” isyaratnya.

Tim Medis dari NU Peduli Berupaya Menjahi Luka Korban Gempa Bumi Lombok.
Selain itu, imbuh Baiq Mulyana , mulai besok NU Peduli akan menyalurkan 50 terpal yang berukuran 10x10 dipegunakan sebagai mushala di 50 titik, di antaranya di Malaka, Gangga, Kayangan, Lekok, Pemenang.

“Selain itu NU peduli juga akan mendroping 150 terpal untuk tenda yang memisahkan tenda perempuan , anak-anak dan lansia. Juga tenda khusus untuk penderita penyakit menular seperti TBC,” katanya.

Untuk kebutuhan air dan sanitasi ,  Tim NU Peduli akan melakukan pemetaan udara lewat drone untuk menentukan titik-titik konsentrasi pengungsi yang selama minim dijangkau oleh bantuan kemanusiaan.

“Dalam waktu dekat NU Peduli akan melakukan pengeboran air di beberapa titik pengungsi di KLU yang medannya sulit dijangkau,” kata Baiq Mulyana sembari menambahkan alat dan tenaga sumur bor dari NU peduli sudah siap bergerak.

Rumah Ramah Gempa

Sementara itu,  akademisi Universitas Brawijaya yang juga Wakil Ketua PP Persatuan Guru NU (Pergunu)  Dr Eng Fadly Usman mengatakan masyarakat NTB perlu disadarkan tentang pentingnya membangun hunian yang ramah terhadap gempa. Hal tersebut mengingat NTB, khususnya Lombok merupakan daerah yang kerap dilanda gempa.

Dia kemudian mengilustrasikan kesigapan warga Jepang jika dilanda gempa. “Di Jepang semua struktur bangunannya dirancang dan ramah terhadap gempa untuk meminimalkan dampak dan korbannya,” ujar Dr Eng Fadly Usman yang  tergabung dalam Ikatan Ahli 
Bencana Indonesia untuk Gempa dan Tsunami.

Selain itu, warga Jepang dari mulai kecil sudah diberikan pemahaman untuk safety jika terjadi gempa , termasuk memasang alat-alat sederhana yang mudah dilihat dan dirasakan jika gempa itu terjadi.

“Di Jepang rata-rata warganya memasang lampu itu digantung, bukan ditempel di plafon. Jika gempa tiba maka lampu gantung tersebut akan berayun. Juga setiap rumah atau sekolah, warga Jepang membiasakan diri menaruh air kemasan di meja, jika ada gempa, maka air tersebut akan bergoyang.  Itu salah satu early warning yang mudah dilakukan,” ungkapnya.

Menurutnya, karena wilayah Indonesia khususnya bagian selatan rawan gempa, maka disarankan  agar edukasi mitigasi gempa  bisa masuk kurikulum, minimal dimasukan dalam sub mata pelajaran sosial lainnya yang berkaitan.

“Hal ini agar setiap warga negara Indonesia memiliki pengetahuan dan cara perlindungan diri yang cepat saat terjadi gempa ataupun bencana lainnya,” tukasnya.

Dr Eng Fadly Usman menyarankan bila gempa terjadi sebaiknya tidak lari keluar,  tapi berlindung di bawah kolong meja untuk menghindari benturan langsung.

“Maka setiap rumah hendaknya memiliki meja yang cukup kuat utk menahan reruntuhan sebagai upaya antisipasi,” pungkasnya. [RD]

No comments