Breaking News

Nurul Uyun, Sang Matahari dari Donggo

Nurul Uyun Foto Bersama Ketua STKIP Taman Siswa Bima, Dr Ibnu Khaldun M.Si.

Sekolah Tinggi Ilmu Pendidikan dan Keguruan (STKIP) Taman Siswa Bima menggelar wisuda sarjana angkatan VII di Auditorium Sudirman kampus setempat, Sabtu (6/10/2018).  Dari 521 orang yang diwisuda, beberapa di antaranya dikukuhkan sebagai wisudawan terbaik. Catatan Fachrunnas.

“Terima kasih kepada bapak-ibu dosen yang telah membimbing kami selama menempuh kuliah di kampus ini. Hari ini kita adalah orang-orang yang berbahagia karena bisa menatap masa depan dengan cerah”

Penggalan kalimat  itu menggema di ruangan berukuran sekitar 20x20 meter siang itu. Sedari awal, ratusan mata tertuju pada gadis cantik bertoga hitam polet warna orange yang berdiri di atas podium di bagian depan Auditorium Sudirman. Tak terkecuali Ketua STKIP Taman Siswa Bima, Dr Ibnu Khaldun, M.Si yang memimpin rapat senat terbuka wisuda sarjana angkatan XII tahun 2018. Beberapa di antaranya ada yang sampai berkaca-kaca terenyuh mendengar untaian kalimat dari gadis yang berbicara di atas podium itu.

Tak ada pengucapan  terbata-bata yang meluncur dari mulut Nurul Uyun siang itu, dia begitu pawai menyampaikan pesan dan kesan wisudawan angkatan XII STKIP Taman Siswa Bima. Namun siapa sangka, gadis yang didaulat menyampaikan pesan dan kesan tersebut berasal dari Desa Kala Kecamatan Donggo Kabupaten Bima. Nyaris tak ada logat khas masyarakat Donggo, yang menjadi ciri khas dataran tinggi mendiami daerah bagian Utara Bima.

Selain menyampaikan pesan dan kesan alumni, siang itu Nurul Uyun juga dikukuhkan sebagai wisudawan terbaik angkatan XII STKIP Taman Siswa Bima yang dihelat Auditorium Sudirman, Sabtu (6/10/2018). Prestasinya sempurna dengan Indeks Prestasi Komulatif (IPK) 3,92.

“Alhamdulillah ini semua adalah berkat doa dan dukungan orang tua saya. Kerabat, teman yang memativasi dan bantuan bapak-ibu dosen yang membimbing selama kuliah dan menyusun skripsi,” ujar alumnus SMAN 3 Kota Bima itu saat ditemui Berita11.com usai prosesi wisuda.

Baca Juga:

Nurul Uyun adalah sedikit dari ratusan lulusan STKIP Taman Siswa Bima yang diwisuda Sabtu siang. Ia bahagia karena dapat menuntaskan pendidikan strata 1 walaupun dengan “jatuh bangun”.

“Kalau dibilang jatuh bangun pasti pernah jatuh bangun. Apalagi saya adalah hanya punya seorang ibu yang masih hidup. Bapak saya sudah lama meninggal. Susah waktu urus skripsi dan mendaftar wisuda,” ujar putri pasangan Syahbudin (almarhum) dan Haryati, warga Desa Kala Kecamatan Donggo ini.

Nurul Uyun Foto Bersama Sang Ibunda, Haryati.

Selama menempuh kuliah di kampus STKIP Taman Siswa Bima beberapa prestasi dan beasiswa pernah diraih Nurul Uyun.  Di antaranya terpilih sebagai peserta mahasiswa berprestasi (Mawapres) yang digelar Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI). Ia juga pernah menjadi peserta seminar internasional yang digelar di Bandung Jawa Barat  dengan memaparkan makalah berjudul Bahasa Ibu sebagai Sumber Literasi dengan tema utama Patu Mbojo sebagai Kearifan Daerah Bima.

Tak hanya itu, gadis kelahiran 24 Agustus 1995 ini juga pernah mendapatkan beasiswa dari hasil mengikuti lomba karya ilmiah yang digelar Kopetis wilayah VII. Selain itu pernah menjadi bagian dari kegiatan Survei INOVASI pendidikan. “Alhamdulillah walaupun tidak benar-benar menonjol sekali waktu SMA, saya juga masuk kelas unggulan,” ujar Nurul.

Nurul Uyun mengaku beberapa prestasi yang diraihnya itu tidak terlepas dari dukungan dan motivasi keluarganya, terutama Sang Ibu Haryati yang juga menghadiri prosesi wisudanya. Ia terpilih menjadi wisudawan terbaik setelah menuntaskan beban sistem kredit semester dan skripsi berjudul Kontribusi Guru dalam Pembentukan Karakter Melalui Sastra Anak pada Siswa Kelas IB SDN Bajo Soromandi.

Setelah menuntaskan pendidikan Strata 1, Nurul memiliki harapan untuk melanjutkan pendidikan magister jika ada beasiswa dari kampus atau kementerian. Impian utamanya mengangkat derajat kehidupan keluarganya. Ia adalah satu-satunya harapan keluarganya setelah Sang Bapak, Syahbudin tiada untuk selamanya.

Bagi Nurul, wisuda adalah babak baru memasuki dunia nyata. Cita-citanya jika kelak tidak bisa melanjutkan pendidikan strata 2, ia ingin mengabdi menjadi pengajar di daerah terpencil. Menerapkan segala ilmu pengetahuan yang diperoleh selama duduk di bangku kuliah.

Bagi dia, guru atau pendidik adalah matahari yang menyinari isi dunia, karena menentukan karakter dan kualitas masa depan penerus bangsa. Motivasi dan karakter-karakter positif hanya bisa lahir dari bimbingan para pendidik-pendidik terampil dan bertanggungjawab. (*)


No comments