Breaking News

Rekrutmen Parpol masih Payah, Ibnu: Caleg tak Berkualitas hanya akan Memunculkan Praktik Executive Heavy

Peneliti Senior dan Pengamat Politik dari CEPP UNI Link, Dr Ibnu Khaldun, M.Si. Foto US Berita11.com


Bima, Berita11.com— Pengamat politik dari Pusat Studi Pemilu dan Partai Politik (Center for Election and Political Party/ CEPP) Universitas Indonesia link, Dr Ibnu Khaldun, M.Si menilai proses rekrutmen peserta Pemilu 2019 belum berlangsung seperti ekspektasi publik.

Masalahnya, partai politik (Parpol) belum menerapkan standar rekrutmen terhadap calon anggota legislatif yang berlandaskan berbagai kompetensi terutama berkaitan teknis pelaksanaan kerja pemerintah, sehingga legislatif bisa melaksanakan pengawasan secara tepat.

“Dari itu akan terpilih legislative-legislatif atau anggota legislatif yang kurang berkualitas, yang kurang memahami sisi yang kurang cara kerja teknis di bidang pemerintahan. Ini akan beri implikasi pada lemahnya legislatif dan ini akan jadi praktik executive heavy (kekuasaan dominan) di  pemerintahan yang tidak mampu diimbangi oleh legislative,” ujar Ibnu di kampus STKIP Taman Siswa Bima, Sabtu (6/10/2018).

Menurut Ibnu, permasalahan legislator yang tidak berkualitas  juga akan berimplikasi lambatnya pengambilan kebijakan di daerah.

Peneliti senior di CEPP UNI link yang sering konsen terhadap isu-isu pemilih pemula (rock the vote) ini, berharap para generasi muda tidak terjebak isu-isu dan sentimen agama yang digiring ke media sosial untuk kepentingan politik pada momentum Pemilu 2019.

“Pesan kita, mari para pemilih menggunakan kesempatan ini untuk menjadi pemilih cerdas dan tidak lagi menggunakan pendekatan kekerabatan, tidak lagi yang menggunakan pendekatan darah, tidak lagi menggunakan pendekatan bahkan menerima uang dan khususnya misalnya atau material. Tapi benar-benar menjadi pemilik yang cerdas melihat rekam jejak peserta Pemilu, melihat visi misinya,” imbaunya.

Ibnu lebih sepakat jika para peserta Pemilu 2019 mengusung isu-isu tentang nasionalisme dan pengembangan daerah melalui program-program relevan dan upaya peningkatan kapasitas pembangunan daerah, dibandingkan menggiring isu-isu negatif dalam membangun opini masyaarakat pemilih.

“Kembali menjadi pemilih cerdas dan gunakan Medsos terutama apakah facebook, instagram dan platform lain  itu untuk hal-hal yang positif,” ujar mantan Staf Ahli DPR RI ini. [US]

No comments