Breaking News

HBK: Pertanian Terpadu Perlu Dibudayakan dalam Skala Kecil

H Bambang Kristiono (HBK). 


Mataram, Berita11.com— Membangun kembali kejayaan pertanian Indonesia bukanlah hal mudah, tapi juga bukan hal yang terlalu sulit. Hal yang dibutuhkan hanyalah keseriusan, keberpihakan dari pemerintahan pusat hingga di tingkat desa, dan juga ketekunan masyarakat mendorong dan memberdayakan sektor ini.

“Asal tekun dan serius, (membangun) pertanian itu nggak ribet-ribet amat koq,” kata H Bambang Kristiono (HBK), Kamis  ( 8/11/2018)

Ketua Badan Pengawas dan Disiplin (BPD) Partai Gerindra ini mengatakan, selain keseriusan pemerintah dan ketekunan masyarakat, mindset dan paradigma masyarakat tentang pertanian juga harus diubah.

Sebab, pada saat ini sudah terjadi degradasi makna dalam sektor pertanian, di mana ketika orang membicarakan petani pasti langsung terlintas tentang kehidupan yang sulit, pra-sejahtera, dan kantung-kantung kemiskinan. Petani dan nelayan, ditempatkan sebagai masyarakat dengan strata paling bawah.

Stigma itu kemudian meracuni pikiran generasi muda sekarang, sehingga tidak heran kalau lebih banyak para pemuda yang kemudian berpikir lebih baik menganggur daripada menjadi seorang petani.

“Ini ironi, karena di negara-negara maju seperti di Belanda, orang-orang kaya itu justeru banyak lahir dari kalangan petani,” katanya.

“Kalau bangsa agraris ini, pemuda-pemudanya berpikiran seperti itu, khan parah namanya. Ini yang harus diubah, karena mindset dan paradigma ini sangat keliru,” ujarnya.

Kondisi ini, papar HBK, sangat berbeda dengan pemahaman masyarakat yang ada di 
negara-negara maju dan negara-negara berkembang lainnya dalam memandang sektor pertanian.

“Banyak negara-negara berkembang yang luasan wilayahnya kecil, tapi pertaniannya sangat maju dan petaninya juga makmur serta sejahtera. Karena mereka berpositive-thinking, bahwa sektor ini memiliki multiplier efect yang luas biasa,” katanya.

Menurut HBK, untuk mengubah itu semua, Indonesia bisa memulainya dengan hal yang sangat sederhana. Misalnya dengan memperkuat pola pertanian terpadu atau pertanian terintegrasi, di mana pertanian tanaman pangan, hortikultura bisa dipadu bersama peternakan ataupun perikanan air tawar. Dimulai dari Desa, bahkan di kegiatan-kegiatan ibu rumah tangga.

HBK menekankan, pola pertanian terpadu ini juga bisa dimulai dari skala yang kecil di pedesaan.Kelompok tani (Pokta) yang sudah ada saat ini bisa diberdayakan melalui konsep terintergasi itu.

“Sederhananya, sebagai contoh, limbah jagung bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak, dan kemudian kotoran ternak bisa dimanfaatkan jadi pupuk organik, dan lain sebagainya,” katanya.

Dalam skala lebih kecil, papar dia, pertanian terpadu juga bisa dilakuan kaum perempuan dan ibu-ibu rumah tangga dengan memanfaatkan lahan pekarangan mereka. Para ibu bisa memulainya dengan menanam sayur-sayuran seperti cabai, tomat, bawang di pekarangan mereka, dan di saat yang bersamaan juga beternak ayam secara kecil-kecilan.

“Selain untuk mengisi waktu luang, kegiatan seperti ini juga bisa memberi tambahan penghasilan dalam membantu ekonomi keluarga. Yang terpenting pola pertanian terpadu ini harus dibudayakan sehingga generasi muda kita ke depan tidak lagi berstigma buruk tentang petani dan pertanian,” katanya.

Ketahanan Pangan Kawasan

Dalam skala menengah, tambah HBK, pertanian terpadu merupakan salah satu upaya untuk saling menghidupi dan memberikan manfaat antarwarga yang melakukan pengolahan lahan pertanian terpadu.

Dengan demikian, hal ini akan mendorong pola hidup simbiosis mutualisme antarwarga dalam rangka memperkuat basis ketahanan pangan dalam kawasan tersebut .
Produktifitas dan efektifitas pertanian terpadu dapat menggerakkan perputaran roda ekonomi satu kawasan melalui produk yang dihasilkan.

“Tapi yang terpenting pertanian terpadu ini jika dimasifkan dan dijadikan agenda gerakan nasional ketahanan pangan, rakyat akan mengurangi tingkat ketergantungannya kepada impor pangan, sekaligus memperkuat lapangan kerja yang kreatif,” tukasnya.

Caleg DPR RI dari Partai Gerindra ini memang fokus mengangkat isu pertanian dalam setiap kunjungan lapangannya di Pulau Lombok. HBK selalu menekankan semangat bangkitnya kembali sektor pertanian di Pulau Lombok.

Ia menilai, jika dikelola dengan sungguh-sungguh, sektor pertanian ini bukan saja bisa membawa bangsa Indonesia menjadi lumbung pangan dunia ke depan, tapi juga akan membuka banyak lapangan pekerjaan yang sangat besar, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. [RD]

No comments