Warga Kabupaten Bima Sering Pasok Ikan dan Cumi Berformalin ke Kota Bima

Iklan Semua Halaman

.

Warga Kabupaten Bima Sering Pasok Ikan dan Cumi Berformalin ke Kota Bima

Rabu, 12 Desember 2018
Ilustrasi.


Kota Bima, Berita11.com— Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kota Bima menyebut nelayan atau warga Kabupaten Bima sering memasok ikan dan cumi berformalin ke Pasar Raya Amahami dan Pasar Sore Kota Bima. Temuan dinas setempat sudah dikoordinasikan dengan DKP Kabupaten Bima.

Sekretaris DKP Kota Bima, Ir H Juwaid, M.Ap menyebut, temuan ikan dan cumi berformalin berdasarkan sampel yang ditemukan petugas dinas setempat. Namun untuk memastikan 100 persen pihaknya membutuhkan pengujian oleh Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM).

“Terkait ini kita sudah berkoordinasi dengan OPD (DKP Kabupaten Bima) yang menangani perikanan di luar Kota Bima yang kita tahu sering memberikan pasokan ikan di pasar lama Kota Bima. Kita tidak ingin muncul hal-hal seperti ini, apalagi dalam mendukung program 100 hari Wali Kota Bima. Sebelumnyanya beberapa tahun lalu kita juga temukan dari pedagang cumi di wilayah Pasar Raya Bima,” kata Juwaid kepada Berita11.com di DKP Kota Bima, Rabu (12/12/2018).

Dikatakannya, ekspor ikan mengandung bahan pengawet berbahaya dari wilayah sebelah membahayakan warga Kota Bima. “Dari hasil pengecekan oleh teman teman di sini, ada sampel yang diduga, karena pengecekan lebih detail oleh Balai POM,” katanya.

Menurut Juwaid, harga ikan yang dipasok ke Kota Bima umumnya sangat murah dari biasanya sehingga membuat kemampuan beli masyarakat lebih baik. Namun jika yang dipasok terus merupakan ikan yang mengandung berformalin berbahaya untuk kesehatan masyarakat kota.

Diisyaratkannya, pihaknya mengantisipasi pasokan ikan dan cumi dari luar daerah sekitar yang mengandung bahan berbahaya seperti potasium. Tak hanya memastikan pasokan ikan yang tidak berbahaya, pihaknya juga telah mengantisipasi penggunaan bahan pengawet oleh nelayan dari Kota Bima melalui pembinaan teknis.

“Kita tahu ikan kadar airnya kalau tidak ditangani dengan teknis yang tepat akan cepat memusuk. Kita terus memantau dan mendampingi. Racun itu akan merusak generasi muda penerus bangsa,” katanya.

Secara umum, sejak beberapa tahun lalu, Kota Bima merupakan daerah yang menerima pasokan ikan dari luar wilayah karena telah memiliki gudang cold storaget yang memiliki kapasitas 100 ton.

Sementara itu, secara terpisah, Kepala Bidang Mutu dan Pengolahan Hasil Perikanan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bima, Agus Yudhi Ananto, A.Pi menyatakan pihaknya telah menindaklanjuti laporan dan keluhan DKP Kota Bima berkaitan temuan ikan berformalin yang dipasok nelayan dari Kecamatan Wera dan sejumlah wilayah lain dari Kabupaten Bima.

“Kita sudah turun ke dua lokasi pasar di Kota Bima dan melakukan pengecekan. Hasil pengecekan kami tidak menemukan itu,” kata Agus di DKP Kabupaten Bima.

Agus Yudhi Ananto mengaku bingung dengan laporan dan keluhan DKP Kota Bima yang menyatakan adanya temuan terkait ikan berformalin, karena sepengetahuannya, pihak yang berhak melaksanakan pengawasan, pengendalian mutu dan keamanan hasil perikanan adalah BKIPM.

“Katanya temuan itu berdasarkan hasil pengujian sampel. Sementara yang kita tahu memiliki kewenangan terhadap itu adalah BKIPM,” katanya. [US]