Mahasiswa Bima Makassar Butuh Wadah Bersama

Iklan Semua Halaman

.

Mahasiswa Bima Makassar Butuh Wadah Bersama

Rabu, 16 Januari 2019

Bima, Berita11.com— Seringnya konflik kelembagaan dalam internal mahasiswa Bima di Makassar menyiratkan bahwa perlu adanya wadah bersama yang dapat mengakomodir seluruh suara mahasiswa, termasuk sebagai jembatan antara mahasiswa dengan pemerintah.

Mantan Ketua KPMR Makassar periode 2017-2018,  Yusuf Malik mengatakan, banyaknya dinamika di wilayah Bima saat ini menjadi renungan bagi mahasiswa Bima Makassar. Hal utama yaitu adanya konflik individual hingga terjadinya kelembagaan yang terjadi pada mahasiswa Bima di Makassar.

Permasalahan itu dilihat dari konflik yang tidak mampu diselesaikan antara organisasi desa dengan desa, kecamatan dengan kecamatan hingga organisasi tingkat perguruan tinggi.

“Hadirnya banyak lembaga kemahasiswaan Bima mulai dari lembaga kemahasiswaan desa, kecamatan, sampai kampus seakan menunjukan banyaknya perbedaan hingga banyaknya kubu mencerminkan ketidakmampuan menyatu dalam wadah yang lebih besar,” katanya, Rabu (16/1/2019).

Menurut Yusuf, persoalan tersebut  merupakan dinamika yang tidak bisa diselesaikan hingga saat ini. Persoalan itu berawal tidak berfungsinya PB HMB sejak 2007 sehingga mengakar pada junior ikatan mahasiswa.

“Seakan senior-senior alumni Makassar yang ada di Bima lepas tangan dan membuat wabah yang tidak mampu diobati. Dan itu dosa sejarah,” katanya.

Persoalan tersebut katanya, diperparah peran pemerintah daerah dalam mendukung semua kegiatan mahasiswa, baik moril maupun dukungan materi. “Bukan lagi kurang tapi sama sekali tidak ada, seakan pemda menganaktirikan semua mahasiswa Bima Makassar,” katanya.

Salah satu contoh sikap apatis Pemda sebut dia,  asrama mahasiswa Bima Makassar hinga kini tidak diperhatikn. Padahal  sudah tidak layak untuk dihuni. Pemda tidak memiliki konsep mengkader generasi muda.

“ini terjadi karena tidak adanya wadah penyatu antara mahasiswa bima makassar untuk saling membagi cerita, memperkuat ikatan kekeluargaan serta harmonisasi hubungan yang lebih baik. Regulasi yang dibuat Pemda tidak ada untuk membantu membangun kembali suara persatuan dan persaudaraan,” katanya.

Dikatakannya, Pemda Bima seakan menutup mata dan sibuk dengan jalan-jalan yang tidak mempunyai asas manfaat untuk pembangunan daerah, mulai dari infastruktur hingga suprastruktur.

Hingga kini, mahasiswa  sangat memiliki penting terhadap kemajuan daerah. Demikian halnya untuk mendatang. Untuk itu,  perlu adanya ruang yang dapat merawat para generasi penerus, karena tidak bisa kita pungkiri bahwa mahasiswa Bima Makassar yang saat ini tengah merantau akan kembali ke tanah kelahirannya mengabdikan diri di tanah kelahiran.

“Maka peran pemerintah sebagai lembaga eksekutif wajib memperhatikan generasi pemuda terkhususnya mahasiswa dalam melakukan kegiatan pendidikan formal maupun nonformal dan dinamika yang lahir pada daerah hingga dunia kemahasiswaan menjadi tanggung jawab mahasiswa Bima Makassar dalam mengawal kebijakan yang dilahirkan pemerintah yang  menguntungkan atau bahkan merugikan masyarakat,” ujarnya.

Mantan Ketua Imam-UMI Makassar periode 2017-2018, Rahmansyah Fikry mengatakan, banyaknya lembaga mahasiswa Bima Makassar mengisyaratkan perlu adanya lembaga besar yang menaungi seluruh lembaga tersebut.

“Kegelisahan inipun kami takutkan akan merambat kepada generasi yang akan datang banyaknya mahasiswa Bima di Makassar tak jarangpun banyak dinamika yang selalu menghadang,” katanya.

Menurut dia, permasalahan tersebut timbul karena tidak adanya wadah yang menghimpun mahasiswa Bima di Makassar. Pihaknya kecewa karena banyak kesenjangan terkait kebijakan pemerintah daerah Bima.

“Kamipun mendesak pemerintah daerah Bima sesekali memperhatikan keberlangsungan generasi pelanjut estafet kepemimpinan yang ada di Kota Daeng,” katanya.

Sementara itu, Ketua KMW  Ibrahim Rifait mengatakan, PB HMB  sebagai payung bagi paguyuban mahasiswa Bima di Makassar  saat ini tidak memiliki “taring” untuk bersuara di Pemerintah Kabupaten Bima.

“Saya sangat setuju ketika kita semua mahasiswa Bima Makaassar untuk mengaktifkan kembali PB HMB, melihat segala situasi Bima tidak baik-baik saja.  Kenapa kemudian saya sangat sepakat perihal ini? karena itu semua niat kita secara kolektif untuk menjadikan instrumen apapun yang menjadi segala kerisauan kita selaku mahasiswa,” katanya.

Ibrahim optimis melalui PB HMB, seluruh mahasiswa Bima Makassar dapat mengluarkan segala aspirasi  bersama.[AD]