Saat Unjuk Rasa, Orator ini Tiba-tiba Mengingatkan soal Kematian

Iklan Semua Halaman

.

Saat Unjuk Rasa, Orator ini Tiba-tiba Mengingatkan soal Kematian

Redaksi Berita11
Senin, 07 Januari 2019
Orator yang Menamakan diri Ustadz Jen Mengingatkan Pemimpin dan Aparatur Tentang Kematian. Foto RIS.


Dompu, Berita11.com— Seorang muslim tidak akan merasa takut akan kematian melainkan melihatnya sebagai kesenangan yang indah dan kematian itu adalah hari raya. Hal tersebut disampaikan pria yang disapa Ustadz Jen, saat berorasi di depan Paruga Nae Dana Nggahi Rawi Pahu Kabupaten Dompu, Senin (7/1/2019) siang.

“Ustadz Jen sudah mati setelah dilahirkan oleh Ibu kandungnya, saya tantang kepolisian, saya tantang semua penegak hukum, hukuman yang berat di atas muka bumi adalah hukuman mati dan kita manusia sudah di-SK kan mati oleh Allah SWT,” katanya di atas mimbar orasi.

Ia mengingatkan Bupati Dompu agar mempelajari kisah burung ababil melawan pasukan gajah yang ingin menghancurkan Ka’bah. Upaya penghancuran tempat suci itu gagal dengan pertolongan Allah berpihak kepada orang-orang yang benar.

“Apa pun yang salah pasti akan tenggelam, hancur berantakan dan apapun yang benar pasti dibantu sama Allah, kalau merasa diri bersalah, wahai Haji Bambang, silahkan legowo,” teriak Ustadz Jen.

Jen juga mengingatkan semua Aparatur Sipil Negara (ASN) yang bekerja di lingkup Pemkab Dompu  bahwa bangunan serta gaji diterima adalah dari tetesan keringat rakyat.

“Untuk diketahui oleh bapak-bapak aparat, ini bangunan kantor dari keringat kami orang-orang miskin dan tidak pernah dipotong gaji bapak-bapak sepersen pun oleh negara untuk dibangunkan kantor yang megah ini melainkan dari pajak kami rakyat yang tertindas,” katanya.

Ia juga mengingatkan siapa pun aparat pemerintahan, aparat hukum yang melindungi, membantu atau terlibat membela para pelanggar hukum, membela para seseorang yang zolim maka laknatullah akan turun pada orang-orang tersebut.

“Program jagung mana rakyat bahagia, mana rakyat yang sejahtera, kalau rakyat yang sejahtera, tidak mungkin kami hadir di sini dan kami mewakili mereka. Krisis pupuk, krisis bibit jagung program ini kong kali kong,” tudingnya. [RIS]