Sirtu-Cem Nakhodai AJI Mataram

Iklan Semua Halaman

.

Sirtu-Cem Nakhodai AJI Mataram

Senin, 28 Januari 2019
Ketua AJI Mataram Sirtupillaili dan Sekretaris Muhammad Kasim. 

Mataram, Berita11.com—  Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Mataram mempunyai nakhoda baru. Dalam Konferensi Kota (Konferta) IV AJI Mataram yang berlangsung di Taman Budaya NTB, Sabtu (26/1), Sirtupillaili dan Muhammad Kasim (Cem) terpilih secara aklamasi sebagai ketua dan sekretaris AJI Mataram periode 2018-2021.

Pasangan tersebut menggantikan ketua dan sekretaris AJI Mataram periode 2016-2018, Fitri Rachmawati - Sirtupillaili yang telah didemisioner setelah laporan pertanggungjawaban diterima seluruh peserta Konferta.

Proses pemilihan ketua dan sekretaris AJI Mataram berlangsung demokratis, riang gembira dan dalam nuansa kekeluargaan. Meski banyak bakal pasangan calon bermunculan, namun akhirnya mengerucut pada satu pasangan calon yakni Sirtupillaili dan Muhammad Kasim. Karena menjadi calon tunggal mereka ditetapkan sebagai ketua dan sekretaris baru AJI Mataram.

Usai terpilih, Ketua AJI Mataram Sirtupillaili mengatakan, AJI Mataram akan tetap konsisten pada tiga garis utama perjuangan AJI yakni mempertahankan kebebasan pers, meningkatkan profesionalisme jurnalis, serta berjuang meningkatkan kesejahteraan jurnalis. 

“Memperjuangkan tiga hal ini tidak mudah, butuh kerja sama dan kekompakan kita semua para jurnalis,” katanya singkat.

Konferta IV AJI Mataram diawali diskusi publik  Mengupas Indeks Kemerdekaan Pers dan Integritas Jurnalis. Hadir selaku pemateri akademisi Universitas Mataram, yang juga peneliti Indeks Kemerdekaan Pers (IKP) NTB Ahmad Sirulhaq dan Ketua Divisi Advokasi AJI Indonesia Sasmito.

Selanjutnya, para jurnalis menandatangani petisi berisi penolakan terhadap Keputusan Presiden (Keppres) 29 tahun 2018 terkait remisi (keringanan hukum) bagi I Nyoman Susrama, yang divonis bersalah oleh pengadilan sebagai otak pembunuhan AA Prabangsa, wartawan Radar Bali, Jawa Pos Grup.

Jurnalis NTB mendesak Presiden Joko Widodo mencabut remisi tersebut karena melukai rasa keadilan dan bertentangan dengan semangat perjuangan kemerdekaan pers.
Petisi ditandatangani di atas spanduk putih. Selain jurnalis, pers mahasiswa, NGO, aktivis anti korupsi, dan perwakilan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) NTB ikut meneken petisi itu. Mereka sepakat remisi terhadap pembunuh jurnalis tidak hanya melukai perasaan keluarga korban, tapi juga  jurnalis di seluruh Indonesia. [RD]