Gigitan Penular Rabies di Kabupaten Bima 25 Kasus, Disnak Butuh Anggaran Rp250 Juta

Iklan Semua Halaman

.

Gigitan Penular Rabies di Kabupaten Bima 25 Kasus, Disnak Butuh Anggaran Rp250 Juta

Redaksi Berita11
Rabu, 20 Februari 2019
Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Bima, Ir Abdollah. Foto US Berita11.com.


Bima, Berita11.com— Hingga per Rabu (20/2/2019), Dinas Peternakan (Disnak) Kabupaten Bima mendata 25 kasus gigitan hewan penular rabies (GHPR) di empat kecamatan di Kabupaten Bima yakni Kecamatan Donggo, Kecamatan Madapangga, Kecamatan Sanggar dan Kecamatan Tambora.

Jumlah sebaran kasus gigitan hewan penular rabies tersebut merupakan wilayah-wilayah yang berbatasan dengan Kabupaten Dompu.  Disnak telah melaksanakan vaksin anti rabies terhadap 23 orang.

Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Bima, Ir Abdollah mengatakan, dari 19 sampel awal yang dikirim Disnak ke laboratorium di Bali seluruhnya dinyatakan negatif rabies. Akan tetapi terdapat delapan sambel yang belum dikirim dan belum diketahui hasilnya.

Untuk Kecamatan Tambora itu masih menunggu hasil lab. Mereka (petugas lapangan) baru pulang kemarin malam,” ujar Abdullah usai peresmian LTSA Kabupaten Bima.

Mantan Kepala BP4K Kabupaten Bima ini mengatakan, Dinas Peternakan Kabupaten Bima telah melaksanakan eliminasi terhadap 96 ekor anjing di empat kecamatan tersebut. Adapun jumlah anjing yang menggigit manusia sebanyak 18 ekor.

Abdollah menyebut sebaran kasus GHPR di Kabupaten Bima terdapat di empat kecamatan yaitu di 14 desa yaitu di Desa Kala (1 kasus), O’o (1 kasus) Kala (1 kasus), Kala 2 (3 kasus), Doridungga (1 kasus), Mbawa (1 kasus), Mpuri (1 kasus), Woro (2 kasus), Ndano (1 kasus), Taloko (1 kasus), Kore (5 kasus), Boro (3 kasus), Sandue (2 kasus), Tumpu (1 kasus) dan Mbawa 2 (1 kasus).

Abdollah mengungkapkan, persoalan utama penanganan rabies di Kabupaten Bima yaitu masalah anggaran yang tidak tersedia. Karena kasus rabies muncul tiba-tiba setelah adanya kejadian luar biasa (KLB) di Kabupaten Dompu. Sehingga Disnak harus menunggu APBD Perubahan.

Kendati demikian, untuk upaya vaksinasi, pihaknya mengandalkan bantuan obat dari Pemerintah Provinsi NTB dan Kabupaten Dompu. Hanya saja persediaan obat tersebut terbatas sehingga jika ada warga yang digigit anjing langsung dibawa ke Kabupaten Dompu.

“Jadi setiap ada gigitan tidak boleh dibiarkan misalnya diusap dengan tanah, tapi harus langsung dicuci dengan sabun. Tidak boleh dibiarkan, tapi harus ditangani. Masalah kasus rabies di Dompu juga karena korban tidak langsung ditangani secara tepat,” katanya. [US]