Jalan Terjal Hairudin sebelum jadi Pejabat

Iklan Semua Halaman

.

Jalan Terjal Hairudin sebelum jadi Pejabat

Redaksi Berita11
Minggu, 24 Februari 2019
H Hairudin (Berkacamatan di Tengah) saat Bertugas di Lapangan. Berdiskusi untuk Mengetahui Simpul-simpul Masalah di Lapangan. Saat ini Aktivitasnya Menjelang Pensiun Terbagi Dua yaitu di Dinas Perkim dan PDAM Bima. Foto Ist.


Buih-buih ombak menari bersama biduk kayu siang itu. Beberapa terpaannya menggelegar kemudian hilang bersama laju angin.  Dari kejauhan, sang Camar melayang-layang di udara dan sesekali menjulurkan paruhnya ke dalam laut. Siang itu, biduk seukuran  2x10 meter itu membawa beberapa pria dan wanita membelah Teluk Bima menuju Sanggar setelah menarik jangkar di Pelabuhan Bima.

Di tengah kapal kecil itu, seorang pria masih asyik duduk termenung. Ia masih belum percaya setelah dua kali  mengikuti seleksi Pegawai Negeri Sipil (PNS) hingga akhirnya dinyatakan lulus, namun tak pernah dia mendapatkan Surat Keputusan (SK) pengangkatan. Beberapa instansi pun ia coba lamar hingga akhirnya dinyatakan lalus. Hari-hari getir harus ia lalui setelah tak mampu menunggu SK sebagai tenaga lapangan Pertanian di Mataram.

Setahun kemudian ia memutuskan kembali ke Bima dan melamar pekerjaan hingga ditugaskan sebagai tenaga Pertanian di Sanggar Kabupaten Bima. Jika saja ia hobi menggambar konstruksi bangunan dan beberapa detilnya, mungkin ia tak akan menyesal memutuskan keluar dari Departemen Teknik Arsitektur dan Perencanaan Universitas Gajah Mada (UGM) Jogjakarta.

Apa lacur, keputusan itu sudah dia ambil setelah menempuh kuliah dua semester di UGM. Dari bangku STM ia memang sudah senang dengan Teknik Sipil, meskipun  dengan Departemen Teknik Arsitektur setali tiga uang. Orang tuanya sudah mendukungnya untuk kembali ke NTB untuk mengikuti tes PNS.

Kisah perjalanan hidupnya yang lebih dari 30 tahun lalu itu masih melekat dalam ingatan pria kelahiran 10 Maret 1959 yang segera memasuki masa purna tugas ini. Sesekali ia menyeruput kopi sambil tangan kanannya menghisap sebatang rokok.

Selalu Akrab dengan Siapapun Termasuk Wartawan, Aktivis, Para Pegawai dan Orang-orang Susah.

30 tahun lalu sebelum menjadi PNS, H Hairudin ST MT masih mengingat betul masa-masa sulit dalam hidupnya ketika meniti karir di instansi pemerintah sebelum menjadi PNS. Setelah pindah dari Mataram ke Bima dan memutuskan tak melanjutkan kuliah di Departemen Teknik Arsitektur UGM, ia mengabdi sebagai pegawai pertanian di Sanggar.

“Paling saya ingat itu saat berangkat ke Sanggar naik kapal. Terus saat pulang ke Bima (ibukota) kadang jalan kaki sebelum dapat bus lama waktu itu. Sebelum nyampai Paruga Santai Cabang Banggo, ada cerita orang-orang tua dulu kita harus melewati daerah angker di sekitar sana dan disarankan bawa kayu bercabang. Tapi alhamdulillah nggak pernah ketemu dengan hal begitu,” cerita Hairudin siang itu.

Meskipun tak sampai bertugas hingga bertahun-tahun di Sanggar, Hairudin bersyukur dapat mengikuti seleksi pegawai non-PNS di Balai Pengawasan Jalan Dinas Pekerjaan Umum yang berkantor di Raba.

“Saya heran sampai tiga kali saya ikut tes pegawai negeri sipil dinyatakan lulus tapi tidak pernah terima SK,” ceritanya.

Rupanya sifat sabar sudah lama ditanamkan orang tua H Hairudin menjadi kebiasaannya sejak muda. Hal itu juga yang membuatnya bersabar melakoni pekerjaan lapangan sebagai bagian pengawas jalan.

“Saat kerja tenaga lapangan di pengawas jalan saya sempat tidak akur dengan teman-teman di lapangan. Sampai pernah saya bawa sepeda motor bawa lari hingga ruang kantor,” ceritanya.

Hari-hari menjadi pegawai non-PNS Dinas PU semakin membuat Hairudin kala itu bertanya-tanya mengapa ia tak kunjung pernah memperoleh SK pengangkatan sebagai PNS. Padahal pegawai lain yang berasal dari luar daerah justru langsung mendapatkan SK pengangkatan sebagai PNS. Hal itu kemudian berkecamuk dalam hatinya hingga ia pun berani melayangkan pertanyaan untuk Bupati Bima  kala itu, H Umar Harun.

Pemimpin daerah yang berasal dari latar belakang institusi militer tak membuat nyali Hairudin kala itu menciut untuk menanyakan perihal SK untuk dirinya yang tak kunjung keluar. “Setelah itu sampai akhirnya saya dipanggil oleh bupati saat itu. Saya diberikan sebuah nota yang harus saya kasi kepada orang (pejabat BKD saat itu),” cerita Hairudin.

Dengan bekal nota itu, pada hari yang sama diperintahkan harus berangkat ke Jakarta. Padahal ketika itu di kantongnya tanpa uang sepeser pun. 

“Setelah saya hubungi orang bandara, ternyata semua ditanggung untuk saya SPPD bupati saat itu. Hari itu juga saya berangkat naik pesawat menuju Mataram. Kemudian lanjut ke Jakarta,” katanya.

Tanpa modal di dalam kantung, akhirnya Hairudin tiba di Jakarta tepatnya di Badan Kepegawaian Negara (BKN). “Pada hari itu orang di sana langsung nanya yang dari Bima? kemudian saya ditanya ada bawa ijazah-ijazah. Padahal hari itu saya hanya dengan modal pakaian yang melekat di badan saja. Kalau saya ingat foto pertama dalam SK pengangkatan, saya jadi terharu,” ujarnya.

Setelah resmi diangkat menjadi PNS saat tahun 1989, Hairudin kembali menekuni aktivitasnya sebagai pegawai instansi pemerintah. Tugas-tugas pertama dia, pernah menjadi tukang pembuat amplop di Dinas Pekerjaan Umum, hingga akhirnya beberapa tahun kemudian mendapat kepercayaan untuk tugas belajar, kuliah S1 Teknik Sipil di Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang Jawa Tengah.

Masa-masa kuliah S1 ditempuh  Hairudin selama tiga setengah tahun. selama kuliah ia juga aktif berorganisasi. Bahkan sering lantang berbicara di depan forum termasuk ketika berhadapan dengan Rektor UNDIP kala itu Prof Dr H Muladi SH yang juga mantan Gubernur Lemhanas.

Keberanian Hairudin untuk tampil dan berbicara dalam forum-forum membuat mahasiswa UNDIP dari daerah lain kagum. Kemudian merapat dan selalu mengajaknya berdiskusi. Salah satu organisasi yang  pernah dia ikut aktif adalah kelompok organisasi dari Partai Rakyat Demokratik (PRD)/ LMND.

Sepulang dari tugas belajar dan beberapa tahun setelah menjadi PNS dan mengikuti seleksi Diklat PIM, Hairudin pertama kali diangkat Kasubag di Dinas Pekerjaan Umum. Beberapa tahun kemudian ia menduduki beberapa jabatan lain, kemudian mendapatkan kepercayaan untuk melanjutkan tugas belajar S2 di kampus yang sama yaitu UNDIP Semarang.

“Saat itu Kepala Dinas Pekerjaan Umum Pak Rum (mantan Sekda Kota Bima). Sempat ada protes saat itu, sampai akhirnya saya tetap lanjut S2,” ceritanya.

Setelah menyelesaikan Program Studi S2, Hairudin dan sejumlah pejabat lain sempat non-job ketika masa kepemimpinan mantan Bupati Bima, Drs H Zainul Arifin. Namun tak lama, beberapa tahun kemudian setelah proses mekar Kabupaten Bima dengan tambahan daerah baru yakni Kota Bima, ia dipercaya menempati sejumlah jabatan strategis.

Ketika masa kepemimpinan mantan Bupati Bima, almarhum H Fery Zulkarnain ST, H. Hairudin ST MT menempati posisi Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Bima. Posisinya itu bertahan meskipun terjadi pergantian posisi kepala daerah ke Wakil Bupati Bima H Syafruddin M Noer saat itu yang naik menggantikan almarhum H Fery Zulkarnain. Bahkan posisi jabatan H Hairudin bertahan hingga kepala daerah saat ini, Hj Indah Dhamayanti Putri, istri mendiang Bupati Bima dulu.

Selama duduk sebagai Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Bima, H Hairudin ST MT berupaya menghadirkan dan melobi anggaran pusat, menghadirkan beberapa proyek energi seperti PLTS di Maria Wawo, PLTMH di Kecamatan Tambora, pembangkit bio energi di Kecamatan Woha. 

Sayang, meskipun sukses membangun di sektor energi, haja saja kala itu, upaya-upaya pemerintah daerah menggandeng investor tambang untuk investasi di Kabupaten Bima dihadang gelombang demontrasi mahasiswa dan masyarakat.

Setelah perubahan nomenklatur atau penambahan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) baru, H Hairudin diangkat sebagai Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman (Perkim) Kabupaten Bima pada awal-awal kepemimpinan Bupati Bima, Hj Indah Dhamayanti Putri dan Wakil Bupati Bima, Drs H Dahlan M Noer.

Kini memasuki usia senja, pria asli Tente Kecamatan Woha ini diberikan kepercayaan oleh Bupati Bima untuk mengurus perusahaan daerah air minum (PDAM) Bima yang sudah lama di ambang bubar dan bangkrut.

“Permasalahan PDAM ini sangat kompleks. Masalah yang sudah lama, mulai dari masalah operasional, masalah piutang yang mungkin sangat sulit diselesaikan,” katanya.

Bagi pria yang sebentar lagi genap 60 tahun ini, jabatannya sebagai Direktur PDAM adalah ladang amal baginya. Target utamanya, suksesnya sistem penyedia air minum di Kabupaten Bima dan Kota Bima.

Menurutnya, persoalan PDAM Bima adalah masalah serius bahkan lebih akut dari daripada masalah BUMN. Namun ia optimis dapat menyelesaikannya, meskipun kadang butuh waktu.

Selain Sukses Berkarir di Birokrasi, H Hairudin juga Sukses Membangun Keluargnya.

Beberapa permasalahan yang dihadapi PDAM Bima yaitu masalah gaji karyawan, pembengkakan penggunaan energi untuk kebutuhan operasional seperti listrik. Masalah jaringan air yang sudah lama tersumbat dan terganggu oleh proyek instansi lain. Selan itu, penggunaan air PDAM di luar meteran sehingga membuat PDAM rugi.

Sejumlah karya Hairudin untuk Kabupaten Bima menjelang masa purna tugasnya yaitu bangunan Taman Kalaki di Desa Panda, Masjid Agung Bima yang masih dalam tahap garapan dan persiapan anggaran. Pembangunan musala Dinas Perkim.

Hairudin juga tercatat sebagai pejabat eselon II yang menginisiasi agar OPD-OPD di Kabupaten Bima pindah ke kompleks insntasi dan kantor Bupati Bima di Godo Desa Dadibou Kecamatan Woha. [US]