Mau Kenali Ibukota Kabupaten Bima? Catat, ini Nama-nama Jalan yang Ditetapkan Bupati

Iklan Semua Halaman

.

Mau Kenali Ibukota Kabupaten Bima? Catat, ini Nama-nama Jalan yang Ditetapkan Bupati

Redaksi Berita11
Kamis, 28 Februari 2019
Ruas Jalan di Depan Bandara Sultan Muhammad Salahuddin Bima. Foto Berita11.com.


Bima, Berita11.com— Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bima melalui SK Bupati Bima Nomor 188.45/290/03.7 Tahun 2019 tanggal 18 Februari 2019 menetapkan 11 nama jalan di sejumlah ruas di ibukota Kabupaten Bima.

Sebelas nama jalan tersebut terdiri dari 3 ruas jalan negara, 1 ruas jalan provinsi dan 7 ruas jalan kabupaten.

Penetapan pemberian nama jalan tersebut dilakukan oleh tim dari Dinas PUPR, Dinas Perhubungan, Bagian Hukum serta Bagian OPA Setda Kabupaten Bima.

“Tim penetapan nama jalan telah berkoordinasi dengan Dinas PU Provinsi dan Unit Pemeliharan Jalan Negara( PJN). Hasil kerja tim kemudian ditetapkan dengan SK Bupati Bima Nomor 188.45/290/03.7 Tahun 2019 tanggal 18 Februari 2019,” ujar Kasubag Ketataklaksanaan dan Kinerja Bagian OPA Setda Kabupaten Bima, Ruslan, S.Sos melalui siaran pers Pemkab Bima, Rabu (27/2/2019).

Ruslan menyebut, tiga ruas  jalan negara yang ditetapkan namanya adalah Ruas Batas Kota Bima menuju Cabang Talabiu sepanjang 22 kilometer (Km),  Jalan Sultan Muhammad Salahuddin.  Ruas jalan negara dari perbatasan Woha hingga Bolo termasuk di depan kantor Bupati Bima hingga Cabang Talabiu sepanjang 7.8 Km Jalan Soekarno-Hatta.

“Khusus Kantor Bupati Bima adalah Jalan Soekarno-Hatta No 01 Woha Bima, sedangkan  alamat kantor-kantor di kompleks Kantor Bupati Bima adalah Jalan Soekarno-Hatta Kompleks Kantor Bupati Bima,” ujarnya.

Ruas jalan Negara di jalan baru Panda hingga Cabang Kalaki sepanjang 2,5 Km bernama Jalan Syekh Abdul Gani Bima. Ruas jalan provinsi dari Cabang Talabiu hingga Jembatan Tente sepanjang 3.67 Km yang telah diberi nama melalui SK Gubernur NTB dengan nama Jalan Buya Hamka. Nama ruas jalan tersebut ditetapkan kembali oleh Bupati Bima dengan nama Jalan Buya Hamka.

Tujuh jalan kabupaten yang berada di sekitar Ibukota Kabupaten Bima adalah Ruas Jalan Tente  hingga Godo dari jembatan Tente menuju Cabang Godo sepanjang 4.82 km diberi nama Jalan Jenderal Sudirman.

Sementara itu, ruas jalan Talabiu- Dore sepanjang 3.02 Km diberi nama Jalan Sultan Ferry Zulkarnain, sedangkan ruas jalan Simpang Belo hingga Nata mulai dari Cabang Uma Me'e hingga Gapura Desa Nata sepanjang 6.77 Km diberi nama Jalan Syekh Subuh.

“Ruas Jalan Nata hingga Cenggu dari gapura Gesa Nata hingga Desa Cenggu sepanjang  9.29 diberi nama Jalan TGH Abdurrahman Idris,” ujarnya.

Ruas Jalan Teke hingga Ntonggu dari batas Desa Teke menuju Desa Ntonggu sepanjang 5.28 Km diberi nama Jalan Sultan Abdul Hamid.  Sementara, ruas Jalan Tente hingga Ncera dari Jembatan Tente menuju Ncera sepanjang 10.9 Km diberi nama Jalan Sultan Alauddin.

“Ruas jalan Panda- Palibelo (Doro Belo) dari Polres Bima di Panda hingga cabang tiga arah Bandara Sultan Muhammad Salahuddin sepanjang 2.86 Km diberi nama Jalan Sultan Abdul Kahir,” katanya.

Dikatakannya, SK penetapan nama jalan akan disebarluaskan kepada lembaga pemerintah hingga ke pemerintah pusat,  lembaga nonpemerintah, unsur Forkompida, BUMN dan BUMD, pemerintah kecamatan dan desa, organisasi Sosial kemasyarakatan, organisasi politik, sekolah dan kampus, kalangan media massa dan elemen masyarakat lainnya agar diketahui secara luas.

Daftar Tokoh Lokal yang Diabadikan sebagai Nama Jalan di kabupaten Bima

Bupati Bima Hj.Indah Dhamayanti Puteri telah menetapkan pemberian nama terhadap 11 ruas jalan di kabupaten Bima. Dari 11 ruas jalan itu ada 8 tokoh lokal yang diabadikan namanya yaitu :

1.Sultan Abdul Kahir

Adalah pendiri kesultanan Bima dan Sultan Bima pertama.meninggal pada tanggal 22 Desember 1640, makamnya di Dana Taraha.

2.Sultan Alauddin

Adalah Sultan ke-6 Bima memerintah 1731-1742. Jasanya cukup besar bagi dakwah islam terutama di wilayah Manggarai dan sekitarnya. Meninggal di Dompu sehingga dijuluki Manuru Daha.

3. Sultan Abdul Hamid

Adalah sultan ke-9 Bima memerintah pada tahun 1773-1819.  Abdul Hamid adalah sultan terlama memimpin selama lebih dari 40 tahun. Mahkota kerajaan, lambang kerajaan Garuda Berkepala Dua adalah karya Abdul Hamid. Korespondensinya dengan Rafless membuka pengetahuan dunia tentang letusan dahsyat Tambora pada tahun 1815.

4.Sultan Muhammad Salahuddin

Lahir 1889, menjadi Sultan Bima pada 1915-1951. Salahuddin adalah sultan yang ke-14 dan menjadi Sultan terakhir ketika Kerajaan Bima bergabung dengan NKRI.

Jasa-jasanya cukup besar di dunia pendidikan,agama, ilmu pengetahuan, organisasi sosial dan politik di zaman pergerakan kemerdekaan RI. Maklumat 22 November 1945 yang menyatakan bahwa Kerajaan Bima adalah suatu daerah istimewa yang berdiri di belakang Republik Indonesia menjadi bukti jiwa nasionalisnya, sehingga 10 tahun terakhir Sultan yang dijuluki Ma Kakidi Agama.  

Nama Sultan Muhammad Salahuddin Bima diusulkan menjadi Pahlawan Nasional. Masyarakat Bima berdoa semoga tahun 2019 ditetapkan pemerintah sebagai Pahlawan Nasional.

5.Syekh Subuh

Adalah imam kesultanan Bima pada masa pemerintahan Sultan Alauddin (1731-1742).Karya besarnya adalah Mushaf Alquran La Lino yang saat ini menjadi koleksi Museum Baitul Quran Taman Mini Indonesia Indah.

6.Syekh Abdul Gani Bima atau Abdul Gani Al Bimawi

Adalah putera dari Syekh Subuh yang pernah menjadi Imam di Masjidil Haram pada abad ke-19 M.

7.TGH  Abdurrahman Idris

Lahir di Tente pada tahun 1910. Berangkat Sekolah ke Makkah pada tahun 1927 dan menjadi guru di Darul Ulum Addawiyah Makkah. Ketika pulang Ke Bima pada tahun 1941. Sultan Muhammad Salahuddin mengangkatnya menjadi Imam Kesultanan Bima merangkap menjadi Ketua Badan Hukum Sara hingga tahun 1951. Putera beliau adalah H.Abdurrahim Haris (Ketua MUI Kabupaten Bima) dan peneliti LIPI Syamsuddin Haris.

8.Sultan Ferry Zulkarnain

Adalah Sultan ke-16 Bima. Bupati Bima periode 2005 -2013. Lahir 1 Oktober 1964. Wafat 
pada 23 Desember 2013.


Nama Jalan dan Sarana Umum akan Ditulis dengan Aksara Bima

Nama jalan dan sarana umum di wilayah Kabupaten Bima akan ditulis dengan Aksara Bima. hal tersebut sesuai Peraturan Bupati Bima Nomor 03 Tahun 2019 Tentang Pedoman Pemberian Nama Jalan dan Fasilitas Umum di Wilayah Kabupaten Bima.

Selain itu, dasar hukumnya, Surat Keputusan Bupati Bima Nomor 188.45/290/03.7 Tahun 2019 Tentang penetapab nama-nama jalan di wilayah ibukota Kabupaten dan sekitarnya yang menginstruksikan penulisan nama jalan dan sarana umum dengan menggunakan huruf latin dan aksara Bima.

“Pasal 8 ayat 3 Perbub tersebut menyebutkan bahwa selain menggunakan huruf latin, nama jalan dan sarana umun dapat ditambahkan dengan menggunakan huruf aksara Bima,” sebut Kasubag Ketataklaksanaan dan Kinerja Bagian OPA Setda Kabupaten Bima, Ruslan, S.Sos.

Ruslan menjelaskan, pasal 9 Perbub tersebut menyebut bahwa pembuatan dan pemasangan serta pemeliharaan papan/plat nama menjadi kewenangan Pemerinrtah Daerah melalui Dinas Tehnis.

Pada ayat 3 menyebut pembuatan dan pemasangan serta pemeliharaan papan atau plat nama yang berada di lingkungan kompleks perumahan dibiayai oleh pengemban selama fasilitas jalan itu belum diserahkan kepada pemerintah daerah.  [AN]