Personel dan Peralatan Polairud Polres Dompu Masih Sangat Terbatas

Iklan Semua Halaman

.

Personel dan Peralatan Polairud Polres Dompu Masih Sangat Terbatas

Abank poris
Senin, 25 Februari 2019
Kepala Satuan Pol Airud IPTU H. Sudarman, S.Sos. saat memberikan keterangan pers. Foto Ris

Dompu, Berita11.com - Personel Satuan Polisi Perairan dan Udara (Polairud) khusus di Daerah Kabupaten Dompu Provinsi NTB masih terbilang sangat terbatas atau kurang. Selain personel, peralatan dalam penindakan di tengah laut seperti speed boat juga masih minim.

Hal ini diakui Kepala Satuan Pol Airud IPTU H. Sudarman, S.Sos, di ruang kerjanya di Markas Komando Kepolisian Resor Dompu, Senin (25/2/2019) siang sekira pukul 11.30 Wita.

Dikatakan Sudarman, Polairud kini masih diperkuat dengan tujuh orang personel yang ditempatkan di lokasi wilayah perairan Calabai Kecamatan Pekat. Ketika ada kejadian di luar kecamatan tersebut sangat sulit untuk mendapatkan informasi.

"Seperti kejadian kejadian di perairan Hu'u sana kemarin, personel kami sangat terbatas, jadi untuk memantau itu kami sangat kesulitan apalagi kami pos di Calabai, jarak dari Calabai ke Kecamatan Hu'u itu sangat jauh," ujar Sudarman.

Luasnya wilayah perairan di seluruh wilayah Kabupaten Dompu, lanjut Sudarman, jika dibandingkan dengan jumlah personel tersebut bisa dikatakan tidak sebanding. Apalagi menindaklanjuti kejadian mendadak sangat sulit mendapat informasi lebih awal.

"Kita belum bisa berbuat banyak karena minim peralatan, apalagi untuk melakukan penindakan yang jaraknya jauh terutama terkait informasi. Itulah yang menjadi kendala kita. Tetapi, sekarang ditiap tiap pesisir daerah yang jauh, kami sudah pasang informen yang bisa kita percaya jadi ketika ada kejadian kita langsung diinformasikan," beber dia.

Khusus wilayah Kabupaten Dompu, Sudarman menjelaskan sesuai Standar Penempatan Personil (SPP) yang pernah diajukan ke Polda NTB membutuhkan anggota personel lebih dari itu. Agar disetiap bagian yang masih kosong seperti Kanit dan Kaur nya akan terisi.

"Idealnya di SPP nya itu 32 personel. Anggota saya rata rata Brigadir jadi tidak ada yang bisa menduduki sebagai Kanit, sementara saya masih kekurangan Kasubdin Bin Ops (KBO), Kanit Patroli, Kanit Gakkum, Kanit harkan kapal, dan Kanit Urmintu," jelas Kasat Polairud.

Sebelumnya, pihaknya mempunyai rencana untuk membangun pos di tiap tiap desa agar setiap kejadian darurat dialami warga ditengah laut atau dalam hal pengamanan situasi dan kondisi cepat ditindak lanjuti.

"Dari awal saya sudah punya rencana, makanya setiap ke desa desa, saya memohon kepada pihak kepala desa supaya kami bisa dihibahkan tanah di pinggir pantai supaya kami bisa membuat pos, sehingga pos itu nanti akan terisi, kalau sudah ada pos pasti anggota akan stand bay di situ," harapnya.

Hal yang cukup krusial kerap terjadi di tengah laut sering dijumpai adalah pemboman ikan selain itu nelayan yang dari luar masuk melewati perbatasan. Apalagi di bagian wilayah selatan, menurut dia, di sana masih kurang sarana dan prasarana.

"Ilegal fishing antara lain pengeboman ikan dengan menggunakan handak bom ikan, potasium atau zat kimia sejenis lainnya. penangkapan ikan  tanpa mengantongi  surat ijin, dan penggunaaan alat tangkap yang tidak sesuai dengan Undang-undang perikanan yang berlaku, ilegal logging, dan illegal maining," tandasnya. [RIS]