Ketinggian Banjir di Sekitar Lapangan Desa Kore Capai Perut, Puluhan Hektar Tanaman Padi Rusak

Iklan Semua Halaman

.

Ketinggian Banjir di Sekitar Lapangan Desa Kore Capai Perut, Puluhan Hektar Tanaman Padi Rusak

Kamis, 28 Maret 2019
Genangan Banjir yang Merendam Tanaman Petani di Kabupaten Bima. Foto Berita11.com.


Bima, Berita11.com— Luapan banjir menggenangi pemukiman warga Desa Kore Kecamatan Sanggar Kabupaten Bima dan sejumlah desa sekitar setelah hujan deras mengguyur wilayah setempat Rabu (27/3/2019). Bahkan ketinggian banjir di sekitar Lapangan Desa Kore mencapai perut orang dewasa.

Pada bagian lain, luapan banjir juga menyeret dua kendaraan milik warga di Desa Piong Kecamatan Sanggar yang berjarak beberapa kilometer dari Desa Kore.

Warga Desa Kore Kecamatan Sanggar, Abdurrahman yang dihubungi Berita11.com, Kamis (28/3/2019) malam, menceritakan, selain merendam pemukiman warga, luapan banjir di desa setempat juga merusak puluhan hektar tanaman padi milik warga yang siap dipanen.

“Kalau banjir hari Rabu kemarin besar, sampai perut kalau ketinggiannya yang di sekitar Lapangan Kore,” ujar Abdurrahman.

Dikatakannya, luapan banjir sudah menjadi teman warga Desa Kore dan sekitarnya setiap tahun saat musim hujan. Genangnan banjir setinggi lutut hingga perut merupakan hal biasa. Apalagi material lumpur yang menggenangi pekarangan rumah.

“Kalau dibilang kuatir ndak juga, karena di sini sudah terbiasa dengan banjir. Setiap tahun memang begitu,” katanya.

Alumnus perguruan tinggi di Kota Mataram ini mengaku, akibat terjangan banjir Rabu lalu, dua are tanaman padi siap panen miliknya rusak diterjang banjir. Hal demikian juga dialami para petani lain. Totalnya diperkirakan puluhan hektar tanaman padi yang rusak diterjang banjir.

“Kalau di Desa Kore dan Desa Boro banjir sampai paha itu sudah biasa kita di sini. Sudah tidak kaget lagi. Tidak ada warga yang sampai mengungsi,” katanya.

Abdurrahman berharap pemerintah daerah memerhatikan nasib korban banjir di Kecamatan Sanggar, walaupun sudah ada bantuan tanggap darurat yang sudah disalurkan pemerintah pada hari pertama banjir tanggal 16 Maret 2019 lalu.

Menurutnya, kondisi jembatan darurat di Desa Piong yang menghubungkan dengan sejumlah desa lain belum bisa dilalui kendaraan bertonase besar khususnya mobil. “Baru sepeda motor saja yang bisa melintasinya. Kalau mobil itu harus lewat bawah di sungai langsung. Jadi kalau saat hujan itu tidak bisa lewat,” katanya.

Kemarin, kondisi jembatan penghubung di Desa Piong Kecamatan Sanggar telah disurvei oleh petugas Dinas Pekerjaan Umum Provinsi NTB. 

"Hal yang membuat tenang warga di sini, genangan banjir itu tidak lama karena kondisi desa di sini yang dekat dengan laut," ujar Rahman. [US]