Najamuddin: Perekrutan Siswa dengan Sistem Zonasi Memiliki Plus Minus

Iklan Semua Halaman

.

Najamuddin: Perekrutan Siswa dengan Sistem Zonasi Memiliki Plus Minus

Sabtu, 23 Maret 2019
Kepala SMAN 1 Woha, Najamuddin S.Pd. Foto Hamid.


Bima, Berita11.com  Sistem penerimaan peserta didik baru (PPDB) menggunakan pola zonasi yang diterapkan Pemerintah Provinsi NTB melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) memiliki plus dan minus. Hal itu juga dirasakan Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Woha.

Menurut Kepala SMAN 1 Woha, Najamuddin S.Pd, sistem zonasi tanpa tes masuk memiliki kekurangan masuknya siswa tak bermutu di sekolah. Padahal sekolah memiliki target terutama menghadirkan keunggulan mutu pendidikan.

“Sistem zonasi itu memiliki kekurangan. Itu kelemahannya zonasi itu, jadi sampah-sampah ikut masuk,” ujar Najamuddin di SMAN 1 Woha, kemarin.

Dikatakannya, memang ada nilai plus penerapan sistem zonasi oleh Pemrov NTB yaitu meratanya kualitas pendidikan sehingga tidak ada perbedaan setiap sekolah. “Tidak ada standar nilai karena di zonasi siswa wajib masuk sekolah di dekat rumahnya. Lalu yang ingin dicapai pihak Pemerintah Provinsi melaui Dikbud, tidak ada sekolah terpinggirkan,” katanya.

Diakuinya, sistem zonasi memang masih memungkinkan siswa di luar lokasi sekitar sekolah untuk diterima. Akan tetapi harus memenuhi syarat yang telah ditetapkan di antaranya minimal juara 3 kategori lomba tingkat kabupaten.

“Kalau yang di luar zonasi, itu mendaftar dengan melampirkan Kartu Keluarga. Kalau KK di luar zonasi, maka ditolak oleh server pendaftaran di Mataram. Kita hanya mengawasi saja. Kalau mereka memenuhi syarat, memiliki sertifikat minimal juara 3 lomba tingkat kabupaten boleh masuk yang dari luar zonasi. Kemudian di zonasi itu ada persentase juga yang pra sejahtera sekian persen, jadi ketika mereka sudah masuk, sudah pasti tidak membayar sekolah, terdaftar,” jelas Najamuddin. [AD]