51,2 Hektar Padi Siap Panen di Kabupaten Bima Alami Puso

Iklan Semua Halaman

.

51,2 Hektar Padi Siap Panen di Kabupaten Bima Alami Puso

Selasa, 02 April 2019
Kondisi Padi Milik Petani di Kecamatan Sanggar yang Mengalami Puso Setelah Direndam Banjir Bandang Maret lalu.

Bima, Berita11.com— Luapan banjir bandang dua pekan terakhir pada Maret 2019 lalu ternyata berdampak besar terhadap petani khususnya di Kecamatan Sanggar dan Kecamatan Monta Kabupaten Bima. Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Bima mencatat dari 935 hektar tanaman padi di dua wilayah tersebut yang direndam luapan banjir, 51,2 hektar dipastikan mengalami kerusakan atau gagal panen (puso).

Kepala Bidang Rehabilitasi, Pengembangan Lahan dan Perlindungan Tanaman Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Bima, Ir Beny Akbar menyebutkan, kerusakan tanaman padi akibat genangan banjir bandang Maret lalu terparah terjadi di Kecamatan Sanggar. Tercatat 44,20 hektar tanaman padi siap panen milik petani di wilayah setempat mengalami kerusakan atau fuso.

“Hasil pengamatan dan pendataan awal yang direndam di Kecamatan Sanggar 910 hektar, namun yang sudah dipastikan puso atau tidak dapat dipanen karena mengalami kerusakan itu sebanyak 44,20 hektar setelah dilakukan pemantauan selama satu minggu,” ujarnya di Distambun Kabupaten Bima, Rabu (2/4/2019).

Beny menyebutkan, selain di Kecamatan Sanggar, sesuai laporan yang disampaikan Balai Penyuluhan Pertanian dan Unit Penunjang Pertanian dan Perkebunan di Kecamatan Monta, jumlah padi siap panen yang mengalami kerusakan atau puso di wilayah setempat sebanyak 7 hektar, yaitu di Desa Nonto Ntera.

“Dari data awal yang terendam 25 hektar, setelah dilakukan pemantauan selama seminggu itu yang mengalami kerusakan tidak dapat dipanen tujuh hektar,” ujarnya.

Beny memastikan kondisi padi di sejumlah desa di Kecamatan Palibelo Kabupaten Bima tidak mengalami kerusakan atau gagal panen kendati sempat direndam oleh banjir. 

“Memang sempat direndam banjir tapi kondisinya tidak sampai rebah. Padinya masih bisa dipanen,” ujarnya.


Ditambahkannya, pasca menerima laporan terkait kerusakan tanaman padi tersebut, Distambun akan melanjutkan kepada Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB serta pemerintah pusat. [US]