Harga Beras Mahal di Daerah Lumbung Pangan, ini Kata Distambun Kabupaten Bima

Iklan Semua Halaman

.

Harga Beras Mahal di Daerah Lumbung Pangan, ini Kata Distambun Kabupaten Bima

Rabu, 03 April 2019
Ilustrasi.


Bima, Berita11.com— Lima bulan terakhir harga beras di Kabupaten Bima mencapai Rp11 ribu per kilogram. Bahkan di sejumlah desa ada yang menjual Rp12 ribu per kilogram. Kondisi tersebut diakui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Bima.

Kepala Bidang Perdagangan Disperindag Kabupaten Bima, Ikhsan menyebutkan, sudah lima bulan harga beras di Kabupaten Bima mencapai Rp11 ribu per kilogram. “Sudah empat sampai lima bulan ini memang harga beras mahal capai 11 ribu,” katanya.

Terkait harga beras ada yang dijual hingga Rp12 ribu di sejumlah kampung, Ikhsan menjelaskan, pemerintah tak bisa mengintervensi mekanisme pasar. Kendati pemerintah menetapkan harga pembelian pemerintah (HPP) maupun dapat melaksanakan operasi pasar untuk menstabilkan harga beras.

“Harga beras ini naik juga karena banyak petani padi yang beralih membuka lahan dan menanam jagung sehingga harganya memang mahal untuk 4-5 bulan terakhir ini,” ujarnya di Disperindag Kabupaten Bima, Selasa (2/4/2019).

Diakuinya, Disperindag belum menyiapkan operasi pasar untuk menekan sejumlah Sembako dan barang strategis yang merangkak naik menjelang bulan Ramadan. Disperindag optimistis, harga beras akan kembali normal jika petani sudah memasuki musim panen.

“Setelah panen nanti baru normal. Kalau harga beras yang sampai 12 ribu memang sulit kita pungkiri dari tangan kesatu, tangan kedua itu berubah harganya,” ujarnya.

Sementara itu, Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Bima belum mengisyaratkan akan melaksanakan operasi pasar terkait mahalnya harga beras yang sudah berlangsung lima bulan terakhir. Berdasarkan data dinas setempat, persediaan stok beras pemerintah di gudang 11,38 ton. Sebelumnya Pemkab Bima telah menyalurkan beras cadangan untuk korban banjir Sanggar 5 ton, untuk korban bencana putih beliung di Kecamatan Donggo sebanyak 500 kilogram dan untuk korban kebakaran di Desa Renda Kecamatan Belo 1,8 ton. DKP memiliki rencana pengadaan tambahan beras cadangan pada tahun 2019 ini sebanyak 20 ton.

Secara terpisah, Kepala Bidang Rehabilitasi, Pengembangan Lahan dan Perlindungan Tanaman Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Bima, Ir Beny Akbar menyebutkan penyebab utama naiknya harga beras dari sebelumnya Rp10 ribu per kilogram dan bertahan Rp11 ribu per kilogram lima bulan terakhir karena pengarus nilai tukar rupiah yang anjlok sehingga menyebabkan naiknya harga-harga kebutuhan pokok dan barang strategis.

Dikatakannya, secara umum nilai tukar rupiah yang anjlok membuat harga tidak kondusif. “Sebenarnya kalau dikaitkan dengan jagung juga tidak pengaruhnya langsung, karena sudah jelas itu lahan jagung itu di atas (di gunung) dan kalau padi di sawah. Kalau harga beras juga turun kasihan petani karena ongkos produksi sekarang sudah naik. Tidak semata-mata berpatokan pada HPP, tapi harga pasar,” kata Benny.

Menurutnya, saat ini petani padi harus mengeluarkan ongkos buru tani mencapai Rp100 ribu per hari. Belum lagi berhitung pengeluaran untuk membeli rokok dan biaya makan buruh. “Ongkos produksi sekarang naik sehingga kalau petani tidak menaikan beras kasihan petani karena menanggung ongkos produksi yang sudah naik,” ujar Benny. [US]