Mi6: Caleg Muda tidak Perlu Inferior Melawan Supremasi Lembaga Survei

Iklan Semua Halaman

.

Mi6: Caleg Muda tidak Perlu Inferior Melawan Supremasi Lembaga Survei

Senin, 01 April 2019
Sekretaris Mi6 dan Direktur Mi6, Bambang Mei Finarwanto SH.


Mataram, Berita11.com— Mi6 menduga keberadaan lembaga Survei politik berkontribusi menurunkan kualitas demokrasi dalam Pemilu legislatif 2019. Hal itu dipicu sejumlah release media hasil-hasil survei yg dipublikasi ke publik yang terkesan tidak menghitung kekuatan potensi caleg muda potensial dalam mengagregasi kekuatan pemilih yang sudah dipenetrasi.

Nuansa subyektifitas lembaga survey politik yang cenderung tidak melakukan pemetaan/mapping secara menyeluruh justru menghasilkan kesimpulan akhir yang tidak mencerminkan kondisi yang sebenarnya .

Hal tersebut disampaikan Direktur Mi6, Bambang Mei Finarwanto SH yang diterima Redaksi Berita11.com, Minggu (31/3/2019).

Menurutnya, kuat dugaan lembaga survey politik memainkan taktik penggiringan opini untuk kliennya,   tanpa melihat realitas perubahan persepsi politik rakyat ditingkat basis akibat munculnya caleg muda,  caleg pemula yang menjadi idola rakyat disetiap Dapil.

Adanya supremasi ini harus dilawan dan didelegitimasi oleh bersatunya caleg muda dengan cara memperkuat dan memperluas basis dukungan rakyat untuk membantah argumentasi lembaga survey politik. Hal ini sekaligus sebagai upaya melakukan early warning bahwa apa yang telah dilakukan oleh lembaga survey tidak menjadi satu-satunya sumber legitimasi kemenangan. 

Dikatakannya, jika fakta - fakta yang telah diungkap oleh lembaga survey bisa dilawan dan diatasi dengan taktik politik yang cerdik, maka hal ini tentu akan menyemangati bagi caleg muda untuk memperluas jaringan pemilihnya.

Menurut Bambang, keberadaan lembaga survey politik yang kurang presisi dalam menyampaikan kajian dan hasil surveynya, khususnya dalam hasil-hasil pemilihan legislatif  2019 justru berpotensi  menurunkan kualitas demokrasi karena informasi yang dipublish terkesan tidak sesuai dengan fakta di lapangan.

“Mi6 mendapatkan sejumlah informasi top secret lapangan bahwa Pilleg 2019 di NTB berbeda dengan Pileg 2014, di mana caleg muda atau caleg pendatang baru makin agresif dengan beragam taktik dalam meraih dukungan masyarakat . Mereka ini bergerak ibarat operasi kladestein, senyap tapi masif,” kata pria yang akrab disapa Didu ini.

Didu  mengatakan gerakan senyap merayap caleg pemula di basis ini kerap luput dari analisis hasil lembaga survei karena beragamnya strategi caleg muda dalam mengamankan basis-basis pemilih loyalnya. 

“Kesan subyektifitas lembaga survey tentu akan mempengaruhi kredibilitasnya di mata rakyat,  jika hasil surveinya tidak akurat ,” tegas Didu.

Selain itu kata Didu, keberadaan lembaga survei politik berpotensi mendemoralisasi 
semangat dan spirit caleg muda yang tidak konfiden dan inferior dengan dominasi yang diduga melakukan buzzer penggiringan opini secara sepihak.

“Bisa jadi tidak bergeraknya  dan tidak agresifnya sejumlah caleg muda di Dapil pemilihannya,  selain faktor internal,  tidak tertutup kemungkinan mentalnya sudah down duluan akibat  publikasi lembaga survei yang seolah-olah memperkuat elektabilitas calon  tertentu. Hal ini kemudian dipandang menutup harapan bagi para caleg. Akibatnya  caleg bisa jadi sulit move on menjadi tidak termotivasi di Dapilnya,” ungkapnya.

Sementara itu, Sekretaris Mi6 , Lalu Athari Fathullah yang juga Caleg DPRD NTB Dapil 8 Lombok Tengah nomor urut 2 Dari Partai Perindo tidak pernah mau tahu dan menggubris lembaga survei politik terkait pengumuman hasil caleg yang memiliki elektabilitas yang kuat.

“Saya bersama caleg caleg muda partai lain akan melawan supremasi  dan membuyarkan prediksi lembaga survei tersebut dengan taktik dan strategi lain,” ujar Athar.

Athar menilai bahwa politik itu unpredictable dan selalu bergerak dinamis . Menjudgment hasil konstestasi pilleg melalui survei tidak boleh sepenuhnya dipercayai karena ada faktor subyektifitas dan rakyat sudah tahu juga kalau lembaga survei itu tidak sepenuhnya independen.

“Hasil itu tidak bisa tertukar oleh orang yang tidak pernah turun ke basis dan hanya mengandalkan permainan persepsi semata. Saya tetap rajin turun ke basis,  meski tanpa harus memakai jasa dan arahan  lembaga survei. Saya nggak mampu bayar, mending biaya itu untuk mengentertain rakyat di dapil,” tukas Athar.

Athar memprediksi, Pilleg 2019 akan makin banyak caleg muda yang melenggang di parlemen karena rakyat menginginkan wakilnya  dari figur yang lebih merakyat dan tidak diragukan track recordnya. [RD]