Zulharman: Penanganan Hutan Gundul di Dompu, harus Dipercepat untuk Mencegah Banjir

Iklan Semua Halaman

.

Zulharman: Penanganan Hutan Gundul di Dompu, harus Dipercepat untuk Mencegah Banjir

Kamis, 04 April 2019
Kondisi Luapan Banjir di Kabupaten Dompu yang Merendam Sejumlah Pemukiman Warga, Rabu (3/4/2019) Sore.


Bima, Berita11.com— Peneliti lingkungan di NTB, Zulharman, S.Hut.M.Ling memberikan catatan berkaitan persoalan banjir dan masalah kerusakan hutan di Kabupaten Dompu. Menurutnya, penanganan hutan gundul di Dompu harus dipercepat untuk mencegah banjir.

Dikatakannya, penanaman jagung secara luas yang berujung perambahan kawasan hutan beberapa tahun terakhir ini terutama kawasan hutan dengan kelerengan lebih dari 25 persen tanpa menerapkan pola silvikultur intensif atau lebih cocok dengan pola agroforestry tentu akan menyebabkan bencana seperti banjir dan tanah longsor. Kawasan hutan yang dulunya terdapat pohon-pohon (dikotil/akar tunggang) besar sampai dengan yang kecil membentuk ekosistem dan biodiversitas yang baik, tetapi dengan adanya kebijakan tersebut yang dijalankan tidak sesuai dengan kaidah-kaidah lingkungan dan ekosistem tentu akan menyebabkan ketimpangan interaksi antar komponen ekosistem yang berakibat rusaknya daur hidrologi sehingga menyebabkan banjir.

Hampir sudah tidak ada lagi pohon-pohon dikotil yang memiliki akar yang baik untuk menyimpan atau menahan laju air hujan yang turun pada kawasan hutan tersebut, pohon - pohon diganti dengan tanaman jagung (berakar serabut /monokotil) sehingga tidak mampu menahan laju air hujan yang turun.

“Akibatnya laju arus permukaan semakin tinggi dan tidak ada air hujan yang terserap atau terinfiltrasi ke dalam tanah sehingga akumulasi dari arus pemukaan itulah yang menerjang kawasan pemukiman yang ada dibawahnya sehingga meluap dan terjadilah banjir,” ujar pria yang juga dosen STKIP Taman Siswa/ mantan akademisi Universitas Muhammadiyah Malang ini.

Seperti yang kutip di harian Antara Mataram edisi 20 September 2014 'kepala Dinas Kehutanan Propinsi NTB menyatakan bahwa 2100 hektar kawasan hutan dikabupaten Dompu kini dalam keadaan rusak parah akibat perambahan untuk dijadikan lahan jagung, yang paling luas kerusakannya yaitu di kecamatan Pajo dan Kesi.

Menurutnya, sebenarnya tidak ada yang salah dengan kebijakan penanaman jagung, bahwa kebijakan itu akan menambah kesejahteraan masyarakat memang benar, namun dalam pelaksanaannya tentu harus sesuai dengan kaidah lingkungan.

“Jangan sampai kita mengkonversi lahan hutan menjadi lahan yang hanya ditanami dengan tanaman jagung. Apalagi, mungkin sebagian dari lahan hutan tersebut dikategorikan sebagai kawasan lindung. Harus ada edukasi kepada masyarakat tentang bagaimana sistem penanaman jagung dikawasan hutan. Pola penanaman tanaman pertanian dikawasan hutan tentu harus dilakukan dengan sistem agroforestry yaitu memadukan tanaman hutan dengan tanaman pertanian, dalam hal ini adalah tanaman jagung,” katanya.

Ditambahkannya, tidak boleh menggundulkan hutan atau pohon kemudian serta merta diganti dengan jagung, sistem penanaman yang benar adalah tanaman jagung ditanam di bawah tegakan hutan. “Semoga ke depannya kebijakan ini akan lebih baik,” harapnya.

Zulharman mengutip pepatah suku Maya yaitu, ketika pohon terakhir telah tumbang, ketika sungai terakhir telah kering, ketika ikan terakhir telah mati, manusia akan sadar bahwa uang tak dapat dimakan. [US]