Belum Genap Enam Tahun Dibuka, Prodi PGSD STKIP Taman Siswa Bima sudah Akreditasi B, Ternyata ini Keununggulannya

Iklan Semua Halaman

.

Belum Genap Enam Tahun Dibuka, Prodi PGSD STKIP Taman Siswa Bima sudah Akreditasi B, Ternyata ini Keununggulannya

Jumat, 31 Mei 2019
Mahasiswa Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Taman Siswa Bima. Selain Unggul dalam Prestasi, juga Memiliki Karakter yang Beradab, Sesuai yang menjadi Visi Kampus Setempat.



Bima, Berita11.com— Belum genap enam bulan dibuka program studi (Prodi) Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Taman Siswa Bima sudah mengantungi akreditasi B dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT).

Ketua STKIP Taman Siswa Bima, Dr Ibnu Khaldun M.Si mengatakan,  label akreditasi B yang diperoleh kampus setempat sangat penting. Apalagi di wilayah Indonesia Timur masih cukup langka yang memperoleh label tersebut.

“Dalam tata kelola perguruan tinggi baik negeri maupun swasta, akreditasi B di Indonesia Timur itu masih sangat langka. Banyak yang kesulitan mendapatkan akreditasi B meskipun sudah berdiri 10 tahun, kenapa pentingnya akredtasi B? Secara nasional akreditasi B akan mendapatkan akses secara luas,” ujarnya di kampus STKIP Taman Siswa Bima, Rabu (29/5/2019).

Dikatakannya, banyak output positif yang diperoleh kampus setelah menyandang status akreditasi B. Baik dari peningkatan kualitas dosen, penelitian mahasiswa maupun lulusan perguruan tinggi. Setelah meraih akreditasi B secara nasional bisa mendapatkan banyak hibah dari kementerian seperti Kemenristek Dikti.

Pada aspek lulusan,  status Prodi yang sudah terakreditasi B dapat lebih luas diterima di pasar kerja. Selain itu, keunggulan lain Prodi PGSD STKIP Taman Siswa,  yaitu menjadi salah satu prodi unggulan dengan pembiayaan (kuliah) masih menyesuaikan perputaran uang di daerah (terjangkau).

“Kalau itu bagi yang akreditasinya B itu bisa mendapatkan kompetisi hibah secara nasional, hibah-hibah banyak di kementerian. Kemudian dari aspek peningkatan SDM dosen, pegawai dan juga banyak Bimtek dan pelatihan-pelatihan yang memang tujuan peningkatan kapasitas untuk mempertahankan poin akreditasi dan bahkan bisa meningkat dari B menjadi A. Kami terus mengembangkan diri, ingin terus membenahi kelembagaaan dan peningkatan sumber daya manusia,” ujar Doktor lulusan Universitas Indonesia ini.

Dikatakannya, kampus STKIP Taman Siswa menargetkan lulusan bermanfaat secara luas diserap pada lapangan kerja yang tidak hanya menjangkau wilayah Bima dan Dompu. Namun manfaatnya juga dirasakan masyarakat dan pemerintah daerah di wilayah timur seperti NTT dan wilayah bagian utara di antaranya Kalimantan.

“Kami juga sudah punya dosen-dosen yang punya  sertifikat pendidik profesional. Ada 60 persen di PGSD itu sudah sering lolos hibah tiga tahun berturut-turut. Lalu mahasiswa lolos tiga tahun berturut-turut. Bahwa kita sudah relatif lebih siap untuk standarisasi pengelolaan perguruan tinggi. Ini artinya masyarakat tidak lagi ragu, meskipun usianya baru enam tahun, tapi sudah bergerak cepat (akselerasi) untuk menjawab kebutuhan-kebutuhan masyarakat,” kata Ibnu.

Selain menjawab pasar kerja, kehadiran PGSD yang pertama dan satu-satunya hanya ada di STKIP Taman Siswa Bima untuk kampus lingkup Bima, juga menjawab kebutuhan instansi terkait dalam upaya meningkatkan sumber daya guru SD. Karena pada lingkup Sekolah Dasar leterasi masih rendah. Sumber daya guru pun terus banyak ditingkatkan.

“Jadi, dengan adanya prodi PGSD, pemerintah bisa mendorong guru-gurunya untuk bisa peningkatan (kualifikasi). Karena syarat mendorong kenaikan pangkat dan menjadi kepala sekolah dasar, harus sarjana guru Sekolah Dasar,” katanya.


Beberapa faktar potensi serapan lapangan kerja untuk alumnus PGSD di antaranya kebutuhan terhadap guru SD yang masih tinggi. Berdasarkan data kementerian, jumlah kebutuhan guru SD setelah pendidik yang pensiun dari tahun 2015 hingga tahun 2018 sebanyak 500.000 guru SD.


“Kalau hasil maping yang terserap, kita bisa klaim pasar kerja PGSD ini sangat luas dan ada banyak guru yang pensiun. 500 ribu guru yang pensium dari 2015 ke 2018 belum terisi. Nah artinya kebutuhan untuk guru SD ini masih relatif tinggi. Di sini peluang perguruan tinggi yang memiliki Prodi PGSD untuk terus mengembangkan tata kelola pembelajaran, menyesuaikan dengan kebutuhan-kebutuhan pasar kerja seperti menjadi guru di Sekolah Dasar,” ujar Ibnu.

Target Bangun Inkubasi Bisnis, Alumnus STKIP Taman Siswa Bima Dibekali Soft Skill dan Ditatar menjadi Job Creator

STKIP Taman Siswa Bima adalah kampus yang menggabungkan visi pembentukan karakter dan ilmu pengetahuan (knowledge) serta keterampilan (soft skill) bagi mahasiswanya, dengan misi menjadi perguruan tinggi beradab dengan keunggulan kewirausahaan.

Sejumlah misi kampus setempat yaitu menyelenggarakan tri darma untuk memenuhi tuntutan masyarakat atau pengguna lulusan perguruan tinggi. Selain itu, menyiapkan lulusan dan ilmuwan di bidang kependidikan yang memiliki kemampuan, keahlian dan keterampulan menuju manusia yang beradab dan berdaya saing, menyelenggarakan penelitian, pengabdian pada masyarakat yang kreatif, inovatif baik pada level regional, nasional maupun internasional. Misi lainnya menyelenggarakan penerapan kurikulum kewirausaan berorientasi pada kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI), serta menjalin kerjasama dengan stake holder secara simultan yang saling menguntungkan dengan pemerintahan daerah di tingkat regional, nasional maupun internasional.

Foto Bersama Ketua STKIP Taman Siswa Bima, Dr Ibnu Khaldun M.Si dan Sejumlah Dosen Kampus Setempat.

“Kita punya visi institusi menjadi perguruan tinggi beradab dengan keunggulan kewirausahaan. Kami memiliki mata kuliah keriwausahaan, mendorong mahasiwa-mahasiswa untuk berwirausaha dengan mengundang pakar-pakar. Kami punya target harus punya inkubasi bisnis, sehingga kita ingin ubah mindsetnya dari joob seeker (pencari kerja) menjadi job creator (penyedia pekerjaan),” ujar Ibnu.

Sebelum menyelesaikan studi, mahasiswa sudah harus memiliki kegiatan wirusaha dengan memanfaatkan ekonomi kreaif menggunakan IT. “Digititalisasi dan seterusnya, itu secara perlahan meningkat. Mereka (alumnus STKIP Taman Siswa Bima) banyak di sektor-sektor jasa itu. Tidak hanya masuk di sektor pendidikan,” katanya.

Setelah menyelesaikan studi, mahasiwa juga diberikan Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI). Terdapat 10 soft skill yang harus dimiliki mahasiswa STKIP Taman Siswa Bima sebelum keluar kampus usai menamatkan pendidikan S1.  

“Tidak hanya pulang dengan ijazah,  tetapi mahasiswa juga pulang dengan soft skill yang mereka bisa dalam menghadapi tantangan di masyarakat dan mahasiswa kita yang sudah tiga tahun terakhir wisuda sudah banyak kelihatan. Selain menjadi guru SD, mereka menggerakan ekonomi dengan (platform) digitalisasi maupun IT saat ini,” kata Ibnu. [RD]