BMKG Imbau Masyarakat Waspadai Angin Kencang

Iklan Semua Halaman

.

BMKG Imbau Masyarakat Waspadai Angin Kencang

Rabu, 15 Mei 2019
Forecaster BMKG Bima, Surya Dharma. Foto US Berita11.com.


Bima, Berita11.com— Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Bandara Sultan Muhammad Salahuddin Bima mengimbau masyarakat agar waspada terhadap angin kencang yang terjadi pada masa transisi musim. Saat ini, kecepatan angin mencapai 45 kilometer per jam.

Forecaster BMKG Bima/ Stamet Bandara Sultan Muhammad Salahuddin Bima, Surya Dharma mengatakan, beberapa pekan terakhir intensitas hujan berkurang sebagai tanda masuknya peralihan musim, dari musim hujan ke musim kering.

Sebenarnya sudah memasuki musim kemarau. Ditinjau angin baratan, sekarang sudah dominan anginnya barat ke selaytn. Karena perubahan pola angin, musim pun berubah. Kita mengimbau masyarakat terutama pengendara sepeda motor untuk hati-hati,” katanya kepada Berita11.com di kantor BMKG Bima, Senin (13/5/2019).

Menurutnya, puncak peralihan musim terjadi pada Juni 2019 mendatang. Selain angin kencang, hal yang harus diwaspadai masyarakat ketinggian gelombang. Sebelumnya tercatat adanya siklon tropis lili bagian tenggara dan selatan NTB sehingga mempengaruhi ketinggian gelombang.

Sampai saat ini potensi kemarau panjang setelah masa transisi musim belum dapat diprediksi karena BMKG belum melihat adanya dinamika atmosfer dan laut yang mempengaruhi cuaca, potensi La Nina maupun El Nino.


Potensi gelombang tinggi, kemarin sempat sempat siklon tropis lili yang melintasi tenggara hingga selatan NTB,” katanya.

BMKG juga belum mendeteksi apakah potensi gelombang tinggi akan terjadi hingga 30 hari ke depan dan berpotensi mempengaruhi kelancaran transportasi laut khususnya ke timur maupun bagian utara seperti Makassar saat menjelang puncak arus mudik dan arus balik.
Dua hari terakhir, BMKG merilis peringatan dini tentang gelombang tinggi terjadi pada sejumlah wilayah di Indonesia termasuk meliputi Selat Bali, Lombok, Sape bagian selatan dengan potensi tinggi gelombang antara 1-2,5 meter.

BMKG menjelaskan, terdapat pola rendah 1000 hectopascal (hPa) di Laut Karang. Pola angin di wilayah utara Indonesia umumnya dari Tenggara-Barat Daya dengan kecapatan 3-15 knot, sedangkan di wilayah selatan Indonesia umumnya dari Timur-Selatan dengan kecepatan 3-25 knot. Kecapatan angin tertinggi terpantau di Samudera Hindia selatan Jawa dan Laut Arafuru bagian timur. Kondisi ini mengakibatkan peningkatkan tinggi gelombang di sekitar wilayah tersebut. [US]