Direktur LEAD Ajak Semua Pihak Bersabar Menunggu Rekapitulasi KPU RI Rampung

Iklan Semua Halaman

.

Direktur LEAD Ajak Semua Pihak Bersabar Menunggu Rekapitulasi KPU RI Rampung

Jumat, 03 Mei 2019
Direktur LEAD, Ady Supriyadi.


Bima, Berita11.com— Direktur Lembaga Edukasi dan Advokasi (LEAD) Ady Supriyadi S.Sos mengimbau semua pihak agar bersabar menunggu rekapitulasi suara Pemilu 2019 oleh Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia (KPU RI) rampung. Masyarakat dan para pendukung peserta Pemilu harus bisa memahami situasi, tidak gegabah dalam melangkah.

Dikatakannya, pasca pemungutan suara, memang akan muncul penghitungan cepat (quick count). Pada hakikatnya quick count memang penelitian yang memiliki akurasi tinggi, namun kita sebenarnya telah mengetahui bersama bahwa quick count --apalagi survei pra-pemilu ataupun exit poll-- bukanlah hasil final.

“Data-data itu sudah dijelaskan berkali-kali oleh pakar riset merupakan sebuah metode riset saat dilaksanakan Pemilu yang diakui memiliki tingkat akurasi tinggi,” katanya di Bima, Jumat (3/5/2019).

Menurutnya, soal menang dan kalah, juga telah jelas bahwa kepastian yang benar-benar pasti ialah hasil penghitungan real count dari KPU. Namun memang butuh waktu lebih lama untuk mendapatkan kepastian real count tersebut.

Dirinya mengajak semua pihak agar bersabar menunggu rampugnya hasil penghitungan dan penetapan oleh KPU RI. hal yang perlu dilakukan masyarakat ialah menunggu KPU selesai melakukan penghitungan real count. “Soal quick count, jadikan survei dari beberapa lembaga itu sebagai bentuk pengawasan dan pandangan umum ketika real count telah usai,” ujarnya.

Ditambahkannya, quick count bisa dijadikan sebagai referensi dalam Pemilu. Quick count bisa menjadi acuan ketika terjadi kecurangan-kecurangan yang tidak diharapkan. Namun kondisi saat ini, quick count terlalu diyakini oleh masyarakat sebagai kepastian, akhirnya saling akuisisi kemenangan terjadi di masyarakat.

“Saat ini kedua calon telah mendeklarasikan kemenangannya dari sudut pandang masing-masing. Hal ini membuat para pendukung di kedua pihak makin ramai mengisi berbagai media sosial dengan sama-sama mengakuisisi kemenangan masing-masing,” katanya.

Masa transisi ini harusnya bisa dicegah oleh kedua pasangan calon dengan tidak mendeklarasikan terlebih dahulu kemenangannya sebelum real count KPU berada dalam status final. Deklarasi kemenangan sebelum keputusan KPU membuat kondisi persaingan di masyarakat terus berlangsung. Sentimen seperti ini bisa menimbulkan konflik, salah satunya saling hina di media sosial.

Ady mengatakan, jika saja menunggu dijadikan nilai luhur masyarakat dan juga kedua paslon saat Pemilu, maka pembahasan yang bersifat mengadili secara negatif salah satu pihak tidak akan terjadi di media sosial. Menunggu menjadi amat penting dalam mendamaikan suasana Pemilu.

Sikap akuisisi kemenangan ini juga terkesan tidak menghormati pihak penyelenggara Pemilu. KPU telah membuat konsep hitungan dengan real count, maka seharusnya deklarasi kemenangan dilakukan setelah real count itu selesai. Alih-alih sebagai pengawasan, quick count malah menjadi jalan pintas untuk melangkahi agenda yang sudah dicanangkan KPU.

“Walau hal itu bukan sesuatu yang dilarang, tapi demi menghormati penyelenggara seharusnya kedua paslon bisa sabar menunggu,” katanya.

Pihaknya sebagai aktivis muda memilih menunggu dan mengawasi di ketinggian agar tidak dimangsa lebih dulu oleh oknum yang sengaja memanfaatkan kepentingan demi menciptakan suatu konflik.

Menunggu menjadi sarana untuk berhati-hati dalam melangkah. “Maka menunggu adalah sebuah pilihan untuk memberi jeda agar bisa melakukan lebih banyak pertimbangan. Menunggu juga sebuah strategi, kehati-hatian dan kebijaksanaan dalam mencegah ketergesa-gesaan,” ujarnya.

Selain itu, menunggu hasil pemilu dari KPU adalah sikap yang begitu bermoral. Memang banyak masyarakat yang menanyakan siapa yang menang, namun pola itu ada karena sejarah silam yang terjadi di Indonesia. Quick count selalu jadi sumber pendeklarasian pasangan calon. Contohnya pemilihan Gubernur DKI Jakarta. Saat itu Anies Baswedan dan Sandiaga Uno mendeklarasikan kemenangan karena menang quick count. Hal itu kembali terjadi saat ini. Pola pikir masyarakat akhirnya berubah karena budaya yang kurang tepat.

Penyelenggara juga harusnya bersikap tegas. Kalau perlu ada aturan khusus mengenai syarat-syarat pendeklarasian kemenangan pasangan calon. Itu perlu dilakukan jika memang keadaan publik tak lagi memiliki kesabaran untuk menunggu. [MR]