Dua Tahun Setelah Digigit Anjing Rabies, Korban Berpotensi Meninggal Dunia

Iklan Semua Halaman

.

Dua Tahun Setelah Digigit Anjing Rabies, Korban Berpotensi Meninggal Dunia

Sabtu, 25 Mei 2019
Kabid P2PL Dinas Kesehatan Kabupten Bima, Rifai S.Sos, M.Ap. Foto Ist.


Bima, Berita11.com— Kendati pemerintah menyiapkan penanganan khusus bagi korban gigitan hewan (anjing) penular rabies (HPR) melalui pemberitan vaksin anti rabies (VAR) maupun serum anti rabies (SAR). Namun korban tetap berpotensi tak selamat setelah tertular virus dari anjing gila.
Hal tersebut diakui Kepala Bidang P2PL Dinas Kesehatan Kabupaten Bima, Rifai S.Sos, M.Ap. Menurutnya, korban gigitan HPR harus dipantau dan mendapatkan penanganan intensif. “Bahkan sampai dua tahun itu belum tentu selamat. Bisa meninggal,” kata Rifai di Dikes Kabupaten Bima, Jumat (24/5/2019).
Diakuinya, beberapa bulan terakhir kasus gigitan hewan penular rabies di wilayah Kabupaten Bima terus bertambah. Kasus tertinggi terjadi di Kecamatan Sanggar.
Menurutnya, permasalahan utama yang dihadapi pemerintah daerah dalam menangani kasus gigitan HPR yaitu jumlah VAR dan SAR yang terbatas. Bahkan selama ini Pemkab Bima mengandalkan bantuan dari obat dari pemerintah pusat melalui Dikes Provinsi NTB. “Kalau untuk anggaran masih dalam telaan staf. Untuk korban dalam kondisi tidak tersedia VAR kita arahkan untuk disuntik di Dompu,” katanya.

Pada Jumat (24/5/2019) siang, pihaknya mendapatkan kiriman VAR 200 dosis dari Dikes Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Sebelumnya, Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Bima, Ir Abdollah menyebutkan, kendala utama penangan kasus rabies di Kabupaten Bima adalah anggaran. Karena sebelumnya Pemkab Bima belum mengalokasikan anggaran khusus karena kasus tersebut tiba-tiba muncul di wilayah Kabupaten Bima setelah kejadian luar biasa (KLB) di Kabupaten Bima. bahkan untuk kegiatan eliminasi Disnak membutuhkan paling sedikit anggaran Rp250 juta, termasuk obat eliminasi anjing. [US]