Pemkab Bima dan BPS akan Sikapi Inflasi Selama Ramadan dan Idul Fitri

Iklan Semua Halaman

.

Pemkab Bima dan BPS akan Sikapi Inflasi Selama Ramadan dan Idul Fitri

Selasa, 14 Mei 2019
Beberapa Pekan Terakhir Harga Bawang Putih yang Dijual Sejumlah Pasar di Kabupaten Bima Melambung karena Pasokan yang Berkurang.  Aktivitas Pedagang di Pasar Pagi Sila Kecamatan Bolo Kabupaten Bima. Foto US Berita11.com. 

KERJASAMA ANTARA BAGIAN HUMAS DAN PROTOKOL SETDA KABUPATEN BIMA DENGAN HARIAN ONLINE WWW.BERITA11.COM

Bima, Berita11.com— Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bima dan Badan Pusat Statistik (BPS) akan menyikapi pergerakan inflasi selama bulan suci Ramadan 1440 Hijriah tahun 2019 dan menjelang lebaran Idul Fitri. Pemerintah mengevaluasi grafik inflasi pada kegiatan rapat bersama Tim Pengendali Infalasi Daerah (TPID).

Kepala Bagian Administrasi Perekonomian Sekretariat Daerah Kabupaten Bima, Hariman SE M.Si mengatakan, secara umum harga sembilan bahan pokok dan barang strategis di wilayah Kabupaten Bima masih stabil. Bahkan pemerintah daerah mencatat pergerakan harga belum mencapai 5 persen.

Biasannya kalau sudah menyentuh 5 persen kenaikannya, maka pemeritah daerah akan mengambil langkah dengan Bulog, tapi sampai sekarang angkanya masih 5 persen,” ujar mantan Kepala Bidang Anggaran BPPKAD Kabupaten Bima ini di Sekretariat Daerah Kabupaten Bima, Senin (13/5/2019).

Baca Juga:

Diakuinya, memang ada kenaikan mencolok untuk komoditi bawang putih yang terjadi tidak hanya di Bima, namun secara nasional. Hal itu dipengaruhi karena tingginya permintaan yang tidak seimbang dengan jumlah suplai komoditi tersebut.

“Saya kira pengaruh dari permintaan saja. Kebetulan masyarakat ini di bulan puasa, sementara suplainya belum bisa dipasok. Nanti tentu kita akan evaluasi kalau terus bergerak,” ujar alumnus Magister Ekonomika Pembangunan Universitas Gajah Mada ini.

Secara umum di Kabupaten Bima TPID sudah terbentuk dan melaksanakan rapat evaluasi rutin per semeter. Adapun acuan inflasi Kabupaten Bima mengikuti data inflasi Kota Bima. karena di Provinsi Nusa Tenggara Barat terdapat dua daerah yang menjadi acuan inflasi yaitu Kota Mataram dan Kota Bima.

“Kenapa demikian, karena Kota Bima itu paling lengkap komoditi yang dibutuhkan masyarakat, barang dan jasa. Acuanya di Kota Bima dan lagi pula ekonomi kita tidak dipisahkan administrasi pemerintah. Satu koridor ekonomi itu bisa beberapa kabupaten kota. Apalagi pasar Kota Bima. Itu tidak masalah, secara metodologi bisa dipertanggungjawabkan, tetapi langkah kebijakan yang diambil pemerintah itu akan berbeda. Biasanya ada pengaruh, tetapi mudah-mudahan tidak,” katanya.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bima, Drs Sapirin menyebutkan, secara umum pada bulan Ramadan terdapat kecendrungan harga komoditi naik karena meningkatkan kebutuhan masyarakat. “Ada kecendrungan naik karena pengaruh bulan puasa kebutuhan masyarakat meningkat,” ujarnya.

Jenis-jenis barang dan kegiatan yang mempengaruhi inflasi yaitu harga Sembako, sandang, pangan, dan papan. Biaya pendidikan termasuk tiket pewasat. Kenaikan harga tiket pesawat menjelang Idul Fitri juga diprediksi mempengaruhi inflasi. “Terkait upaya pengendalian harga biasanya kita juga akan koordinasi dengan Bagian Ekonomi, dengan pemerintah daerah,” ujar Sapirin.

Baca Juga:


Sebelumnya, pihaknya telah mengikuti rapat bersama TPID yang digelar di kantor Pemerintah Kota Bima bersama Bank Indonesia.

Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangn Kabupaten Bima, M Ikhsan mengatakan, pihaknya mempredikasi puncak kenaikan harga Sembako akan terjadi pada pertengahan bulan Ramadan dan menjelang Idul Fitri.

Menyikapi kenaikan harga dan merespon harapan masyarakat, pihaknya menggelar operasi pasar pada tujuh kecamatan di Kabupaten Bima. kegiatan dimulai pada 3 Mei 2019 lalu di Kecamatan Tambora, kemudian dilanjutkan di Kecamatan Sanggar, Kecamatan Palibelo, Kecamatan Parado, Kecamatan Donggo, Wera dan Belo.

Berdasarkan hasil survei pasar secara rutin yang dilaksanakan petugas Disperindag Kabupaten Bima, sejumlah komoditi yang naik yaitu harga bawang putih, harga ikan, daging, ikan dan tomat.
Sebelumnya, berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kota Bima, Inflasi di Kota Bima bulan April 2019 sebesar 0,67 persen terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan kenaikan indeks pada Kelompok bahan makanan sebesar 2,06 persen; kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 0,15 persen; kelompok kesehatan sebesar 0,17 persen; dan kelompok transport, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,73 persen. Dua kelompok lainnya mengalami penurunan indeks yaitu kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar  0,02 persen; dan kelompok sandang sebesar 0,01 persen. Satu kelompok tidak mengalami perubahan yaitu kelompok pendidikan, rekreasi, dan olah raga. [US]