Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Bima Diyakini Mampu Mencapai 6 Persen

Iklan Semua Halaman

.

Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Bima Diyakini Mampu Mencapai 6 Persen

Rabu, 15 Mei 2019

Kepala Bagian Administrasi Perekonomian Sekretariat Daerah Kabupaten Bima, Hariman SE M.Si. Foto US.

KERJASAMA ANTARA BAGIAN HUMAS DAN PROTOKOL SETDA KABUPATEN BIMA DENGAN HARIAN ONLINE WWW.BERITA11.COM

Bima, Berita11.com— Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bima tahun 2019 dan ke depan diyakini mampu mencapai 6 persen. Hal itu ditunjang dari berbagai sektor pendukung seperti pertanian yang menjadi andalan masyarakat Bima.

Kepala Bagian Administrasi Perekonomian Sekretariat Kabupaten Bima, Hariman SE M.Si mengatakan, secara umum kegiatan pertanian di Kabupaten Bima yang menjadi salah satu leading pertumbuhan ekonomi ditunjang cuaca yang bersahabat. Selain itu, sarana produksi masih bisa dikendalikan walaupun masih ada masalah.

Baca Juga:

“Ekonomi (Kabupaten Bima) bisa stabil, kebutuhan pokok masyarakat terpenuhi. Pertumbuhan target ekonomi itu tidak jauh dari 5 persen. Kita upayakan 5-6 persen. Didukung oleh pertanian yang cukup bersahabat. Kalau sarana produksi masih bisa dikendalikan. Misalnya pengecer, mereka ada tetapi tidak semua yang mempermainkan harga. Kita tetap awasi dan pantau,” ujar alumnus Magister Ekonomika Pembangunan Universitas Gajah Mada ini di Sekretariat Daerah Kabupaten Bima, Senin (13/5/2019) lalu.

Menurutnya, ekonomi daerah bisa stabil dilihat dari kebutuhan pokok masyarakat yang terpenuhi. Saat ini, Pemerintah Daerah Kabupaten Bima terus mendorong pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia melalui pelatihan dan pemberian modal untuk UMKM.

APBD itu memang ada semacam keterbatasan, di dalam anggaran itu pasti. Jadi tidak semua aspirasi masyarakat itu bisa ditampung. Tetapi tetap kembali pada prioritas. Jadi pendekatan perencanaan partisipatif, Musrembang itu perencanaan partisipatif, memang tidak semua di bawah. Tidak ada anggaran yang langsung ngumpul. Memang ada prioritasnya contohnya di Lambu yang ditingkatkan bawang,” ujarnya.

Baca Juga:

Tantangan Pembangunan Kabupaten Bima

Diakui Hariman, tantangan pembangunan Kabupaten Bima hingga saat ini adalah bagaimana mengurangi angka kemiskinan. Permasalahannya, karena untuk mengurai persoalan kemiskinan kompleks atau multidimensi, termasuk dimensi sosial. Walaupun ada kemajuan, namun progresnya tidak banyak. Bahkan masih di bawah Kabupaten Dompu yang berhasil mengolah sektor pertanian melalui komoditi jagung dalam membawa perubahan banyak untuk mengurangi angka kemiskinan. Keberhasilan program jagung secara masif di Kabupaten Dompu bahkan berkontribusi banyak terhadap Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB), mendekati sumbangan tanaman padi.

Menurutnya, masyarakat dan Pemerintah Daerah Kabupaten Bima bisa saja mereplikasi keberhasilan pengelolaan jagung sebagai faktor penggerak perekonomian dengan mengadopsi yang diterapkan di Kabupaten Dompu, akan tetapi pemerintah daerah juga berhitung dampak lingkungan akibat ekstensifikasi lahan hutan untuk kegiatan itu.

Bima masih mempelajari juga (pengembangan jagung) karena ada dampaknya. Kebijakan kita di Bima ini adalah pencapaian target ekonomi. Hutannnya masih harus direhabilitasi lagi,” katanya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, sejak tahun 2012, penurunan angka kemiskinan di Kabupaten Bima semakin lebih baik, dari 16,23 persen turun menjadi 16,08 persen pada tahun 2013 hingga pada tahun 2017 angka kemiskinan menjadi 15,10 persen. Demikian hal laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bima dari 4,6 pada tahun 2016 meningkat menjadi 5,98 pada tahun 2017. Indeks pembangunan manusia (Human Development Index/ HDI) juga menunjukan progres meskipun peningkatannya 1 persen. Dari 64,15 pada tahun 2016 menjadi 65,1 pada tahun 2017.

Baca Juga:

“Tantangan kita depan mengurangi angka kemiskinan. Kemiskinian itu kompleks, tidak hanya satu dimensi, tetapi dimensi sosial juga. Kita ada kemajuan penurunannya, tetapi masih harus dipercepat lagi. Persentasenya 14,84 persen, masih di bawah Dompu. Memang kita akui Dompu sedikit lebih baik, mengapa mereka itu angka kemiskinan bisa turun? Karena diback up oleh program jagung. Jagung adalah program besar Pemerintah Daerah Kabupaten Dompu, sehingga dalam PDRB mereka kontribusi jagung itu hampir mendekati padi. Tanaman itu sangat besar, bukan ribuan hektar, tetapi di atas ratusan ribu hektar,” ujar Hariman.

Diakui Hariman, sektor jasa masih dominan menjadi basis pekerjaan atau kegiatan yang digeluti masyarakat Kabupaten Bima. Beberapa  bentuk sektor yang berbasis pengetahuan (knowledge) tersebut seperti konsultan, LSM dan pengajar di perguruan tinggi serta sekolah.

Berkaitan upaya mengurangi pengangguran dan ketergantungan pada sektor jasa, pemerintah daerah memiliki beberapa upaya untuk mengatasinya dengan melaksanakan pelatihan wirausaha maupun pemberian bantuan modal. Namun belum didukung oleh spirit dan kreativitas masyarakat. Sebagian warga yang telah dilatih dan diberikan bantuan banyak yang tidak konsisten dalam menjalankan usahanya karena terkendala kreativitas dan semangat usaha. Sebagian warga bahkan banyak termotivasi hanya untuk menduplikat usaha yang sudah terlanjur sukses.

“Upaya kita (mendorong) pertumbuhan ekonomi mengoptimalkan APBD. Fungsi perbankan juga berpengaruh signifikan mempercepat pertumbuhan ekonomi. Karena dunia usaha itu bisa cepat bergerak karena suntikan perbankan,” ujarnya.

Mantan Kepala Bidang Anggaran BPPKAD Kabupaten Bima ini menyebut kebijakan ekonomi yang diluncurkan pemerintah pusat seperti paket ekonomi jilid 16 yang meliputi kebijakan perluasan fasilitas libur pajak (tax holiday), relaksasi daftar negatif investasi (DNI) dan penguatan devisa hasil ekspor tidak banyak memengaruhi pertumbuhan ekonomi di daerah seperti di Kabupaten Bima.

“Kalau kebijakan paket ekonomi pusat, pengaruhnya terhadap daerah sangat kecil, karena itu lebih kepada sektor-sektor yang dikendalikan oleh pemerintah pusat. Kita ini bagaimana mengoptimalkan APBD, itu saja,” katanya.

Selain permasalahan pertumbuhan ekonomi yang belum signifikan, permasalahan yang dihadapi di Kabupaten Bima adanya ketimpangan pembangunan beberapa wilayah. Misalnya wilayah yang jauh dari ibukota dan belum ditunjang oleh infrastruktur dan sarana telekomunikasi yang memadai seperti Kecamatan Tambora, Kecamatan Lambitu, Kecamatan Wera bagian Timur, Kecamatan Parado dan Kecamatan Langgudu.

Baca Juga:

Kesenjangan nampak pada pembangunan wilayah tersebut. Namun pemerintah daerah terus berupaya membenahi dengan menggenjot infrastruktur pendukung dengan menyesuaikan kemampuan APBD dan berupaya menjemput dukungan pemerintah pusat melalui APBN. [US]