Niatnya Bangun Masjid, Tiga Pria di Desa Naru Malah jadi Korban Penganiayaan

Iklan Semua Halaman

.

Niatnya Bangun Masjid, Tiga Pria di Desa Naru Malah jadi Korban Penganiayaan

Sabtu, 01 Juni 2019
Korban saat mengajukan laporan di Mapolsek Woha. Foto ist

Bima, Berita11.Com - Burhan (43 tahun), Mauludi (20) dan M. Haryadin (18) warga Dusun Tani Mulya, Desa Naru, Kecamatan Woha, Kabupaten Bima, ketiga pria ini tengah berlangsung membersihkan dan mengukur luas area untuk dibangunkan sarana tempat beribadah Masjid.

Namun, niat tulus ketiga pria ini ingin membangun Masjid di atas lahan milik kakeknya atas nama H. M. Ali malah menjadi korban penganiayaan yang diduga dilakukan SHA dan dibantu oleh menantunya serta satu orang bayaran yang tidak dikenal masing- masing menggunakan senjata tajam (Sejam), berupa parang sejenis pedang dan parang model parang Patimura pada Rabu (29/5/2019) siang di Desa Keli.

Beruntung, pada saat kejadian ada Sarifuddin anggota POLRI yang bertugas di kupang, yang kebetulan saat itu dia sedang datang cuti. Kemudian Murtala, S.Sos PJ. Kepala Desa Keli Sudirman serta masyrakat setempat yang datang menyelamatkan mereka dari amukan tiga orang terduga pelaku, apalagi ketiga korban tidak memiki sejam alias tangan kosong.

Atas kejadian itu, Maulidin mengalami luka robek di kepala bagian belakang dan luka robek jari kaki kiri hingga terkupas kuku jari kelingkingnya. Sementara M. Haryadin mengalami luka memar di pergelangan tangan kanan.

Sedangkan Burhan mengalami luka memar rahang kiri dan kanan, luka memar siku kiri dan kanan, luka memar lutut kiri dan kanan, luka memar betis kiri dan kanan. Dan peristiwa ini telah dilaporkan ke Mapolsek Woha Polres Bima untuk diproses lebih lanjut serta ketiga korban tersebut masing-masing telah melakukan visum.

Salah satu korban penganiayaan Burhan, kepada Berita11.Com mengatakan, peristiwa itu terjadi berawal terduga pelaku SHA  melarang pembanguan Masjid yang rencananya Masjid itu diberi nama H. M. Ali di atas lahan milik H. M. Ali sendiri, sementara SHA mengaku bahwa tanah tersebut adalah tanah pemberian orang tuanya H. Arsyad.

"Dalam surat tanah itu masih atas nama H. M. Ali. Dan SHA adalah Cicinya H. M. Ali sedangkan kami tiga orang ini selaku korban adalah Cucunya H. M. Ali niat suci kami terhalang akibat ulah mereka (pelaku, red)," jelas Burhan.

Burhan menceritakan bahwa SHA sempat mengeluarkan kalimat melarang untuk tidak membangun Masjid di area tanah yang menurut SHA, tanah tersebut telah diwariskan ke padanya oleh orang tuanya yaitu H. Arsyad.

"Jangan mengotori tanah saya dengan membangun Masjid di situ, tanah itu pemberian orang tua saya, saya sudah dikasi oleh orang tua saya H. Arsyad," cerita Burhan yang dikutip dari ujaran terduga pelaku SHA.

Menurut Burhan, terkait dengan tanah itu, tidak ada hubungan dengan SHA, rencana mereka mau bangun Masjid karena tanah itu merupakan tanah warisan, bukan tanah gonogini H. Arsyad dengan isteri keduanya. sedangkan SHA merupakan anak dari isteri kedua H. Arsyad, jadi menurut Burhan, SHA tidak ada hak waris yang bisa dia dapat atas tanah tersebut.

"Juraed Ahmad saja, saudara kandung satu ibu dengan SHA tidak pernah keberatan atau melarang untuk bangun Masjid di atas lahan yang masih bernama H. M. Ali, karena tanah itu tidak ada hubungan dengan mereka, karena mereka anak H. Arsyad dari isteri yang ke duanya. Tanah warisan H. M. Ali yang baru berhak mendapatkan warisan itu adalah anak dari isteri yang pertama H. Arsyad," terang dia.

Atas peristiwa yang menimpanya serta dua orang keluarganya, pihaknya berharap pada pihak kepolisian agar diusut tuntas laporan tersebut sesuai dengan aturan yang berlaku.

"Alat bukti, menurut penyidik sudah cukup karena sudah disita dua bilah parang satu potong kayu jati dan satu potong bambu, semoga pihak penegak hukum mengusut tuntas kasus ini hingga selesai," harap dia.

Untuk diketahui, sebelumnya terduga pelaku pernah mengancam dengan mengejar korban menggunakan Sejam. Dan hal itu telah dilaporkan ke pihak Mapolsek Woha dengan Nomor Polisi : TBL/59/V/2019/Sek.Woha. tertanggal 22 Mei 2019.

Untuk menghindari hal itu terulangi kembali, serta pertumpahan darah, pihak korban sangat berharap terhadap pihak kepolisian untuk melakukan proses secepatnya sebagaimana aturan yang berlaku.

"Kami mohon kepada bapak Kapolsek woha yang menagani kasus tersebut segera lakukan penahanan terhadap SHA dan menantunya, jangan dibiarkan keliaran, juga buat Kapolres Bima Panda, mohon bertindak, kami takut akan mengulangi lagi perbuatan yang sama untuk ke tiga kalinya sehingga menimbulkan pertumpahan darah," pungkas dia. [RIS]