Tangkal Isu Hoaks dan Paham Intoleran, Norawi Institute Gelar Diskusi Publik

Iklan Semua Halaman

.

Tangkal Isu Hoaks dan Paham Intoleran, Norawi Institute Gelar Diskusi Publik

Selasa, 30 Juli 2019
Suasana Diskusi Publik yang Digelar Anarowi Institute di Aula Gedung PGRI Mataram, Selasa (30/7/2019).


Mataram, Berita11.com— Anorawi Institute menggelar diskusi publik bertema penguatan budaya literasi masyarakat dalam rangka antisipasi penyebaran hoaks dan paham intoleran di Aula Gedung PGRI Mataram, Selasa (30/7/2019).

Sejumlah narasumber dihadirkan dalam diskusi tersebut seperti ketua MUI Provinsi NTB,  Prof Saiful Muslim,  Pelaksana Tugas Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi NTB, I Gde Putu Ariadi , Ketua KNPI NTB, Hamdan Kasim, Kabid Humas Polda NTB AKBP Purnama dan sejumlah mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Mataram.

Ketua panitia kegiatan Rahmat Riadi dalam sambutanya mengajak semua pihak menguatkan budaya literasi terhadap pemuda di Kota Mataram. Karena literasi di kalangan pemuda  literasinya masih kurang,  sehingga harus ada gerakan penguatan literasi.

“Melalui kegiatan ini diharapkan pengetahuan tentang bahaya penyebaran informasi hoaks itu meningkat dan sosialisai bahaya di tengah masyarakat masif. Sehingga masyarakat teredukasi sendiri dengan kegiatan ini,” katanya.

Menurutnya, kegiatan tersebut akan mampu mengedukasi pemuda untuk menangkal penyebaran berita hoaks dan paham Intoleran.

Sementara Wali Kota Mataram, Akhyar Abduh dalam sambutanya yang disampaikan Kepala Dinas Kominfo  Kota Mataram I Nyoman Suandiasa menjelaskan literasi menjadi cara bijak menyikapi berita hoaks, baik dalam kehidupan nyata maupun di dunia maya sehingga budaya literasi perlu ditanamkan dari lingkup terkecil yaitu keluarga.

“Melalui diskusi publik ini kita sama-sama berkomitment menguatkan budaya literasi mulai dari orang dekat kita masing-masing,” terangnya.

Ketua MUI Provinsi NTB,  Prof Saiful Muslim mengatakan jika saat ini banyak isu yang beredar tentang adanya kampus yang terpapar  radikalisme dan paham intoleran di Kota Mataram, sehingga harus ada gerakan yang mampu membendung paham itu. Semua lembaga seperti MUI harus hadir memberikan bimbingan supaya mereka tidak larut dalam paham itu.

“Kita akan bimbing mereka, jika mereka sudah terpapar radikal dan intoleran itu,  dengan memberikan bacaan yang benar dan tidak menjurus kepada paham itu,” ungkap Saiful Muslim.

Lebih lanjut ia memaparkan tentang media sosial yang harus digunakan sebagai medium bermuamalah.

“Dengan bermedsos, kita tidak mengembangbiakkan intoleran dengan dalih kebebasan berpendapat. Media sosial harus digunakan untuk bermuamalah, tentu yang baik-baik untuk dikonsumsi,” cetusnya.

Secara terpisah, Ketua KNPI NTB, Hamdan Kasim mengatakan informasi bohong yang memprovokasi didukung cara pandang atau bacaan anak muda yang minim. Karena jika ditelaah penyebab sikap intoleran, awalnya tidak terlepas dari informasi yang diterima awal.

“Saya coba gabungkan antara hoaks dan intoleran. Sebenarnya ini soal cara pandang, artinya apa yang kita lihat itulah yang terjadi dan dianggap sebagai kebenaran. Hal itu disebabkan oleh minimnya budaya literatus seseorang, sehingga semua situs berita di anggap semua benar,” ungkapnya.

Kegiatan diskusi ditutup dengan deklarasi bersama anti  berita hoaks dan paham intoleran oleh semua peserta dan narasumber. [US/R]