Wajah Lesu Investasi di Kabupaten Bima, Heriman: belum ada yang Serap Tenaga Kerja Gemuk

Iklan Semua Halaman

.

Wajah Lesu Investasi di Kabupaten Bima, Heriman: belum ada yang Serap Tenaga Kerja Gemuk

Senin, 29 Juli 2019
Ilustrasi. Ist.


Bima, Berita11.com— Kegiatan investasi di Kabupaten Bima masih lesu. Bahkan belum ada perusahaan yang mampu menyerap tenaga kerja di atas 30 orang. Data Dinas Penanaman Modal dan Perijinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Bima, investasi didominasi perusahaan modal dalam negeri (PMDN).

Kepala Bagian Perekonomian Sekretariat Daerah Kabupaten Bima, Heriman SE M.Si mengakui, wajah lesu investasi sangat mempengaruhi tingkat pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Bima.

“Memang problem kita sekarang belum ada investor skala besar. Kalaupun ada perusahaan itu paling banyak baru menyerap 20 hingga 30 tenaga kerja. Sementara kita menginginkan bisa menyerap minimal 100 tenaga kerja dan bisa sampai di atas 1.000 tenaga kerja,” katanya di Setda Kabupaten Bima, Selasa (23/7/2019) lalu.

Menurut Heriman, faktor keamanan investasi sangat mempengaruhi iklim usaha di Kabupaten Bima. Apalagi sektor pertambangan memiliki resistensi kuat terutama dari masyarakat. Hal tersebut menghambat upaya pemerintah daerah mewujudkan investasi skala besar, melobi sejumlah perusahaan skala besar untuk menanamkan modalnya di Kabupaten Bima.




Dari aspek lain, Pemkab Bima juga belum menetapkan rencana detail tata ruang sehingga menyebabkan masih adanya tumpang tindih lokasi kegiatan usaha berbagai sektor. Di luar sektor pertambangan dan energi, Kabupaten Bima masih memiliki potensi sumber daya alam (SDA) lain seperti bawang merah, bawang putih dan jagung dari sektor pertanian. Selain itu, potensi pengembangan ternak dari sektor peternakan serta sektor kelautan dan perikanan.

“Investasi adalah salah satu jalan mempercepat pertumbuhan ekonomi. Kita juga coba untuk komoditas jagung, sektor peternakan dan perikanan,” ujar Heriman.

Dikatakannya, kendati investasi di Kabupaten Bima masih lesu, namun ada harapan pertumbuhan perekonomian masyarakat yang ditunjang semakin mudahnya proses penerbitan ijin melalui pelayanan terpadu satu pintu dan pengajuan dokumen syarat melalui sistem online.

Berdasarkan data yang diperoleh Berita11.com, perusahaan dengan investasi skala besar di Kabupaten Bima yaitu perusahaan tambang PT Sumbawa Timur Mining pemilik kontrak karya di wilayah Parado. Tahun 2017 realisasi investasi perusahaan tersebut 87.971.167,00 dollar. Perusahaan pemilik kontrak karya, tersebut juga memiliki ijn rencana penggunaan tenaga kerja asing (RPTKA). Akan tetapi perusahaan tersebut masih dalam tahap ekplorasi atau penyelidikan kadar, letak, bentuk dan cadangan mineral, walaupun di wilayah sebelah di Kabupaten Dompu perusahaan tersebut memasuki tahap studi kelayakan (FS) dan telah menggelontorkan investasi triliunan rupiah.

Adapun investasi skala sedang di Kabupaten Bima yaitu PT Tirta Mas Mutiara, perusahaan budidaya kerang dan budidaya mutiara yang berlokasi Desa Rupe Kecamatan Langgudu dengan rencana investasi Rp47 miliar dan realiasi investasi pada tahun 2015 sebesar Rp38.199.804.000.

Investasi lain yaitu di sektor pariwisata dilakukan PT Sumbawa Point Lodge. Bidang usaha cottage dan wisata tirta di Dusun Woro Desa Paradowane Kecamatan Parado Kabupaten Bima dengan luas lahan 10.000 meter per segi. Rencana investasi perusahaan $1.200.000 dan $800.000, sedangkan realisasi invetasi tahun 2016 sebesar $20.000.  

Investasi pada sektor yang sama yaitu PT Labianca Rosa Beach cottage setara hotel bintang 3 di Dusun Kalo Utara, RT 09 RW 05 Desa Pai Kecamatan Wera Kabupaten Bima dengan luas lahan  15.000 meter per segi. Rencana investasi $2.100.000 dan realisasi invetasi tahun 2017 sebesar $304.185.

Di luar sejumlah sektor tersebut, kegiatan usaha di Kabupaten Bima didominasi PMDN yakni usaha UMKM yang belum signifikan menggerakan perekonomian secara makro maupun menyerap tenaga kerja.

Pada skala nasional investasi dan nilai PMA cenderung fluktuatif, kendati setiap tahun PMDN cenderung progres, sama seperti sektor-sektor kecil di Kabupaten Bima.

Sebelumnya, Komisaris Hotel Kalaki Bima, Dedi Kuswenda mengisyaratkan akan memindahkan kegiatan investasinya di Lombok karena kegiatan investasi di Bima tidak aman. [RD]