Gandeng BNNK Bima, Mahasiswa PPL/KKN Terpadu STKIP Taman Siswa Gelar Seminar Bahaya Narkoba

Iklan Semua Halaman

.

Gandeng BNNK Bima, Mahasiswa PPL/KKN Terpadu STKIP Taman Siswa Gelar Seminar Bahaya Narkoba

Kamis, 01 Agustus 2019
Foto Bersama Panitia Seminar tentang Narkoba yang juga Mahasiswa Peserta PPL/KKN Terpadu Angkata IV Tahun 2019 STKIP Taman Siswa Bima dengan Para Pemateri dari BNNK Bima, Babinsa dan Pemerintah Desa Usai Seminar/ Penyuluhan di Kantor Desa Tenga, Rabu (31/7/2019).


Bima, Berita11.com— Peredaran narkotika dan obat-obatan terlarang menjadi ancaman serius bagi generasi muda. Hal tersebut menjadi salah satu atensi mahasiswa peserta PPL dan KKN Terpadu Angkatan IV Tahun 2019 STKIP Taman Siswa Bima dengan menggelar seminar bertajuk Bahaya Narkoba bagi Generasi Milenial, Rabu (31/7/2019).

Pada kegiatan yang digelar di Aula Kantor Desa Tenga Kecamatan Woha Kabupaten Bima tersebut, sejumlah narasumber dihadirkan di antaranya Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Bima dan Bintara Pembina Desa.

Kegiatan diikuti kepala desa, sejumlah pelajar SD dan SMP, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, tokoh agama, sejumlah elemen organisasi dan masyarakat umum Desa Tenga.

Pemateri seminar, Arif Munandar dari BNNK Bima mengajak generasi penerus bangsa mengembangkan diri dengan ilmu dan kegiatan yang bermanfaat serta berani mengatakan tidak kepada Narkoba dan segala zat adiktif lainnya (say no to drugs).

Dikatakannya, perkembangan teknologi yang semakin cepat menjadikan Indonesia masuk dalam pusaran ancaman darurat Narkoba. Selain itu, Narkoba adalah senjata yang melemahkan bangsa. Berbagai cara dilakukan menghancurkan generasi muda. Uang negara yang dihabiskan untuk rehabilitasi pencandu Narkoba Rp72 triliun per tahun, sementara Rp31 triliun adalah hasil korupsi. Adapun angka kematian para pecandu Narkoba mencapai 50 orang per hari dihitung dari setiap provinsi.

Lebih lanjut Arif Munandar menjelaskan penyebab Narkoba selalu ada di Indonesia.  Di antara penyebab itu karena Indonesia adalah negara kepualaun terbesar, sehingga jalur peredarannya dari luar melalui jalur laut. Permasalahan lainnya, karena  faktor keamanan.

Arif menyebut, 50 persen penyalahgunaan Narkoba terjadi dalam lembaga pemasyarakatan. Pengguba Narkoba di Indonesia mencapai angka 3.337.000 jiwa per tahun. Narkoba jenis sabu-sabu paling banyak disuplai negara Cina. Bahkan setiap hari  mencapai 50 kilogram dan dalam setahun mencapai 250 ton.

Dijelaskan Arif, Narkoba memiliki 739 jenis dan yang beredar di Indonesia sebanyak 73 jenis, sementara di negara lain hanya mencapai 5-6 jenis. Kejahatan Narkoba menjadi salah satu ancaman yang paling serius untuk ditangani oleh seluruh elemen mengingat penyalahgunaan dan penyelundupan Narkoba sudah masuk kategori luar biasa.

Sementara itu, pemateri lainnya, Imam Arif Cahyadin menyebutkan dari catatan kasus penyalahgunaan Narkoba di NTB, 40 persen terjadi di Kecamatan Woha Kabupaten Bima. Wilayah Bima menjadi sasaran utama dan merupakan pengguna terbanyak di Propinsi NTB.

Selain itu, berdasarkan catatan aparat, Kecamatan Woha merupakan wilayah dengan jumlah transaksi paling banyak. Ciri-ciri pengguna Narkoba ditandai perubahan perilaku seperti menyukai mengasingkan diri. Penanganan terhadap masalah penggunaan Narkoba dapat dilakukan dengan mengukuhkan ajaran agama Islam. Selain itu, dengan meningkatkan peran keluarga dan peran masyarakat dalam memperkuat hubungan sosial.

“Selain itu juga bisa dilakukan sosialisasi, tes urin, regulasi desa dan memberdayakan Satgas,” sebut Imam.

Dijelaskannya, sesuai Undang-Undang Nomor 35/2009 tentang Narkotika, narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan.

Narkotika dibagi tiga golongan yaitu golongan I seperti heroin/putaw, ganja, cocain, opium, dan lain sebagainya. Golongan I tidak digunakan dalam pengobatan dan berpotensi menyebabkan ketergantungan bagi pemakainya, sedangkan golongan II terdiri dari morfin, pethidin, dan metadona yang terkadang digunakan sebagai alternatif dalam pengobatan atau terapi. Golongan III seperti codein, etil, dan morfin (dionin) berpotensi ringan menyebabkan ketergantungan dan banyak digunakan dalam terapi. Adapun untuk psikotropika dibagi empat golongan yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan syaraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental perilaku.

“Masing-masing zat tersebut memiliki perbedaan dalam penggunaannya; dihisap, dihirup, ditelan, dan disuntik,” katanya.

Imam menambahkan Narkoba memiliki dampak yang sangat berbahaya bagi otak manusia bahkan hingga menyebabkan kematian. Berbagai permasalahan biasanya muncul setelah orang mengkonsumsi Narkoba mulai dari dari penilaian yang salah (disorientasi ruang dan waktu), kegelisahan akut, paranoid, kecanduan, pandangan kabur, perilaku aneh, tidak menentu dan kadang kasar, halusinasi, depresi, sakau, bahkan bisa menyebabkan penggunanya meninggal.

“Saat ini BNN sedang menggalakkan kebijakan wujudkan Generasi Indonesia Emas Bersih Narkoba 2045 dengan konsentrasi pengurangan permintaan.

Pada kegiatan seminar tersebut, BNNK Bima juga mengedukasi peserta dengan menunjukan poster jenis-jenis narkotika serta menjelaskan bahaya dari tiap jenis narkotika. [RD]