Ini Bedanya Dosen STKIP Taman Siswa dengan Kampus lain

Iklan Semua Halaman

.

Ini Bedanya Dosen STKIP Taman Siswa dengan Kampus lain

Kamis, 22 Agustus 2019
Ketua LPM STKIP Taman Siswa Bima, Muhammad Yusuf.

Bima, Berita11.com— Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Taman Siswa Bima memiliki keunggulan tersendiri yang berbeda dengan kampus lain serta kualitas dosen yang terus ditingkatkan.

Kampus setempat menerapkan standardisasi tinggi terhadap tenaga pengajar atau dosen dalam bentuk Rapor Beradab yang menjadi salah satu tolok ukur desain pembiayaan di kampus setempat. Salah satu bentuknya pelaksanaan iklim zikir. Setiap tahun SOP kompetensi dosen diperbarui.

Hal tersebut disampaikan Ketua Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) STKIP Taman Siswa Bima, Muhammad Yusuf.

“Sejak awal terpilihnya Pak Doktor Ibnu Khaldun, memang kami sudah merencanakan bahwa setiap dosen ini diberikan rapor untuk mengukur progres, peningkatan kualitas dosen. Ada lima item penilaian di rapor, rapor tri dharma perguruan tinggi di dalamnya, kalau STKIP Tamsis menyebutnya rapor beradab yaitu pendidikan dan pengajaran dan ada tiga Edoma (evaluasi dosen oleh mahassiswa), kepatuhan dalam pengumpulan RPS, RTM,” ujar Muhammad Yusuf di kampus STKIP Taman Siswa Bima, Rabu *21/8/2019).

Dikatakannya, salah satu indikator penilaian kinerja dosen dengan melihat apakah dosen menjadi bagian pembimbing akademik. Indikator kedua, penelitian dan pengembangan, sehingga pada setiap semester dosen diwajibkan harus mengajukan penelitian. Dari hasil pengajuan itu, LPM memberikan skor.

“Saat hanya mengajukan penelitian dan saat kalau sudah lolos (proposal penelitian) kami juga memberikan skor yang tinggi. Kedua untuk penelitian dan pengembangan, ada publikasi ilmiah dari dosen. Diharapkan mempublikasi jurnal atau diposting atau diseminarkan pada pertemuan pertemuan yang sifatnya nasional. Ketiga, publikasi ilmiah (pada) seminar nasional dan internasional,” ujarnya.


Poin lainnya,  berkaitan tridharma perguruan tinggi atau pengabdian pada masyarakat. pada aspek tersebut LPM mengamati aktivitas  dosen yang menjadi bagian pembimbing lapangan penelitian atau penelitian kreativitas mahasiswa.

“Sejauhmana sosialiasi kampus mereka ikuti,  misalya ada katerikatan dengan kampus, mereka berupaya mencari mahasiswa sebanyak mungkin dari pihak lembaga memberikan poins khusus bagi dosen-dosen yang bekerja atau membawa mahasiswa. Poin pengabdian kepada masyarakat sejauhmana keterlibatan dosen-dosen dalam aktivitas kemasyarkatan baik di tingkat lokal maupun nasional, bahkan internasional,” katanya.

Disebutkannya, poin keempat penilaian terhadap kinerja dosen yaitu berkaitan program unggulan STKIP Taman Siswa Bima. Setiap Jumat kampus setempat melaksanakan Jumat Duha yang isinya Salat Duha Bersama.

“Ada kajian duha. Juga diikuti oleh ikhwan dan akhwat, perempuan dan laki-laki. Paling menarik bahwa setiap dosen diberikan kesempatan untuk menjadi pemateri dalam Kultum dan memandu membaca Alquran dan tidak semua dosen menjadi siap dan ini menjadi poin tersendiri bagi dosen pada program unggulan STKIP Tamsis. Kalau yang laki-laki diberikan kesempatan untuk naik panggung memberikan Kultum. Kalau yang perempuan diberikan kesempatan untuk mengikuti kajian-kajian Alquran atau haflah Alquran, juga pandu ustazah yang haflah Alquran,” katanya.

Poin lain yang menjadi acuan pihaknya dalam menilai kineja dosen, berkaitan kedisiplinan. LPM memantau tingkat kehadiran dosen di tingkat program studi maupun  di tingkat institusi. Memastikan dosen melaksanakan minimal 16 kali pertemuan (tatap muka) dengan mahasiswa. Setiap akhir semester, LMP melaksanakan monitoring dan evalusi tingkat kehadiran dosen.

“Biasanya kami di LPM melakukan Monev setiap akhir semester. Berapa kali dosen ini mengikuti perkuliahan atau target yang diberikan oleh kampus. Kehadiran di institusi, untuk tingkat institusi kami punya finger print (absen elektronik) yang mengontrol secara tepat kehadiran dosen itu di institusi. Kewajiban hadirnya empat hari untuk satu bulan. Item-item itu terdiri dari 13 item menjadi acuan penilaian kami di LPM dan kami sudah mengeluarkan dua kali rapor, tahun 2015, 2017, kemudian 2019 ini,” katanya.

Dikatakannya, sebagaimana input dan sara para dosen senior di kampus setempat, evaluasi akan dilaksanakan rutin setiap tahun. Karena di kampus setempat pelamar yang hendak menjadi dosen tergolong tinggi.

“Jadi, pak ketua kami punya konsep yang luar biasa. Jadi, dosen kalau tidak melakukan penelitian dalam satu tahun kami, bisa saja diturunkan statusnya dari dosen tetap menjadi bukan dosen tidak tetap, ada sanksinya. Jadi begitu, upaya kami melakukan peningkatn mutu. Dosen diterima terus, jadi yang lama tidak hanya diam saja, tidak melakukan penelitian tridharma perguruan tinggi.  Rapornya menjadi acuan,” kata Muhammad Yusuf.

Sementara itu, Ketua STKIP Taman Siswa Bima Dr Ibnu Khaldun M.Si mengatakan, secara rutin pihaknya memperbarui SOP tentang dosen. Hal tersebut dilakukannya dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan dalam mewujudkan visi beradab dan kewirausahaan.

“Kami terima dosen yang punya setoran awal iklim zikirnya, lalu publikasi nasional dan internasional,  dan rapor ini menjadi desain pembiayaan standar untuk mulai tahun ajaran,” katanya.

Kampus setempat juga memiliki target inkubasi teknologi.  Tahun 2019 ini membuka bengkel wirausaha yang diisi dengan karya-karya mahasiswa seperti teknologi. Pada tahun 2019 STKIP Taman Siswa Bima memiliki dua calon wisudawan yang berhasil menggarap dan mengembangkan aplikasi tentang sistem informasi tata kelola perpustakaan dan aplikasi Gojek satu kecamatan.

“Kami akan membeikan penghargaan, akan kami utus ke Bali mereka untuk mengikuti hari teknologi nasional di Bali tanggal 28 Agustus, karena kami punya target inkubasi teknologi. Kami mulai tahun ini buka bengkel wirausaha dengan karya-karya mahsiswa baik teknologi dan sebagainya,” katanya. [RD]