PLTU 1x10 MW Bonto Tetap Dikebut, Pelaksana Proyek dari China

Iklan Semua Halaman

.

PLTU 1x10 MW Bonto Tetap Dikebut, Pelaksana Proyek dari China

Rabu, 14 Agustus 2019
Manager PLN (Persero) UP3 Bima, Maman Sulaiman. Foto US Berita11.com.


Kota Bima, Berita11.com— Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Bonto dirancang dan mulai dibangun sejak tahun 2009 silam. Setelah tidak jelas penyelesaiannya, proyek pembangkit tenaga batubara tersebut akan dikebut. Namun pembangkit yang dibangun bukan lagi 2x10 (120) Megawatt sesuai rencana awal, melainkan 1x10 MW.

Hal tersebut dibenarkan kepala PLN (Persero) Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Bima, Maman Sulaiman.

“Berkaitan PLTU, di kompleks Bonto di bawahnya sedang dibangun PLTU Bima, tetap jalan 1x10 MW, progresnya sekarang (rekayasa) sipil lagi berjalan. Bangunannya sudah jadi, jadi  bangunan tempat mesin. Sekarang lagi proses pemasukan mesin generator,” kata Maman di kantor PLN UP3 Bima, kemarin.

Dijelaskannya, beberapa infrastruktur yang sedang dikebut yaitu pengerasan jalan dan sandaran ponton yang memuat batubara. Pelaksana proyek tersebut perusahaan dari China. Jika sudah rampung selanjutnya akan diserhkan kepada PT Rekadaya Elektrik sebagai kontraktor dalam negeri.

Adapun untuk jaringan transmisi atau Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 70 Kv akan menggunakan jalur yang sama.

“Di samping PLTMG, nanti ada gardu induknya di Bonto juga. Masih satu kompleks, satu jalur transmisi, tinggal nambah satu atau dua tower saja, nggak banyak. Ini juga nambah pasokan pembangkit. Karena rata-rata pertumbuhan konsumsi litrik di kita 6-10 persen,” ujar Maman.

Menurut pengganti Dony G ini, keberadaan pembangkit batubara akan mendukung dua generator PLTMG yang lebih awal menyuplai listrik hingga 50 MW. Pada tahun 2020 mendatang kebutuhan listrik diprediksi mencapai 52 MW untuk tiga wilayah cover area PLN UP3 Bima seiring pertumbuhan konsumen listrik.

“Jadi kalau anggap 10 persen, sekarang posisi 48 MW, sehingga tahun depan 52 MW. Kalau kita tidak memenuhi tambahannya kuatir kita. Kalau defisit, yang rugi masyarakat dan PLN juga,” ujarnya.

Berkaitan dampak lingkungan atas keberadaan PLTU, Maman memastikan hal itu dapat diminimalisasi. Karena pembangunan PLTU telah melalui perencanaan matang.    

“Nanti kita ada teknologi, dari (bituminous) yang kotor kita bersihkan. Jadi, sebelum bahan bakar itu sampai ke atas, itu disemprot dulu. Itu teknologinya sudah ada, makanya nanti akan kita pantau pelaksanaannya di lapangan,” ujarnya.

Menurutnya, masyarakat tidak perlu kuatir walaupun keberadaan pembangkit batubara berada sekitar laut. Demikian halnya tentang potensi paparan melalui udara dari hasil fly ash cerobong PLTU.

Sementara itu, secara terpisah akademisi lingkungan STKIP Taman Siswa Bima yang juga peneliti lingkungan di NTB, Zulharman M.Ling mengatakan, penggunaan batubara sebagai bahan bakar dalam jumlah banyak berpotensi memiliki risiko terhadap lingkungan.

“Menjadi pertanyaan adalah bagaimana dokumen pengelolaan lingkungannya. Apalagi kondisi Teluk Bima sebagai pusat lalu lintas nelayan dan perhubungan. Menarik untuk ditelaah dokumen lingkungan PLTU Bonto tersebut, apakah seluruh aspek terdampak sudah masuk dalam analisis atau penghitungan sehingga dapat diturunkan rencana pengurangan risiko dampak yang ditimbulkan,” katanya.

Menurutnya, alih fungsi lahan sekitar PLTU Bonto juga harus menjadi perhatian, karena hampir seluruh bukit sekitarnya sudah tidak tegak lagi.

Sebelumnya, rencana awal PLTU Bima yang dibangun di Bonto 2x10 MW. Rencana penggunaan dan konsumsi batubara dari pembangkit 179.290 ton per tahun dan perkiraan kebutuhan per hari 498 ton. Adapun setelah perubahan skema kekuatan pembangkit menjadi 1x10 MW, kebutuhan konsumsi batubara lebih kurang 41,1 ton per hari jika pola operasi 24 jam dan efisiensi 65 persen.

Sesuai data Berita11.com,  tercatat lima tenaga kerja asing yang menjadi tenaga untuk proyek PLTU/ PLTMG Bonto di antaranya Sahiwal Pak asal Canada yang menjabat sebagai site manager,  Thomas Karl Kuchene asal Jerman sebagai project manager, Carlos Manuel Salinas Ruiz sebagai quality control manager dan Gerald D Gerhard Adam sebagai kontraktrol pelaksana PT Man Diesel dan Turbo Indonesia.

Pada tahap awal konstruksi PLTU Bima pada tahun 2009, dilaksanakan PT Moca. [US]