Semester Pertama Outflow Uang Rupiah di NTB Rp5,83 Triliun, Inflow Rp5,47 Triliun

Iklan Semua Halaman

.

Semester Pertama Outflow Uang Rupiah di NTB Rp5,83 Triliun, Inflow Rp5,47 Triliun

Jumat, 02 Agustus 2019
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB Achris Sarwani Memaparkan Tentang Permintaan Uang Kartal Semester 1 Tahun 2019, Jumat (2/7/2019).


Mataram, Berita11.comPermintaan uang kartal sampai semester 1 tahun 2019 di Provinsi NTB menunjukkan peningkatan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Sampai semester 1 tahun 2019 tercatat net outflow sebesar Rp358,92 miliar.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB Achris Sarwani mengatakan posisi net outflow tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan net outflow pada periode yang sama tahun sebelumnya yang mengalami net outflow sebesar Rp288,29 miliar.  

Posisi net outflow tersebut menunjukkan  uang diedarkan oleh Kantor Perwakilan BI NTB melalui perbankan lebih besar dibandingkan dengan uang yang disetorkan oleh perbankan ke Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB.

Dengan kata lain, permintaan uang kartal oleh masyarakat di perbankan untuk memenuhi berbagai kebutuhan semakin meningkat,”  katanya di Mataram, Jumat (2/8/2019).

Dijelaskan, jumlah inflow uang rupiah di NTB pada semester 1 tahun 2019 sebesar Rp5,47 triliun atau mengalami pertumbuhan sabesar 5% dibandingkan dengan triwulan 1  tahun 2018 yang hanya sebesar Rp5,19 triliun. Porsi inflow paling besar terjadi pada Juni 2019 yaitu sebesar Rp1,62 triliun disusul Januari 2019 sebesar Rp1,51 triliun.

Pola ini sama dengan tahun sebelumnya di mana, inflow yang besar pada Juni merupakan dampak dari kondisi pascalebaran. Adapun inflow yang terjadi pada Januari juga merupakan tren tahunan di mana arus uang akan masuk setelah momentum libur Natal dan akhir atau awal tahun.

Dari sisi outflow uang rupiah di NTB pada semester 1 tahun  2019 tercatat mencapai Rp5,83 triliun atau mengalami pertumbuhan sebesar 6% dibandingkan dengan triwulan 1  tahun 2018 yang hanya Rp5,48 triliun. Jumlah outflow yang paling tinggi terjadi pada Mei 2019 yaitu sebesar Rp2,77 triliun disusul April 2019 sebesar Rp1,46 triliun.

Tingginya outflow pada bulan Mei 2019 merupakan tren tahunan mengingat pada bulan Mei 2019 bertepatan dengan momentum puasa Ramadan dan Idul Fitri, sedangkan penarikan yang tinggi pada April 2019 bertepatan dengan pencairan bantuan gempa Lombok 2019 serta pencairan dana desa,” katanya.

16 KUPVA BB Tahun 2019 di Provinsi NTB

Sesuai Pasal 11 Peraturan Bank Indonesia No. 18/20/PBI/2016 tentang Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan Bank (KUPVA BB), diatur bahwa badan usaha bukan bank yang akan melakukan kegiatan usaha sebagai penyelenggara KUPVA BB wajib terlebih dahulu memperoleh izin dari Bank Indonesia.

Achris menjelaskan, perkembangan sampai ini, pelaku usaha penyelenggara KUPVA BB di Provinsi NTB secara umum telah memiliki kesadaran terkait dengan perizinan dan pelaporan. Hal ini terbukti dengan peningkatan jumlah KUPVA BB yang berizin dari 9 (sembilan) KUPVA BB berizin pada tahun 2017 menjadi 16 KUPVA BB berizin pada tahun 2019.  Namun demikian, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB tetap akan melakukan monitoring dan pemeriksaan terhadap KUPVA di lapangan bersama Kepolisian Daerah sesuai dengan kebutuhan.

Pada tahun 2019 terdapat dua perusahaan yang mengajukan izin sebagai KUPVA BB berizin yang seluruhnya berada di Lombok Timur.


“Saat ini proses perizinan keduanya sudah pada tahap akhir dari keseluruhan rangkaian proses perizinan. Sehingga apabila proses perizinan dua calon KUPVA BB tersebut selesai, maka terdapat 18 KUPVA BB berizin di Provinsi NTB,” katanya. [RD]