Banyak Kepala Daerah Jabat Ketua KONI, Ruslan: APH harus Turun Tangan!

Iklan Semua Halaman

.

Banyak Kepala Daerah Jabat Ketua KONI, Ruslan: APH harus Turun Tangan!

Selasa, 24 September 2019
H Ruslan Turmudzi.


Mataram, Berita11.com— Kasus korupsi yang menjerat Menpora Imam Nahrawi berkatian dana hibah KONI berpotensi terjadi di NTB. Itu menyusul, sejumlah pejabat publik dari mulai bupati, wakil wali kota, pimpinan dan anggota DPRD di beberapa wilayah di NTB terpantau masih aktif merangkap menjabat Ketua KONI.

Padahal, dalam aturan. Yakni, UU Nomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional (SKN), serta Peraturan Pemerintah Nomor 16 tahun 2007 tentang Penyelenggaraan Keolahragaan, telah melarang bagi siapapun pejabat publik memegang pimpinan KONI.

Hal ini diperkuat dengan adanya edaran dari Kemendagri sebanyak dua kali. Yakni, SE Nomor 800/2398 tahun 2011, SE nomor 800/148 tanggal 17 Januari 2014 tentang pejabat publik tidak diperkenankan menjabat Ketua KONI.

“Di sinilah kita minta aparat penegak hukum (APH) bergerak. Karena, aturan sudah jelas melarang hal itu. Mengingat, ada potensi pelanggaran yang dilakukan pejabat publik manakala memegang jabatan Ketua KONI itu,” ujar Anggota Fraksi Bintang Perjuangan Nurani Rakyat (FBPNR) H. Ruslan Turmudzi menjawab wartawan di kantor DPRD NTB, Senin (23/9/2019).

Politisi PDIP itu mengaku, perlu mengingatkan berkaitan aturan pelarangan rangkap jabatan pejabat publik memegang jabatan Ketua KONI. Lantaran dikuatirkan menimbulkan konflik kepentingan. Apalagi, yang dikelola itu adalah dana APBD yang tidak sedikit jumlahnya.
Menurut Ruslan, saat penyusunan Perda Keolahragaan di NTB pada tahun 2017 lalu, pihaknya telah mewanti-wanti agar pasca-Perda itu terbentuk, maka Pemda kabupaten/kota harus mengikuti aturan tersebut.

“Tapi aneh, saat kepengurusan KONI di NTB mematuhi aturan itu, namun tidak pada kepengurusan KONI kabupaten/kota. Di sana, masih banyak bercokol pejabat publik yang rangkap jabatan memegang Ketua KONI. Sehingga, aturan UU, PP, hingga dua kali SE Mendagri plus adanya perda provinsi NTB juga tidak dipatuhi,” terang dia.

Ruslan menjelaskan, dari diskusinya dengan sesama anggota FBPNR DPRD NTB yang terdiri dari gabungan Parpol. Yakni, PDIP, Hanura dan PBB, maka sejumlah wilayah di NTB yang masih Ketua KONI dipegang pejabat publik berada di Kota Mataram dijabat Wakil Wali Kota H Mohan Roliskana, di Kabupaten Bima dijabat Bupati Hj. Indah Damayanti Putri, Sumbawa dijabat Wakil Ketua DPRD, Lombok Tengah dijabat Ketua DPRD setempat yang kini menjadi anggota DPRD NTB, HM. Fuaddi dan Kota Bima dijabat anggota Wakil Wali Kota Bima, Feri Sofiyan SH. [RD]