Cerita di Balik Almarhum BJ Habibie dan IPTN, Ini Kisah Dae Olan Bersamanya

Iklan Semua Halaman

.

Cerita di Balik Almarhum BJ Habibie dan IPTN, Ini Kisah Dae Olan Bersamanya

Sabtu, 14 September 2019
Dae Olan dan Prof. Dr. Ing Baharuddin Jusuf Habibie dengan Pesawat hasil karya anak bangsa N250 Gatot Kaca. Foto ist

Dompu, Berita11.Com - Sosok Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie atau yang dikenal BJ Habibie merupakan presiden Republik Indonesia yang ketiga setelah menggantikan Soeharto (Alm). Pria kelahiran Pare-pare Sulawesi selatan pada 25 Juni 1936 ini, tutup usianya yang ke 83 tahun di Jakarta pada Rabu (11/9/2019) malam sekira pukul 18.05 WIB.

Pada tanggal 26 April 1976 Pemerintah Indonesia membangun perusahaan industri pesawat terbang yang pertama kali dan satu-satunya dimiliki Indonesia di wilayah Asia Tenggara dengan nama PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio dan Eyang BJ Habibie saat itu menjabat sebagai Presiden Direkturnya.

Industri Pesawat Terbang Nurtanio kemudian berganti nama menjadi Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) pada 11 Oktober 1985. Setelah direstrukturisasi, IPTN kemudian berubah nama menjadi Dirgantara Indonesia pada 24 Agustus 2000.

Namun di balik sosok Eyang Habibie dan IPTN ini, ternyata ada satu putra daerah Kabupaten Dompu yakni Ir. Muhammad Ruslan atau biasa disapa akrab Dae Olan yang juga figur bakal calon Bupati Dompu 2020 mendatang.

Pria kelahiran 4 Agustus 1967 yang juga sebagai presiden Rai Aina Ngantu (RAN) ini, saat bekerja di IPTN sangat menyatu dengan belasan ribu karyawan yang mengembangkan pesawat bergengsi yang terkenal dengan nama N250 Gatot Kaca (1993-1999).

Saat dikabarkan meninggalnya Eyang Habibie pria yang bakal merebut EA 1 Kabupaten Dompu ini, hatinya sangat terpukul dan teringat dikala ia sedang bekerja sebagai karyawan di IPTN. Untuk mengenang almahrum mantan Presiden RI yang ketiga itu terketuk pintu hatinya untuk menceritakan pengalaman ketika bersama Eyang Habibie di IPTN.

"Kita cerita lepas aja, yah. Tahun 1993. Pada saat itu saya baru calon karyawan itu ditrial (Magang, red) selama 6 bulan baru diakui sebagai karyawan,” cerita Dae Olan, saat ditemui Berita11.com di Markas RAN, Jumat (13/9) sore.

Menurut dia, cara kerja di IPTN itu, ia ditugaskan oleh Direkturnya Eyang Habibie, kalau setiap ahli yang didatangkan dari luar itu didampingi oleh insinyur lokal. Jadi kalau tenaga ahli dari luar itu berhenti (selesai kontrak), tenaga lokal yang menggantikan.

“Kebetulan saya waktu itu ditugaskan untuk mendampingi seorang ahli asal Amerika namanya Allan Woodroof dari Boeing,” ungkapnya dengan nada sedikit sedih seolah pikirannya kembali ke masa itu.

Setiap Sabtu, lanjut Dae Olan, biasanya lembur dan pada saat itu dia bisa berkesempatan untuk belajar design. Pada suatu kali ketika ia sedang lembur, tiba-tiba Eyang Habibie masuk ke ruangan mereka dan menghampiri dia sambil menepuk bahu Dae Olan, saat itu sempat terjadi percakapan singkat antara Dae Olan dengan almahrum BJ Habibie. Ini percakapannya.

Alm. BJ Habibie : "Lagi apa? lembur yah?"

Dae Olah : "Iya, Pak!" sahut saya.

Alm. BJ Habibie : "Kamu dari mana?", Tanya beliau lagi"

Dae Olan : "Saya dari Dompu, dari NTB, Pak". Jawabnya denga sedikit kaku.

Alm. BJ Habibie : "Bagus-bagus, kerja yang bagus, yah?  Kamu harus bisa gantiin dia nanti!" kata Alm. BJ Habibie sambil terus menepuk bahunya.

Percakapan itu menjadi pengalaman Dae Olan yang sangat terkesan. Karena, menurut dia, baru status calon karyawan saja, Alm. pak BJ Habibie langsung datang semacam lagi melakukan Inspeksi.

“Beliau lewati lorong-lorong, nah dari sekian lorong itu beliau memilih ruangan persis di tempat kami bekerja.Beliau itu orangnya super sibuk, jadi ukuran perusahaan sebesar IPTN itu, tidak semua ruangan diinspeksi,” beber Dae Olan.

Menjawab pertanyaan wartawan tentang bagaimana kepribadian sosok Alm. Eyang Habibie, Dae Olan menjawab, Alm. Eyang Habibie ternyata orang yang sangat taat menjalankan perintah allah sebagai umat muslim dan hal itu yang membuat Dae Olan mengagumi sosok alm. Eyang Habibie.

“Satu lagi hal yang paling mendalam yang saya tahu, yang membuat kami kagum. Beliau tidak pernah meninggalkan puasa senin-kamis. Itu hebatnya beliau. Walaupun beliau hidup dalam ruang lingkup teknologi dan dunia barat, beliau tetap konsisten untuk puasa senin-kamis,” terangnya.

“Jadi kalau orang yang sering menjalankan puasa sunnah, beliau itu bisa dikatakan orang yang bertaqwa menurut ajaran agama. Dan itu gambaran secara personal yang paling berkesan bagi saya,” sambungnya.

Dae Olan sedikit menceritakan tentang pengalamannya saat di bagian kokpit (flight deck) itu bertugas untuk mendesain sistem. System panel, bahan-bahan perlengkapan dalam ruangan pilot, semua diuji dan dihitung. Pokoknya banyak hal-lah, sampai ke flight test.

Kata dia, Kokpit atau Flight Deck adalah sebuah ruangan khusus yang terdapat di bagian depan pesawat yang dari dalamnya pilot bisa mengendalikan pesawat terbang. Cockpit terdiri dari Flight Instrument dan Flight Control yang memungkinkan pilot untuk mengendalikan pesawat.

Sementara type jenis instrument panel pesawat udara bila dilihat dari cara penempatan posisinya yaitu
Main instrument panel (instrumen panel utama).
Overhead instrument panel (di bagian atas).
At the side instrument panel (di bagian samping).
Control pedestal instrument panel (di antara tempat duduk pilot dan co-pilot).


Penempatan posisi instrument panel di atur sedemikian rupa sehingga dapat di lihat dan di baca dengan jelas.

“Saya khusus di Divisi desain itu sendiri. Mendesain panel-panel pesawat, prototipe-prototipe di ruangan pilot itu. Itu gambaran umumnya. Untuk diketahui, dari sekian banyak insinyur itu, masing-masing hanya menguasai bagian terkecil dari pesawat itu sendiri. Jadi praktis tidak ada dari mereka itu yang bisa menjelaskan keseluruhan isi pesawat tersebut. Kecuali pak Habibie sendiri,” terangnya.

Dalam perancangannya, pesawat itu banyak Divisinya, satu divisi diisi oleh Insinyur dengan keahlian teknis yang berbeda-berbeda. Semua disiplin ilmu teknis itu ada, termasuk keselamatan bahkan Insinyur yang khusus untuk mengkaji lingkungan juga ada di dalamnya.

“Ada juga yang bekerja pada bagian Flight Test, yang bertugas menguji keseluruhan badan pesawat sampai pada pilot-pilot, untuk mengantongi sertifikat. Menguji keselamatan penumpang. Untuk seleksi pilot itupun ketat. Nah, untuk test kelayakan inilah yang membutuhkan waktu lama.” Cetusnya.

“Karena kalau pesawatnya macet atau mengalami kerusakan di atas (langit) sana, pesawat nggak bisa diparkir di samping. "Iha deka ta ese ka, tiloa parkir ta kengge" (Jika mengalami rusak di atas awan tidak bisa diparkir, kurang lebih seperti itu), apalagi berhenti sejenak di atas sana. Makanya, kenapa N250 sampai hari ini belum ada yang terbang secara resmi, itu karena belum mengantongi sertifikat kelayakan penerbangan,” beber Dae Olan.

Alm. Eyang Habibie, Dae Olan kembali menerangkan, punya sebuah filosofis yaitu "Berawal dari akhir, berakhir dari awal". Jadi, untuk memajukan dunia teknologi di Indonesia ini, Alm. Eyang Habibie memilih pesawat terbang.

“Kenapa Pak Habibie itu memilih pesawat terbang? Kenapa beliau justru mengambil teknologi yang paling rumit? Karena beliau punya asumsi, bahwa kalau kita sudah bisa bikin pesawat terbang, maka otomatis mobil serta industri-industri teknologi lainnya itu bisa kita buat bahkan kita bisa kuasai,” terang Dae Olan.

“Negara mana di Asia ini yang bikin pesawat? nggak ada kan? Yah cuma kita ini, Indonesia. Ya.. Pak Habibie itu jagonya,” pujinya.

Ia menyebutkan, IPTN yang Alm. Eyang Habibie bangun itu, menampung tidak kurang dari 17.000 karyawan, paling tidak menjadi tempat bagi para ahli teknik dan insinyur lokal untuk belajar. Lewat IPTN itulah Indonesia mencetak SDM yang menguasai teknologi. Namun, semua itu memang butuh waktu dan cost yang besar.

Sejak reformasi bergulir, Dae Olan menambahkan, IPTN pun tidak mampu melanjutkan gagasan besar itu. Padahal Pesawat N250 sudah layak terbang hanya belum mengantongi Sertifikat Penerbangan dan membutuhkan investasi yang cukup tinggi pada saat itu.

“Tapi Alhamdulillah, IPTN tidak bubar secara total melainkan direstrukturisasi bahkan namanya sudah berubah menjadi PT. Dirgantara Indonesia,”

Itulah sekelumit kisah karier Dae Olan bersama dengan nama besar Prof. Dr. (Ing) Baharuddin Jusuf Habibie dengan Industri Pesawat Terbang Nusantara yang pernah berjaya di masa Pemerintahan Presiden H. Muhammad Soeharto (Alm).

Semoga bisa menginspirasi kita semua. Khususnya Putera Puteri terbaik (generasi) Dompu ke depannya. Terakhir, teruntuk Eyang Habibie dan Eyang Soeharto, semoga mendapatkan Tempat Terbaik (Syurganya) Allaah Al Kariim. Alfaatihah! [RIS]