FUI Bima Gelar Aksi Protes Peristiwa Aparat Bersepatu Masuk Masjid di Makassar

Iklan Semua Halaman

.

FUI Bima Gelar Aksi Protes Peristiwa Aparat Bersepatu Masuk Masjid di Makassar

Sabtu, 28 September 2019
Aksi Solidaritas FUI Bima di Depan Mako Polres Bima Kota Menyikapi Peristiwa Anggota Kepolisian Bersepatu Masuk Masjid di Makassa.  Foto MR Berita11.com.

Bima, Berita11.com— Forum Ulama Indonesia (FUI) Bima yang dikoordinir Ustadz Asikin bin Mansyur menggelar aksi unjuk rasa sebagai bentuk protes atas peristiwa aparat kepolisian bersepatu yang memasuki masjid di Makassar Sulawesi Selatan. Aksi massa digelar dalam bentuk long march yang dimulai dari Lapangan Serasuba Kota Bima, Sabtu (28/9/2019).

Aksi tersebut merupakan bentuk solidaritas Umat Islam di Bima. FUI Bima menyatakan peristiwa yang terjadi di Sulsel sebagai bentuk penistaan terhadap agama. Karena masjid sebagai tempat suci ummat Islam. Protes juga berkaitan tindakan represif aparat kepolisian.
Ustad Asikin menyatakan, FUI Bima hadir untuk menyelamatkan bangsa yang dinilai sudah rusak. 

“Bahkan untuk menyelamatkan bangsa yang sesungguhnya sudah hilang dari peredaran dunia, tidak ada lagi kedaulatan. Oleh sebab itu, kaum muslimin dan para asatid ikhwan dan akhwat sekalian janganlah Anda berkecil hati dengan sedikitnya jumlah kita seperti ini, seharusnya Anda bersyukur kepada Allah subhanahu wa taala,” katanya.

Dikatakan Ustadz Asikin, kita berada di barisan yang dipilih oleh Allah subhanahu wa taala dari orang yang ada. “Kitalah yang dikuatkan oleh Allah subhanahu wa taala. Amin! Allahu Akbar!,” serunya.

Ustad Asikin juga menyampaikan, protes kaum muslimin, karena penodaan terhadap tempat ibadah umat Islam yang hanya berselang beberapa bulan saja. Sebelumnya kejadianya seorang perempuan membawa masuk alas kaki dan membawa anjing di dalam masjid.

“Kejadian kejadian terakhir ini yang telah merenggut nyawa nyawa dari mahasiswa, nyawa dari para pelajar bahkan yang paling tragis terakhir ini adalah nyawa saudara saudara kita yang bertempat tinggal di Wamena Papua, yang mana orang orang Papua membakar hidup hidup saudara kita di sana,” katanya.

Saat tiba di Mako Polres Bima Kota, massa melaksanakan salat gaib. Setelah itu, Ketua FUI Bima juga menyampaikan poin poin orasi dan tuntutan.

“Kami hadir di sini dengan aksi damai, demi Negara Kesatuan Republik Indonesia, maka pada hari ini kami ditemani dari para mahasiswa berdiri, begitu juga di dalam mempertahankan kemerdekaan hari pahlawan nasional tanggal 10 November dengan satu kata Allahu Akbar,” katanya.

Dikatakannya, FUI Bima mewakili umat Islam yang ada di Kota Bima dan Kabupaten Bima melanjutkan perjuangan para ulama, para santri, para mahasiswa mempertahankan NKRI dalam menjaga syariat Islam. Karena UUD 1945  sudah menyebutkan bahwa atas rahmat Allah.  


“Kita mengaku adanya Allah subhanahu wa ta’ala, maka semua kami berkumpul dan berbagai elemen menyampaikan atas kejadian dan keadaan negara Indonesia yang sudah sulit didapatkan jalan keluar dari persoalan ekonomi, kesehatan dan agama. Kondisi bangsa sudah karut marut dari Sabang sampai Merauke,” katanya.

Dalam orasinya, FUI Bima menyampaikan tujuh poin tuntutan di antaranya mengecam keras oknum polisi yang masuk masjid dengan memakai sepatu di Makassar Sulawesi Selatan dan diduga menembak mahasiswa hingga meninggal.

FUI mendesak pemecatan terhadap oknum anggota kepolisian yang bersepatu masuk ke dalam masjid dan yang diduga menembak mahasiswa di Kendari. Poin lainnya, menyampaikan belangsungkawa atas meninggalnya sejumlah mahasiwa dan pelajar.

Selain itu, FUI Bima juga mendesak aparat kepolisian segera menghetikan tindakan represif dalam menangani aksi-aksi masyarakat, menolak pengesaan RUU-P/KS. Poin lain tuntutan, meminta Ir H Jokowi turun dari kursi kepresidenan karena dianggap tidak mampu mengatasi berbagai peroalan bangsa seperti masalah ekonomi hingga tragedi yang menimpa warga pendatang di Papua.

Poin lainnya, FUI Bima juga mengimbau masyarakat tidak terprovokasi atas isu-isu yang dapat memicu konflik dan kekacauan.

Perwakilan pihak Polres Bima Kota, Kompol Syafrudin menyatakan, pihaknya sudah menerima apa yang menjadi tuntutan massa aksi. Atas tuntutan tersebut, pihaknya akan membuat telegram, yang selanjutkan dikirim ke Kapolda NTB.


“Semua tuntutan dari massa aksi, kami akan menyampaikan karena ini amanah dari semuanya yang harus kami teruskan ke sana. Adapun tanggapannya seperti apa, kita akan tunggu bersama sama,” katanya.

Dijelaskannya, untuk diketahui pemerintah sudah mengambil keputusan. Bahkan ada beberapa Kapolda yang sudah dicopot. “Karena itulah, tindakan dari pemerintah, (agar) bapak bapak ustad dan mahasiswa bisa menerima,” katanya. [MR]