Karhutlah di Wilayah Hukum Polres Bima Berkurang

Iklan Semua Halaman

.

Karhutlah di Wilayah Hukum Polres Bima Berkurang

Selasa, 03 September 2019
Alat Sederhana yang Dibuat Polres Bima untuk Memadamkan Api. Beberapa Waktu Terakhir Intensitas Karhutla di Wilayah Hukum Polres Bima Berkurang. Foto US Berita11.com.


Bima, Berita11.com— Kebakaran hutan dan lahan (Karhutlah) di wilayah hukum Kepolisian Resor (Polres) Bima berkurang setelah terbentuknya satuan tugas (Satgas) khusus Karhutla yang dibentuk Polres setempat.

Kasubag Humas Polres Bima, IPTU Hanafi menjelaskan, untuk mengantisipasi Karhutla, pihaknya membuat alat sederhana untuk memadamkan api yakni 100 batang kayu yang tangainya dibungkus dengan karung goni. “Kita  sudah membuat alat yang sederhana dan efektif. Kita sudah bikin lebih kurang 100. Nanti kalau ada kebakaran hutan, alat itu yang kita pakai,” ujar Hanafi di Polres Bima, Sabtu (31/8/2019) lalu.

Dikatakannya, keberadaan Satgas di antaranya yang meliputi anggota TNI seperti Babinsa, Polisi Pamong Praja, BMKG dan Basarnas telah efektif dalam upaya meminimalisasi Karhutla. Beberapa pekan terakhir, pihak kepolisian menangani Karhutla dibantu aparat TNI dan Pol PP serta BPBD. “Sekarang sudah mulai berkurang. Mungkin juga dengan adanya kesadaran masyarakat,” katanya.

Diakuinya, hingga kini pihaknya masih menunggu surat keputusan dari Bupati Bima sebagai payung hukum tugas Satgas Karhutla Kabupaten Bima.

“Ada beberapa instansi walaupun belum terbentuk legalitasnya, tapi seperti BMKG, Basarnas, Babinsa, kita tinggal menunggu surat keputusan dari Bupati Bima agar lebih punya kekuatan, kita  lebih seniergi,” ujarnya.

Meskipun intensitas Karhutla berkurang, IPTU Hanafi berharap petani tidak membersihkan lahan dengan cara membakar. Karena dapat memicu kebakaran yang lebih luas. Jika pun membuang puntung rokok agar memerhatikan dan memastikan tidak memantik api yang dapat meluas.

Berkaitan penanganan warga yang sempat diamankan berkaitan kebakaran lahan di wilayah Woha, Polres Bima hanya mengambil keterangan dari warga tersebut. karena lahan yang dibakar merupakan milik sendiri yang dibuktikan dengan surat-surat terkait. Selain itu, lokasi kebakaran itu belum termasuk lokasi atau kawasan hutan tutupan atau hutan lindung.

“Kalau pun membakar kita imbau agar sampahnya dikumpulkan dan pastikan tidak merambat. Jadi tidak sembarang dibakar. Jadi memang masyarakat kita sudah terbiasa membersihkan lahan dengan cara membakar. Tapi ini sedikit demi sedikit bisa diubah,” 
katanya. [US]