Kasus Lakalantas di Dompu Meningkat Tajam

Iklan Semua Halaman

.

Kasus Lakalantas di Dompu Meningkat Tajam

Selasa, 10 September 2019
Gambar ilustrasi.

Dompu, Berita11.Com - Kasus kecelakaan lalu lintas (Lakalantas) yang terjadi di wilayah Hukum Polres Dompu NTB tahun ini meningkat tajam jika dibandingkan dari tahun-tahun sebelumnya.

Sejak bulan Januari hingga Agustus 2019, jumlah lakalantas tercatatat 56 kasus. Meninggal dunia ada 22 orang sementara yang mengalami luka berat 13 orang dan yang luka ringan 76 orang.

Kerugian materi dari keseluruhan kendaraan baik roda dua, roda empat dan roda enam tercatat sekitar Rp114.400.000 juta. Sedangkan di tahun 2018 hanya 39 kasus, Meninggal dunia 22 orang, yang mengalami luka berat hanya 9 orang saja dan yang luka ringan tercatat 44 orang, dan kerugian materi hanya sekitar Rp96.550.000 juta.

Menurut Kanit Lakalantas AIPDA Hasanudin lakalantas terjadi kebanyakan pengendara dari roda dua yang di kendarai para pelajar tingkat SMP dan SMA sederajat.

“Lakalantas tahun ini kebanyakan pengendara di bawah umur atau remaja SMP dan SMA dan pelanggarannya didominasi tidak pake helm, yang dewasapun sebagaian juga ada yang tidak menggunakan Helm,” ungkap Hasanuddin saat di kantor Sat Lantas Polres Dompu, Senin (9/9/19) siang.

Dengan meningkatnya kasus lakalantas ini, Hasanuddin menghimbau kepada pengemudi dan pengendara terutama pada roda dua agar mematuhi rambu-rambu lalu lintas demi menjaga keselamatan pengendara itu sendiri.

“Diharapkan kepada pengendara agar menggunakan jalur sesuai aturan, melengkapi surat-surat kendaraan dan patuhi rambu-rambu lalu lintas, hati-hati berkendara jangan terlalu ngebut dan terutama sekali gunakan helm,” imbuhnya.

Ia menyebutkan, mengacu pada Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu lintas dan angkutan jalan. Dalam pasal 77 ayat 1 menjelaskan bahwa setiap orang mengemudi kendaraan bermotor di jalan wajib memiliki Surat Ijin Mengemudi (SIM) sesuai dengan kendaraan yang dikemudi.

Dalam Undang-undang tersebut, lanjut Hasanuddin, anak dibawah umur yang belum mimiliki SIM tidak diperbolehkan untuk mengendarai sepeda motor, untuk itu, ia kembali menegaskan terhadap orang tua untuk tidak memberikan ijin terhadap anak untuk mengendarai jika berpergian kemana-mana.

“Dari Undang-undang Nomor 22 itu artinya melarang anak-anak di bawah umur 17 tahun. Mohon diikuti aturan itu. Intinya UU melarang anak berkendara. Jadi saran saya tugas orang tua adalah mengantar dan menjemput anaknya jika bepergian terutama pergi dan pulang sekolahnya,” pungkasnya. [RIS]