Gerak Jalan Tepat Waktu di Dompu Dinilai Kental Nuansa Kepentingan

Iklan Semua Halaman

.

Gerak Jalan Tepat Waktu di Dompu Dinilai Kental Nuansa Kepentingan

Minggu, 08 September 2019
Salah satu peserta dari Ormas Pemuda Kelurahan Kandai Satu, Depan Kiri, Muhammad Fadlin, Depan Kanan, Amor Meok. Foto ist


Dompu, Berita11.Com - Gerak jalan tepat waktu 17 Kilometer (Km) merupakan momentum hari kemerdekaan Republik Indonesia yang dimana kemerdekaan itu telah terbebas dari penjajahan, penindasan serta ketidak adilan.

Namun miris apa yang telah terjadi khususnya di Daerah Kabupaten Dompu NTB, bahwa ketidakadilan itu masih juga marak terjadi. Seperti lomba gerak jalan tepat waktu 17 Km yang digelar tersebut dinilai kental nuansa kepentingan dan menyisahkan rasa kekecewaan yang begitu besar  sejumlah warga dan peserta lomba.

Salah satu peserta lomba Muhammad Fadlin (34) warga Kelurahan Kandai Satu kepada Berita11.Com mengatakan, pihaknya merasa kecewa apa yang dilakukan panitia atau dewan juri yang seolah tidak ada keadilan dalam penilaian. Mungkin saja, menurut dia, juri telah menilai dengan mata sebelah sehingga menjuarai peserta yang menurut mereka berjalan di luar dari aturan.  

“Saya sebagai peserta lomba sangat kecewa dengan hasil pengumuman pemenang kegiatan jalan tepat waktu 17 Km. Apa lagi yang juara pada kategori organisasi diraih oleh Madridista yang pada saat kegiatan hanya jadi pelengkap dan ikut serta untuk memeriahkan HUT RI saja,” ujarnya, Minggu (8/9/19) pagi ini.

Fadlin menuding, dari banyaknya regu dari Kelurahan Kandai Satu yang ikut serta dalam kegiatan tersebut, 1 pun regu tidak ada yang mendapat juara. Karena belajar dari kegiatan-kegiatan seperti ini di tahun-tahun sebelumnya sangat ironi.

“Belajar tahun sebelumnya, regu dari Kelurahan Kandai Satu yang masuk nominasi juara karena memang miliki kualiatas yang ditetapkan oleh panitia saat mengikuti lomba, tapi tahun ini hasil penilaian dari panitia sangat jauh dari kata jujur dan sportivitas,” tudingnya.

Salah satu peserta lomba lainnya, Rudi Hartono mengungkapkan, tepatnya di jalan menuju Raba baka Desa Matua ia melihat bahwa regu Madridista terlihat barisannya berantakan dan peserta banyak yang tidak masuk dalam barisan.

“Saya melihat sendiri regu itu (Madridista, red) berantakan, banyak yang lari keluar dari barisan dan pesrtanya ada juga yang naik mobil, kenapa mereka bisa dapat juara,” heran dia. 
  
Sebelumnya, usai pengumuman juara salah satu warga Desa Mbawi Muhammad Kodratul Aldi Irfan alias Brendi menuturkan, jika kegiatan itu hanya dijuarai oleh orang-orang terdekatnya lebih baik tidak usah diadakan, karena menurut dia, hanya merugikan anggaran negara saja.

Sementara, warga yang ikut kegiatan lomba itu, telah berusaha semaksimal mungkin menjalankan dengan tertib aturan yang telah disepakati dan mensesuaikan dengan waktu yang ditetapkan akan tetapi menurut dia, pihak panitia sendiri yang tidak sportifitas menjalankan aturan itu.

”Menurut saya ini tidak profesional apa yang dilakukan oleh panitia lebih-lebih tim penilai, dan saya sempat melihat, regu dari kalangan masyarakat keluar dari barisan saja mereka tidak pernah dan benar-benar sportif. Kasihan masyarakat yang ikut serta dalam lomba ini, mereka sangat mengharapkan juara,” ujar Brendi.

Penuturan senada disampaikan salah satu aktivis Deden Patriawan pemilik akun facebook Trias Malarange, ia menilai, kegiatan tersebut sangat tidak profesional, karena tujuan diadakan kegiatan itu untuk merayakan Kemerdekaan Indonesia akan tetapi khusus kabupaten dompu masyarakat belum sepenuhnya merasakan apa itu kemerdekaan.

“Rasa kemerdekaan itu belum sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat apalagi khususnya di Dompu, rasa kemerdekaan itu diduga hanya dimanfaatkan oleh benih-benih penjajah yang ada di ruang-ruang pemerintahan, hari ini terbukti, masyarakat yang berusaha keras untuk ikut partisipasi memeriahkan kemerdekaan itu dengan cara lomba tidak mau dihargai,” tuding Deden.

Deden kembali menegaskan, kegiatan seperti itu diberhentikan saja, karena bagaimanapun kegiatan itu tetap masuk dalam agenda perencanaan kegiatan pemerintah yang dimana kegiatan itu menyita anggaran negera, lebih baik anggaran itu disalurkan buat masyarakat yang tidak mampu dan itu lebih bermanfaat.

“Momen ini terburuk menurut saya, Masyarakat hanya dimanfaatkan saja, dalam arti hanya meramaikan kegiatan pemerintah daerah saja, supaya terlihat di pemerintahan baik provinsi maupun pusat,” bebernya. [RIS]