Antisipasi Masalah Wamena, FKUB Bahas Isu SARA agar tak Meluas di Bima

Iklan Semua Halaman

.

Antisipasi Masalah Wamena, FKUB Bahas Isu SARA agar tak Meluas di Bima

Selasa, 01 Oktober 2019
Suasana Dialog Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Bima di Aula Kantor Kemnag Kabupaten Bima, Selasa (1/10/2019). Foto MR Berita11.com.


Bima, Berita11.com— Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Bima menggelar rapat bersama di aula Kantor Kementerian Agama (Kemnag) Kabupaten Bima di Jalan Garuda Kelurahan Lewirato Kota Bima, Selasa (1/10/2019). kegiatan diikuti 30 orang tokoh agama, kalangan masyarakat dan profesi di Kabupaten Bima dengan tema merawat persatuan umat dalam bingkai NKRI.

Kasubag TU Kemnag Kabupaten Bima Zulkifli mengatakan ada banyak masyarakat di luar yang tidak menyadari dan dianggap hal biasa tentang dukacita saudara muslim di Irak dan Suriah. Ada pertikaian, pertentangan antara sesama saudara.

“Bahkan di Indonesia bagaimana kita percaya antara saudara ini, tentu kalau melihat ini semua pasti juga kita yakin bahwa mereka yang menyadarinya atau kurang menyadari bahwa begitu besar nikmat ini, akan kemudian menjadi sadar betapa besar kerukunan dan kedamaian yang sudah kita bina,” katanya.

Dikatakannya, peserta berkumpul dalam rangka berdialog bagaimana merawat kerukunan umat beragama yang sudah terjalin selama ini, khususnya di Kabupaten Bima. “Pada kesempatan ini dialog kita akan berjalan yang diawali dulu dengan penyampaian pendapat atau pandangan,” katanya.

Kepala Kemenag Kabupaten Bima Drs H Syahrir M.Si mengatakan, kerukunan umat beragama di Kota Bima dan Kabupaten Bima telah berjalan sesuai dengan harapan dan keinginan bersama. Saling menghargai, memberikan kebebasan untuk orang lain menjalankan ibadah, menerima dan menghargai perbedaan yang ada juga sudah berjalan dengan sangat baik.

Kendati demikian, tetap masih banyak tantangan yang dihadapi. Tantangan tersebut tentunya tidak cukup dilakukan oleh pemerintah, tetapi harus melibatkan semua komponen anak bangsa. Tantantang itu, seperti kondisi kehidupan beragama masih sangat rentan dengan konflik. Seperti konflik sosial yang masih terjadi dan merembet ke urusan agama.

“Seperti yang terjadi di Wamena.  peristiwa itu tidak dilatar belakangi oleh masalah etnis dan agama. Tapi dengan perkembangan media sosial, lalu digiring ke urusan etnis dan agama. Untuk itu, dari pertemuan ini semoga bisa disikapi bersama,” harapnya.

H Syahrir berharap persoalan yang terjadi di Wamena tidak meluas di Bima. “Pertemuan ini kita mendiskusikan masalah yang terjadi di Wamena, guna mengantisipasi agar tidak meluas di daerah,” katanya.

Menurutnya, tantangan yang masih harus dihadapi di Bima, juga yakni adanya kelompok yang terindikasi radikal, yang pemahaman dan idielogi menjurus ke terorisme. Hal itu harus diantisipasi bersama agar tidak terrjadi di Bima.

“Dari sejumlah tantangan itu, beberapa solusi yang harus dilakukan yakni penguatan pemahaman agama, kemudian memposisikan diri untuk mengadvokasi dan pembelaan, bukan justru memprovokasi. Lalu, menempatkan diri sebagai sentral komunikasi umat, dan bisa memberikan informasi yang benar untuk masyarakat,” katanya.

Ditambahkannya, jika empat hal itu bisa dilakukan, maka NKRI akan tetap berjalan sesuai harapan. Hal yang perlu dilakukan juga peningkatan harmoni sosial. Beberapa konflik sosial saat ini disebabkan ketidakmampuan untuk membangun harmonisasi sosial.

“Maka dari pertemuan ini, perlu disusun langkah-langkah strategis untuk dirumuskan, dalam rangka meningkatkan kerukunan umat beragama,” katanya.

Kepala Bakesbangpol Kabupaten Bima Edy Tarunawan  mengatakan, pihaknya agar semua elemen bisa menyikapi persoalan dengan bijak, sehingga tidak berimbas di daerah. Dialog seperti harus dilakukan terkait warga Bima di Wamena.  Pemerintah Daerah telah membangun koordinasi dan komunikasi dengan intelejen TNI Polri di daerah.

“Guna mencari tahu, kemudian berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi NTB, untuk berkomunikasi dengan Provinsi Jayapura. Dari hasil koordinasi tersebut, sudah banyak warga Bima yang dievakuasi. Warga Bima juga tetap dalam perhatian pemerintah,” katanya.

Ketua MUI Kabupaten Bima H Abdurrahman Haris mengatakan, solusi bisa menjadi formula dalam menyelesaikan semua persoalan hidup. Yakni kedisiplinan dalam menjalankan ajaran agama.  “Jika tidak berbohong, maka kehidupan akan damai. Makanya, jujurlah terhadap ajaran agama, hilangkan segala bentuk kebohongan,” pesannya.

Dikatakannya, semua harus patuh menjalankan aturan yang diatur dalam NKRI. Kemudian dilanjutkan penegakan hukum oleh aparat selaku perangkat negara yang mesti dilaksanakan dengan baik.

“Maka kehidupan dengan kerukunan dan keberagaman ini akan berjalan damai. Selama ini saya melihat, masyarakat Bima punya jiwa toleransi yang sangat besar dan semua mengakui itu. Warga yang berbeda agama, tetap bisa menjalankan ibadahnya dengan aman dan damai,” katanya.

Diharapkannya, apa yang dipaparkan bisa dijalankan dengan baik, agar kerukunan bisa berjalan baik dan kejadian di Wamena tidak merembet ke sejumlah daerah lain termasuk di Bima.

Sementara itu, pada kesempatan yang sama Ketua  FKUB Kabupaten Bima, Drs H Suaidin Abdullah M.Pd mengatakan, tantangan kehidupan yang diperhatikan dirinya yaitu terkait kebohongan, kedustaan atau hoaks.

“Sosmed, pidato saat ini banyak hoaks. Hal-hal seperti itu akan mempengaruhi tatanan kehidupan sosial kita. Kita baru selesai Pileg dan Pilpres. Bahkan di Kabupaten Bima baru selesai pemilihan BPD, semua itu butuh biaya,” katanya.

Perwakilan Polres Bima IPTU Zaenal Abidin  menyampaikan, bahwa NKRI diawali oleh tetesan keringat para pejuang pendahulu dan kitalah yang melanjutkan perjuangan itu. “Kita semua yang telah menerima amanah dari negara sesuai fungsi dan tanggung jawab masing-masing,” katanya.

Dikatakannya, tugas kepolisian sebagai pelayanan, pengayom dan pelindung masyarakat tidak akan bisa terlaksana dengan baik jika tidak ada kekompakan di antara semua pihak. “Pertemuan ini akan ada nilainya jika kita bermufakat tentang apa yang kita lakukan, kegiatan apa yang akan dilakukan. Mulai dari pemilihan presiden, Pileg dan saat ini Pilkades semua berjalan aman ini berkat doa dan dukungan bersama,” ujarnya.

Diingatkannya, bahwa kebhinekaan Indonesia harus dirawat dalam bingkai persatuan dan kesatuan. Hal itu merupakan paling ampuh untuk menghadapi segala permasalahan yang terjadi khususnya di Kabupaten Bima.

Sementara itu, Pasi Intel Kodim Bima, Letda Arsyad mengatakan, pihaknya berharap tokoh agama, tokoh masyarakat menginformasikan pada dirinya berkaitan segala masalah. “Informasi yang kami dapat dari para toga toma akan saya tindaklanjuti kepada pimpinan saya Dandim Bima,” katanya.

Dikatakannya, informasi yang berkembang akan dilakukan penyelidikan oleh pihaknya. “Perkembangan tentang teroransi agama di Kota Bima dan Kabupaten Bima sangat tinggi, saya harapkan bagi agama mayoritas harus membimbing agama yang minoritas agara terorganisasi, agama tetap terjaga secara harmonis,” harapnya.

Kegiatan dialog FKUB Kabupaten Bima dihadiri Kepala Kemenag Kabupaten Drs H Syaril M.Si, Kabag TU Kemenag Kabupaten Bima Ikhwan Zulkifli, Kepala Bakesbangpol Kabupaten Bima Edy Tarunawan SH, Ketua MUI Kabupaten Bima, H Abdurrahman Haris MA, Ketua FKUB Kabupaten Bima Drs H Suadin Abdullah M.Pd, Kodim 1608 Bima diwakili Pasi Intel Kodim 1608/ Bima Letda Arsyad, Polres Bima diwakili IPTU Zaenal, tokoh Ormas Islam,  Ustadz Asikin bin Mansyur yang juga Ketua FUI Bima, tokoh agama Kristen Protestan, Drs Afan Kristian, tokoh agama Kristen Katolik RD. Agustinus Wayan Yulianto dan tokoh agama Hindu, I Wayan Sute. [MR]