Musim Hujan Diprediksi Paling Cepat Januari, Masyarakat Siap-siap Hadapi Paceklik

Iklan Semua Halaman

.

Musim Hujan Diprediksi Paling Cepat Januari, Masyarakat Siap-siap Hadapi Paceklik

Rabu, 09 Oktober 2019
Petugas Stamet Bima Sedang Memonitor Kondisi Cuaca yang Ditangkap Satelit Melalui Layar Monitor Komputer. Foto US Berita11.com.


Bima, Berita11.com— Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Bima memprediksi musim hujan paling cepat terjadi pada Januari 2020 mendatang. Adapun pancaroba atau pra peralihan musim diprediksi pada November dan Desember 2019.

Forecaster BMKG Bima/ Stasiun Meteorologi Sultan Muhammad Salahuddin Bima, Surya Dharma mengatakan, prediksi tersebut sebagaimana informasi yang disampaikan Stasiun Klimatologi dalam buletin tentang cuaca. Secara umum, wilayah Bima Dompu dan Indonesia pada umumnya terdampak el nino.

“Untuk musim hujan, insya Allah mulai masuk musim hujan bulan Januari, untuk dasarian 1. Itu baru mulai memasuki musim hujan. Karena kita alhamdulillah kita kena el nino. Puncaknya sudah lewat, cuma efek samping atau sisa-sisa masih ada. Makanya efeknya sudah lewat, tapi sisanya masih ada,” kata Surya kepada Berita11.com di Stamet Sultan Muhammad Salahuddin/ BMKG Bima, Kamis (3/10/2019) lalu.

Menurut dia, permasalahan perubahan iklim juga dipengaruhi aktivitas di daerah seperti kegiatan perambahan hutan dan aktivitas ektensifikasi lahan oleh petani hingga area hutan. Hal itu menjadi akumulasi secara global sehingga mengubah iklim.

“Efeknya karena kebiasaan teman-teman lokal. Iklim itu insya Allah masih normal. Tetapi perubahan perubahan lokal ynag disebabkan kebiasaan buruk para petani juga dan para oknum terrtentu yang mengubah kondisi lokal di daerah tersebut, mengubah siklus iklim,” katanya.

Secara umum, tercatat oleh BMKG, rata-rata kecepatan minumum angin 10-15 km/jam, dengan kecepatan maksimum mencapai 30-40 km/jam. Kecepatan tersebut masih dianggap normal meskipun mencapai 40 km/ jam. Akan tetapi pada masa pancaroba kecepatan angin akan meningkat sehingga masyarakat perlu mewaspadai puting beliung, angin kencang dan bencana sejenis. Saat ini, arah angin lebih dominan dari Tenggara dan Timur.

“Pada saat masuk pancaroba nanti bahkan bisa lebih buruk lagi, karena kondisi angin bisa lebih kencang. Pancaroba itu yang kalau musim hujan sekitar Januari, maka pancaroba itu sekitar November ataupun Desember,” ujarnya.

Adapun ketinggian gelombang yang tercatat oleh BMKG di wilayah Selatan Bima pada kisaran 2-3 meter, Utara Bima  paling tinggi 1,5 meter. “Karena bagi kami di BMKG kondisi signifikan di atas 2 meter. Karena untuk ukuran kapal-kapal nelayan di Bima cukup berbahaya kalau sudah sampai 2 meter,” kata Surya.

BMKG Bima mengimbau masyarakat mewaspadai pembakaran lahan yang tidak terkontrol. Sebelumnya pada pekan lalu, terpantau titik api di radar setelit LAPAN dan BMKG hingga 26 titik hotspot dalam sehari.

Masyarakat diimbau mengantisipasi dampak kekeringan. Sebagaimana diketahui sebelumnya, dampak kekeringan masyarakat menghadapi paceklik karena area tanam yang terbatas pada lokasi tertentu seperti sawah.

Pada bagian lain stok beras pemerintah pada Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Bima terus berkurang setelah digunakan untuk kebutuhan tanggap darurat seperti korban kebakaran. Sebelumnya pemerintah daerah menyiapkan beras cadangan 20 ton dan yang tersisa di gudang beras Pemkab Bima sebelumnya 11, ton.

Stok pangan/ cadangan beras pemerintah didistribusikan untuk korban kebakaran di Renda Kecamatan Belo, di Kecamatan Sanggar, dan di Kecamatan Donggo beberapa bulan lalu 5 ton. Khusus untuk korban puting beliung di Kecamatan Donggo, Pemerintah Daerah menyalurkan 500 kilogram dan 1,8 ton untuk korbban kebakaran di Desa Renda. 

Atas permasalahan ancaman gangguan masalah pertanian, Dinas Pertanian Kabupaten Bima menyiapkan serangkaian antisipasi. Sebelumnya dinas setempat melakukan pendataan atas gangguan hama dan dampak kerusakan infstruktur pertanian akibat banjir tahun lalu yang berpengaruh pada tingkat produktivitas pertanian di wilayah Kabupaten Bima. Adapun harga beras di pasaran wilayah Kabupaten Bima umumnya Rp10.000-11.000/ kilogram.

Pada bagian lain, saat ini masyarakat kelompok usaha mikro menghadapi deflasi untuk komoditi tertentu. Hal itu sebagaimana tercatat dalam data BPS Kota Bima yang juga menjadi rujukan BPS Kabupaten Bima, khususnya untuk angka deflasi dan inflasi. [US]