25 Jurnalis di Bima Ikut Kelas Google, Ngecek Account Anonim, Audit Sosmed, Tracking dan Keamanan Data

Iklan Semua Halaman

.

25 Jurnalis di Bima Ikut Kelas Google, Ngecek Account Anonim, Audit Sosmed, Tracking dan Keamanan Data

Senin, 25 November 2019
Google News Initiative Training Network yang Diikuti 25 Jurnalis di Bima Nusa Tenggara Barat, 23-24 November 2019. Foto US/ Berita11.com.

Kota Bima, Berita11.com— 25 jurnalis di Bima mengikuti Google News Initiative Training Network yang digelar GNI, Internews dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia/ AJI Mataram Biro Bima. Kegiatan dihelat di Aula FKUB Kota Bima, di Jalan Garuda Kota Bima, 23-24 November 2019.

Selama pelatihan, 25 jurnalis dari berbagai media yang umumnya didominasi platform online dibekali teknik penelusuran metadata, konten foto, video, tanggal, waktu dan lokasi, ciri-ciri konten hoaks, website abal-abal. Sejumlah hal teknis yang disampaikan seperti penelusuran dan pencocokan foto, video, konten asli, rekam jejak pengguna Sosmed menggunakan sejumlah tools seperti google reverse image, knowem, who.is, twopcharts, finding twitter lists, intelx milik facebook, search mybio, domain big data, geolocation, penggunaan seluruh jenis mesin pencarian (search engine) seperti Yandex dan sejumlah tools lain,

Project Coordinator Google News Initiative (GNI), Arfi Bambani menjelaskan, melalui pelatihan tersebut diharapkan mendorong kapasitas jurnalis dan tidak terjebak hoaks. Kerja sama AJI Indonesia dengan Google dalam rangka meningkatkan kapasitas jurnalis di Indonesia untuk melakukan verifikasi informasi dan data.

Dijelaskannya, ada 2.000 lebih jurnalis di Indonesia ynag sudah mengiktu training dan menjadi jaringan, termasuk di Bima. “Kegiatan ini sudah berlangsung sejak tahun 2018 dan diharapkan masih akan berlanjut. 2.000 jurnalis se-Indonesia menjadi jejaring, lebih dari 50 kota se-Indonesia,” ujar mantan Sekjen AJI Indonesia dan mantan Redaktur Viva ini.

Mantan jurnalis Detik.com ini berharap, jurnalis di Bima memanfatkan kegiatan traning untuk mengembangkan kemampuan dalam bidang jurnalistik. Selain bidang jurnalistik, pelatihan tersebut juga meningkatkan kemampuan bidang lain.

Trainer GNI, Anca Herdiansya menjelaskan, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengecek situs berita palsu atau penyebar hoaks, di antaranya dengan mengecek alamat situs, mengecek detail visual, ditandai banyaknya iklan. Cara lain, membandingkan ciri-ciri pakem media mainstream, mengecek about us (tentang website/ penanggung jawab, kru dan alamat), mewaspadai judul konten dengan judul-judul sensasional, mengecek berita ke situs mainstream, mengecek googel reverse.

Pria asli Makassar ini menjelaskan, di Indonesia hoaks menjadi bisnis seperti kasus The Family MCA dan Saracen. Bisnis hoaks serupa, namun tidak sama. Ia mengajak publik tidak melabeli karya jurnalistik dengan istilah hoaks. Karena berbeda dengan konten media sosial, karya jurnalistik adalah produk yang melalui proses verifikasi dan standar-standar dalam jurnalisme.

Istilah fake news/ berita bohong dipopulerkan Donald Trump pada konferensi pertamanya saat pemilihan. Trump menyebut fake news untuk berita CNN. Menurutnya, istilah mis informasi dan disinformasi lebih tepat.

Disinformasi yaitu informasi yang salah dan orang yang membagikannya mengetahui jika itu salah dan disengaja, sedangkan misinformasi adalah informasi salah, namun orang yang membagikannya percaya bahwa itu benar. Macam-macam misinformasi dan disinformasi seperti satire, konten menyesatkan, konten aspal, konten pabrikasi, konten tidak nyambung, konteksnya salah dan konten manipulatif.

Adapun alasan di balik disinformasi dan misinformasi karena jurnalisme lemah, buat lucu-lucuan, sengaja membuat provokasi, partisanship, karena alasan untuk mencari uang (clickbait dan iklan), gerakan politik dan propaganda.

Untuk memastikan kebenaran isi konten bisa dilakukan dengan mencek asal-usul, apakah yang dilihat adalah konten asli, sumber, lokasi, tanggal d an motivasi. Mendapatkan konten asli penting, karena jika tidak meliha konten asli, maka makin besar kemungkinan kita bisa tertipu dalam hal autentisitas konten tersebut.





Beberapa problem berkaitan hoaks, penetrasi internet yang tinggi di Indonesia tidak diimbangi dengan kemampuan bersikap kritis terhadap informasi yang beredar di internet. Berdasarkan survei Asosisasi Penyelenggara Jasa Internet (APJII), lebih dari separuh populasi Indonesia terhubung dengan internet. Penetrasi pengguna internet di Indonesia 64,8 persen. Berdasarkan data APJIII tahun 2018, sebanyak 171,17 juta jiwa dari total populasi penduduk Indonesia 264,16 juta orang merupakan penetrasi pengguna internet. Pengguna internet tahun 2018 sebanyak 171.176.716,8, pertumbuhan pengguna 10,12 persen.

Masih berdasarkan data APJII, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), masuk dalam kategori pengguna internet tertinggi bersama warga Pulau Jawa, dan Bali dengan persentase 55 persen, disusul Pulau Sumatera 21 persen, Sulawesi, Maluku dan Papua 10 persen, Kalimantan 9 persen.

Sebagaimana pernyataan dosen Psikologi Media Universitas Indonesia, Laras Sekarasih, PhD, orang cenderung percaya hoaks jika informasinya sesuai dengan opini atau sikap yang dimiliki. Misalnya seseorang memang sudah setuju terhadap kelompok tertentu, produk atau kebijakan tertentu. Ketika ada informasi yang dapat mengafirmasi opini dan sikapnya tersebut, maka ia mudah percaya.

Pada sisi lain, berdasarkan data world’s most literate nations ranked, literasi Indonesia berada pada urutan 60. Berdasarkan data UNESCO tahun 2012, minat baca masyarakat Indonesia baru 0,001 persen. Di antara 250 juta lebih penduduk Indonesia, hanya 250.000 yang memiliki minat baca. Pada tahun 2014, anak anak Indonesia membaca hanya 27 halaman buku dalam satu tahun. Hal tersebut mengindikasikan ada banyak orang Indonesia berkerumum di internet (lebih dari separuh populasi) dan terpapar oleh beragam informasi tanpa literasi yang memadai.

Literasi adalah kemampuan seseorang dalam mengolah dan memahami informasi saat melakukan proses membaca dan menulis.


Menurut Anca, masa depan untuk konten di google, bukan lagi mengandalkan clickbaik. Namun google semakin membenahi algoritmanya, dengan memerhatikan kualitas konten.



AJI Gelar Pelatihan Cek Fakta untuk Media di 23 Kota

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) bekerja sama dengan media, komunitas jurnalis lokal, dan Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) di 23 kota menyelenggarakan training cek fakta. Training ini diikuti sekitar 400 jurnalis secara serentak Sabtu-Minggu, 23-24 November 2019.

Ketua Umum AJI Abdul Manan mengatakan, kegiatan ini dilatarbelakangi oleh fenomena banyak dan cepatnya penyebaran informasi di era digital, terutama melalui media sosial. Muatan dari informasi itu beragam. Mulai dari informasi yang bermanfaat dan dibutuhkan publik hingga informasi palsu (hoaks), disinformasi, atau kabar bohong.

Penyebaran informasi palsu berupa teks, foto hingga video itu memiliki tujuan beragam. Ada yang sekedar untuk lelucon, tapi ada juga yang mengandung kepentingan politik atau ekonomi. “Yang merisaukan, hoaks ini menyebar sangat mudah cepat di sosial media. Tidak sedikit publik yang serta merta mempercayainya," kata Abdul Manan di Jakarta, Sabtu (23/11/2019).

Bukan hanya publik yang mempercayai dan menyebarluaskan informasi palsu tersebut. Terkadang media pun turut mendistribusikannya. Hal ini terjadi karena berbagai faktor. Antara lain, karena ketidaktahuan, sekadar ingin menyampaikan 'informasi' secara cepat, atau sengaja untuk tujuan-tujuan tertentu.

Mudahnya penyebaran informasi palsu itu dipicu oleh banyak sebab, termasuk karena kurangnya pemahaman dan pengetahuan tentang apa itu informasi palsu dan bagaimana cara mendeteksinya. Sejumlah latar belakang itu yang mendorong Aliansi Jurnalis Independen (AJI), dengan dukungan Internews dan Google News Initiative, mengadakan Pelatihan Cek Fakta Serentak di 23 kota ini.

Materi yang diberikan dalam pelatihan ini meliputi teknik mendeteksi informasi palsu, selain bagaimana berselancar di dunia digital yang sehat dan aman. "Salah satu tujuan praktis dari kegiatan ini adalah agar media dapat melakukan verifikasi sendiri terhadap informasi yang beredar di dunia digital, khususnya media sosial," kata Manan.

Kegiatan training cek fakta serentak ini digelar serentak di kota-kota berikut: Gorontalo (Gorontalo), Palu (Sulawesi Tengah), Mamuju (Sulawesi Barat), Bulukumba (Sulawesi Selatan), Jakarta (Jakarta), Surakarta (Jawa Tengah), Banjarbaru (Kalimantan Selatan), Pontianak (Kalimantan Barat), Malang, Kediri (Jawa Timur), Bandung (Jawa Barat), Yogyakarta, Tanjungpinang), Banda Aceh (Aceh), Ambon (Maluku), Padang (Sumatera Barat), Kotamobagu (Sulawesi Utara), Bima, Mataram (Nusa Tenggara Barat), dan Denpasar (Bali). [RD/AD]