Akademisi STAIM Bima Optimistis dengan Visi-Misi Pembangunan Karakter oleh Wali Kota Bima

Iklan Semua Halaman

.

Akademisi STAIM Bima Optimistis dengan Visi-Misi Pembangunan Karakter oleh Wali Kota Bima

Minggu, 24 November 2019
Suasana Pelaksanaan Maulid Nabi Muhammad SAW Tahun 1440 Hijriah di Kediaman Wali Kota Bima, Sabtu (23/11/2019) Malam.

Kota Bima, Berita11.com— Akademisi Sekolah Tinggi Agama Islam Muhammadiyah (STAIM) Bima, Dr Ilham M.Pd menyatakan keyakinan terhadap visi-misi religius di bawah kepemimpinan Wali Kota Bima, H Muhammad Lutfi SE. Konsep penataan keagamaan dilaksanakan melalui moto Kota Bima, Maja Labo Dahu.

Hal tersebut disampaikannya saat tausiah pada acara maulid Nabi Muhammad SAW tahun 1441 Hijriah di kediaman Wali Kota Bima, Sabtu (23/11/2019) malam.

Dr Ilham menyampaikan, perjalanan pendidikannya pada jenjang doktoral. Persaingan mendapatkan beasiswa, dukungan dan motivasi H Muhammad Lutfi terhadap dirinya hingga perjuangannya dalam menyelesaikan program S3 dengan cepat. Disertasinya yang bertema, pendidikan Alquran dalam pembentukan akhlaq untuk mewujudkan moto Maja Labo Dahu, menjadi sesatu yang unik dalam pandangan dosen pembimbingnya, sehingga mendapatkan pujian.

“Nabi Muhammad sebagai contoh dan teladan bagi semua, sehingga dengan risalah yng ditinggalkan beliau, mampu menunjukan kepada kita jalan yang benar, mengenal Allah SWT,” ujar pria yang juga akademisi STKIP Bima ini.

Dikatakannya, syariat berdasarkan kitabullah adalah sesuatu yang penting. Rasulullah SAW pada akhir hayatnya telah mewasiatkan kepada sahabat dua perkara yang ditinggalkannya yaitu Alquran dan sunnah.

“Tidak akan menyesatkan kalian selama-lamannya yaitu Alquran dan sunnah Rasulullah. Pedoman kehidupan yang mendekatkan kepada Allah yaitu Alquran dan sunnah Rasulullah. Orang tua kita dulu memolesnya, masyarakat dengan Maja Labo Dahu. Duanya dari Allah dan Rasulullah, yang satunya amanah orang tua kita, Maja Labo Dahu,” katanya.

Ustadz Ilhamd mengatakan, Maja Labo Dahu telah dituangkan dalam Perda, tinggal menjewantahnya dalam kehidupan. Hadirinya Rasulullah untuk membedakan yang hak dan bathil.

“Dalam Rasulullah menjadi yang hak patut dilakukan, yaitu nilai-nilai yang ada dalam Alquran. Dalam Alquran, mengajarkan kita untuk mentauhidkan Allah. Hanya menyembah kepada Allah semata, baik itu salat, zakat, haji. Itu yg penjewantah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT,” katanya.

Dikatakannya, seandainya Rasulullah tidak dilahirkan, makan kita tidak mengenal Alquran, tidak mengenal agama yang baik, tidak mengenal cara mengenal Allah SWT. “Seperti yang disampaikan wali kota tidak hanya ceremoial, tapi bisa kita laksanakan dalam kehidupan,” katanya. [AD]