Polda NTB Antisipasi Konflik Sosial di Medsos

Iklan Semua Halaman

.

Polda NTB Antisipasi Konflik Sosial di Medsos

Jumat, 08 November 2019
Foto Bersama Peserta Forum Diskusi Usai Kegiatan. Foto ED.

Mataram, Berita11.com— Pengaruh media sosial (Medsos) sebagai pasar informasi turut menyumbang penyebab konflik sosial berkepanjangan di masyarakat. Meski tidak secara langsung, informasi yang bebas nilai mulai dari hoaks sampai disinformasi ditengarai ikut memengaruhi cara berpikir orang per orang, bahkan secara komunal.

Demikian disampaikan Kasubdit Kamneg Direktorat Intelkam Polda NTB, AKBP Moch Yunus, saat forum diskusi yang digelar di Mataram, Kamis (7/11/2019).  

“Ada banyak faktor penyebab konflik sosial. Utamanya memang dari kejadian nyata sehari-hari. Tapi pengaruh media sosial yang sekarang orang banyak berkumpul di sana, bisa juga sebagai upaya aparat dalam menyelesaikan sebuah konflik. Banyak informasi di Medsos yang bisa digunakan untuk mengambil langkah-langkah yang dibutuhkan sebagai pendekatan mencari penyelesaian konflik,” ujar Moch Yunus. 

Yunus mengatakan, kecenderungan orang bermedsos saat ini dan karut marut informasi membuat aparat melakukan tindakan pencegahan konflik melalui penguatan kelompok masyarakat yang rentan dipengaruhi informasi dari Medsos. Salah satunya, kaum muda milenial yang secara bersamaan dianggap paling berpotensi melakukan perubahan untuk mengajak masyarakat lain menjaga suasana aman, tentram dan damai di media sosial maupun di masyarakat.

Upaya pencegahan melalui media sosial, terutama dengan mendorong pemahaman berkaitan teknologi informasi. Juga menegaskan tujuan bersama bermasyarakat, berbangsa dan bernegara kepada kaum milenial.

Forum diskusi juga menghadirkan narasumber dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) dan praktisi serta ahli komunikasi media sosial.
Fairuz Abadi yang ikut menyampaikan materi penguatan mengenali berita bohong (hoaks) dan disinformasi di media sosial, juga membuka cara berpikir kaum milenial agar selalu memahami isu tertentu dengan mengecek fakta maupun mengasah rasionalitas.

“Informasi, bahkan berita media sekalipun dapat menggiring pikiran seseorang untuk memercayai sesuatu jika tidak berhati-hati membaca dan menerima pesannya. Informasi yang berlimpah ataupun kebebasan berekspresi di media sosial juga harus disikapi bijaksana. Di era digital, setiap tindakan kita menjadi jejak yang kita tinggalkan, bahkan tanpa kita sadari,” kata Fairuz.

Pada kesempatan yang sama, Yunus menambahkan, aparat juga tetap mengawasi perilaku masyarakat di media sosial dalam menanggapi perkembangan lokal maupun nasional yang menjadi isu sebagai upaya pencegahan. Namun demikian, ia menyebut konflik sosial belakangan ini makin menurun. Isu radikalisme dan tingginya kasus pelanggaran UU ITE di NTB secara fakta hukum sudah banyak terjadi di NTB.



Meski demikian, jumlahnya kian menurun karena upaya bersama untuk selalu menjaga kondusifitas dengan meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang kondisi situasi terkini. 

“Ada banyak faktor membuat masyarakat kita makin aman, damai dan tentram. Yang jelas kalau sudah begitu, tugas polisi memelihara kondisi itu. Masyarakat secara bersama harus terus mengupayakan keadaan yang baik,” katanya. [ED/RD]