Bandara Bima belum Dipasangi Thermo Scanner untuk Deteksi Virus Corona -->

Iklan Semua Halaman

.

Bandara Bima belum Dipasangi Thermo Scanner untuk Deteksi Virus Corona

Sunday, January 26, 2020
Kepala Tata Usaha Unit Penyelenggara Bandara Sultan Muhammad Salahuddin Bima, Sudarmana SST Didampingi Staf Setempat. Foto MR/ Berita11.com.

Bima, Berita11.com— Hingga kini Bandara Sultan Muhammad Salahuddin (SMS) Bima belum dipasangi pendeteksi suhu tubuh (thermo scanner) untuk mendeteksi penumpang pesawat yang terjangkit virus corona. Pihak Unit Penyelenggara Bandara SMS Bima beralasan, bandara setempat hanya melayani penerbangan domestik.

Kepala Tata Usaha Unit Penyelenggara Bandara SMS Bima, Sudarmana menjelaskan, bandara setempat hanyalah melayani penumpang transit dari Bandara Ngurah Rai Denpasar dan Bandara Internasional Lombok.

“Sebaliknya jadi tidak ada kontak langsung kalaupun ada penyebaran virus corona, sudah terdeteksi terlebih dahulu di Bandara Denpasar Bali atau Bandara Lombok,” katanya di Bandara SMS Bima, Sabtu (25/1/2020).

Diakuinya, berkaitan penyebaran virus corona, pihaknya sudah menerima pemberitahunan dari Kementrian Perhubungan di Jakarta,  hanya mengantipasi kedatangan atau keberangkatan penumpang khususnya turis mancanegara dari China.

“Kita di Bandara Bima sesuai imbauan Kementrian Perhubungan pada intinya selalu meningkatkan kewaspadaan dengan adanya perkembangan dan selalu mendeteksi. Namun di Bandara Bima ini tidak punya alat untuk menditeksi, baik itu alat elektroknik maupun alat secara manual,” jelas Sudarmana didampingi staf UP Bandara Bima, Syamsuddin.

Petugas Karantina Kesehatan Pelabuhan (KKP) Bima Abdul Gani memastikan,  sementara pihaknya memastikan tidak terdapat penumpang yang terdekteksi virus corona, baik penumpang  yang berangkat dengan tujuan Bandara Lombok dan Bandara Denpasar Bali maupun penumpang kedatangan dari Bandara Lombok maupun Bandara Bali serta sebaliknya.

Petugas KKP Bima, Abdul Gani. Foto MR/ Berita11.com.

“Kami tetap selalu berkordinasi dengan KKP Mataram apabila ditemukan pasien atau penumpang yang teridikasi terkena virus tersebut. Karena di Bandara Bima belum punya alat untuk mendeteksi terkena virus tersebut,” ujarnya.

Sebagaimana dilansir Sindonew.com, Kemenkes Republik Indonesia menyiapkan thermo scanner di 135 pintu keluar-masuk Indonesia , sejak Jumat, 24 Januari 2020 lalu, guna mencegah penyebaran corona virus yang menyebabkan wabah penyakit di Wuhan, China.

Pemerintah Indonesia mewaspadai penyebaran Cov yang menyebabkan wabah di Wuhan, China, tidak masuk ke Indonesia. 135 pintu negara baik udara, laut, maupun darat yang jaga petugas Kantor Kesehatan Pelabuhan. “Yang paling awal bisa dideteksi adalah dengan termoscanner untuk mendeteksi suhu tubuh,” kata Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kemenkes dr. Anung Sugihantono, M.Kes.

“Kalau ada orang dari luar negeri masuk ke Indonesia dengan suhu tubuh di atas 38 derajat celcius, maka posturnya terlihat berwarna merah pada termoscanner,'' lanjutnya.

Selain itu, bandara-bandara di seluruh Indonesia terutama yang mempunyai penerbangan langsung dari China, meningkatkan kewaspadaan di antaranya dengan mengaktifkan thermal scanner, memberikan health alert card dan KIE pada penumpang.

Kepala Kantor Kesehatan Pelabungan (KKP) Kelas I Bandara Soekarno-Hatta, dr. Anas Maruf menjelaskan, semua pintu masuk negara sudah disiapkan termoscanner. “'Dalam kondisi rutin seluruh kedatangan internasional semua selalu dilakukan pemeriksaan termoscanner meskipun tidak ada penyakit yang diwaspadai. Kalau ada penyakit yang diwaspadai maka kita tingkatkan pengamanannya,”' ujar dr. Anas.

Adapun kasus yang perlu dicurigai terinveksi nCoV di antaranya adalah:
  1. Penderita infeksi saluran pernapasan akut berat (Severe Acute Respiratory Infection/SARI), dengan riwayat demam dan batuk serta penyebab yang belum pasti, memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di Wuhan, Provinsi Hubei, China dalam waktu 14 hari sebelum timbulnya gejala.
  2. Seseorang yang sakit dengan gejala klinis yang tidak biasa, kemudian terjadi penurunan kondisi umum mendadak meskipun telah menerima pengobatan yang tepat, tanpa memperhatikan tempat tinggal atau riwayat perjalanan.
  3. Penderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) ringan atau berat, yang dalam 14 hari sebelum timbulnya penyakit, telah terpajan dengan kontak erat dengan kasus positif infeksi nCoV.
  4. Mengunjungi fasilitas pelayanan kesehatan di negara-negara terjangkit nCoV.
  5. Mengunjungi atau bekerja di pasar hewan di Wuhan, China.
  6. Memiliki riwayat kontak dengan hewan (jika hewan penular sudah teridentifikasi) di negara terjangkit nCoV pada hewan atau pada manusia akibat penularan hewan (zoonosis).

Lebih lanjut dr. Annas menyarankan kepada masyarakat Indonesia yang berada di Wuhan untuk menghindari wilayah yang menjadi penyebaran penyakit akibat nCoV, menghindari kontak yang diduga menderita nCoV, berperilaku hidup bersih dan sehat, dan jika sakit segera berobat ke Fasyankes. [MR]