BEM REMA STKIP Tamsis Bima Bedah Buku Karya Edy Suparjan -->

Iklan Semua Halaman

.

BEM REMA STKIP Tamsis Bima Bedah Buku Karya Edy Suparjan

Senin, 13 Januari 2020
Bedah Buku Karya Edy Suparjan yang Digelar BEM REMA STKIP Taman Siswa Bima.

Bima, Berita11.com— Setelah sukses menggelar dialog kepemudaan, Badan Eksekutif Mahasiswa Republik Mahasiswa (BEM REMA) STKIP Tamsis Bima membuat gebrakan untuk menguatkan literasi. BEM setempat membedah buku karya Edy Suparjan, M.Pd di kampus STKIP Taman Siswa Bima, Kamis (9/1/2020).

“Kegiatan diselenggarakan oleh Koordinator BEM-REMA STKIP Taman Siswa Kampus II. Penulis buku pendidikan sejarah untuk membentuk Karakter bangsa yang sedang dibedah Edy Suparjan, M.Pd,” kata Kabag Humas STKIP Tamsis Bima, Muhammad Ajwar, M.Pd.

Dijelaskan Ajwar, buku itu secara garis besar menjelaskan tentang karakter tokoh bangsa. Selanjutnya, buku itu dapat diinternalisasikan di dunia pendidikan, baik untuk guru maupun mahasiswa. “Pembanding bedah buku adalah Taufik, SH. MH. Beliau dianggap cocok dengan tema buku yang dibedah,” katanya.

Saat menyampaikan pembandingan, ada beberapa catatan yang disampaikan pembedah. Di antaranya adalah memberikan masukan kepada penulis bahwa muatan nilai Maja Labo Dahu harus dipertajam dan bisa dipraktikkan oleh guru dalam ruangan kelas.

“Saya sangat mengapresiasi kegiatan bedah buku tentang pendidikan sejarah dalam membentuk karakter bangsa ini. Kegiatan ini dibuka oleh ketua STKIP Tamsis. Kata pak ketua, sangat mengapresiasi dan mendukung kegiatan bedah buku ini dan harus menjadi tradisi kampus (STKIP Taman Siswa). Ke depannya diharapkan lahir penulis penulis baru yang progresif,” kata Azwar.  

Azwar berharap, melalui kegiatan tersebut, dapat memberikan motivasi dan inspirasi bagi mahasiswa dan masyarakat pada umumnya. Selain motivasi menulis, juga diharapkan dapat mendorong agar minat membaca pada kalangan millineal. “Mudah-mudahan kegiatan bedah buku sejarah ini akan selalu diselenggarakan oleh adik adik BEM setiap tahunnya,” harapnya.

Koordinator BEM REMA kampus 2 STKIP Tamsis Bima, Alfa Rizki mengatakan, kegiatan tersebut dalam rangka membentuk kesadaran akademisi. Selain itu, juga untuk menghasilkan peradaban baru di kampus melalui pemahaman sejarah.

“Kami berupaya semaksimal mungkin dalam mengembalikan fungsi kampus sebagai tempat berlangsungnya kontestasi gagasan. Menghadirkan kesadaran-kesadaran rasional mahasiswa akan dampak-dampak sosiologis dari keberadaban sejarah. Juga sebagai mahluk yang berpikir, pengetahuan dan pemahaman tentang sejarah akan menjadikan manusia sebagai mahluk yang membentuk karakter yang bernilai produktif bagi kehidupanya,” paparnya.

Sementara itu, Edy Suparjan, M.Pd, sebagai pemateri sekaligus penulis buku mengaku menerima banyak masukan hingga kritik. Di antaranya, masukan dari pembanding mengenai karakter tokoh bangsa. Pembanding menginginkan karakter tokoh bangsa tersebut agar bisa diformulasikan secara teknis praktiknya di kelas.

“Saya menjawab, buku ini hanya sebagai konsep dasar yang memiliki muatan nilai-nilai karakter dalam pendidikan sejarah. Selanjutnya guru-guru sejarah harus menginternalisasikan karakter tokoh tersebut ke dalam diri mereka sehingga bisa diterapkan dalam startegi belajar dalam kelas dan disesuaikan dengan RPP,”  ujar pria yang akrab disapa Edy.

Selain dari pembanding, sejumlah mahasiswa yang hadir juga ikut memberikan saran. Dirinya menginginkan, peserta harus mengkritik kekurangan buku yang ditulis, seperti layout, cover, sistematika buku serta isi yang mungkin tidak sesuai dengan judul dan mengapa harus ada tokoh Douwes Dekker, kenapa bukan Cokroaminoto sebagai guru bangsa.

“Penulis masih mengharapkan kritikan integral bagi perbaikan buku pendidikan sejarah untuk membentuk karakter bangsa, sehingga buku tersebut dapat direvisi dan bermanfaat bagi mahasiswa calon guru, maupun guru sejarah sendiri,” pungkas Edy. [RD]