Mi6: Persekutuan PDIP-PKS, Antitesa Strategi Politik yang Utamakan Power Sharing -->

Iklan Semua Halaman

.

Mi6: Persekutuan PDIP-PKS, Antitesa Strategi Politik yang Utamakan Power Sharing

Senin, 06 Januari 2020
Bambang Mei Finarwanto SH. Foto Ist.

Mataram, Berita11.com— Mi6 melihat persekutuan taktis PDIP dan PKS dalam Pilkada serantak 2020 di NTB merupakan cermin antitesa strategi politik yang mendepankan sharing politik dalam memenangkan konstestasi Pilkada di NTB.

“Power Sharing PDIP-PKS  adalah blok politik yang tidak biasa (anti mainstream) agar efektif dalam melakukan penetrasi pemenangan dengan mesin partai yang sudah teruji,” kata Direktur Mi6, Bambang Mei Finarwanto, SH, Senin (7/1/2019).

Pria yang akrab Didu ini mengatakan, sebagai partai modern dengan karakter ideologi yang kuat dan khas, setidaknya koalisi PDIP dan PKS ingin mendobrak cara pandang kuno yang kerap mengamsumsikan bahwa karena perbedaan ideologi dan gerakan,  PDIP dan PKS tidak mungkin dalam satu front politik, menjadi terbantahkan.

“Faksi PDIP dan PKS harus pula dimaknai sebagai upaya membangun citra  politik yang positif guna meraih persepsi yang baik di mata publik,” ujar Didu.

Lebih jauh Direktur Mi6 menilai persekutuan PDIP dan PKS di NTB ini merupakan pertautan persaudaraan ( brotherhood) dalam  mengamankan kepentingan  strategis jangka panjang yang saling membesarkan dan menguatkan.

“PDIP dan PKS ingin memberikan pencerahan politik kepada publik agar membiasakan diri mengapresiasi hal-hal yang dipandang tidak mungkin dari kacamata positif dan mengambil hikmah dari sisi kebaikkannya,” tegas Didu.

Sementara itu Mi6 memprediksi dalam Pilkada Serentak 2020 aksi borong partai pengusung oleh kandidat tidak akan terjadi lagi. Paslon akan memakai kendaraan politik yang ramping/ secukupnya sesuai persyaratan agar lebih efektif dan efisien cost politiknya.

“Koalisi ramping PKS dan PDIP dihajatkan memberikan kepastian politik agar calon yang diendorse/ diusung nyaman dan makin leluasa dalam melakukan penetrasi memperluas basis dukungan loyalis vottersnya,” tukas Didu.

Sebagai partai kader yang berbasiskan ideologi yang jelas, lanjut Didu,  PDIP dan PKS di Pilkada NTB akan menjadi role model,  bagaimana mesin partai yang berbeda mashab ideologi  bisa bergerak secara efektif meraih dukungan pemilih dari berbagai segmen.

“Mi6 menilai ibarat Alfamart-Indomart, koalisi  PDIP dan PKS tentu akan memotivasi partai politik lain agar segera menentukan calon dan sekutu politiknya dalam konstestasi Pilkada serentak, September 2020,” pungkasnya. [RD]