Mitan Tembus Rp30 Ribu per Botol, LPG Subsidi Langka dan Naik hingga Rp40 Ribu

Iklan Semua Halaman

.

Mitan Tembus Rp30 Ribu per Botol, LPG Subsidi Langka dan Naik hingga Rp40 Ribu

Kamis, 02 Januari 2020
Beberapa Pekan Terakhir LPG di Wilayah Bima dan Dompu Mengalami Kelangkaan Sehingga Dikeluhkan Warga, Termasuk Para Pemilik Warung Nasi di Cabang Talabiu Kecamatan Woha Kabupaten Bima. Foto Ahmad/ Berita11.com.


Bima, Berita11.com— Pasca pemerintah menerapkan konversi minyak tanah (Mitan) ke elpiji atau liquified petroleum gas  (LPG) di Pulau Sumbawa, harga Mitan di sejumlah wilayah di Bima tembus hingga Rp30 ribu per botol ukuran 1,5 liter. Tak hanya bahan bakar tersebut, LPG 3 kilogram jenis subsidi juga langka. Bahkan jika ada, harganya tembus hingga Rp40 ribu per tabung.

Sahruddin Mustamin, pemilik lapak di Cabang Talabiu Kecamatan Woha Kabupaten Bima, mengeluhkan LPG 3 kilogram yang sudah sepekan langka. Kondisi itu membuatnya dan sejumlah warga lain kesulitan untuk melakukan aktivitas seperti memasak. Apalagi warga yang memiliki warung nasi dan usaha kuliner lainnya.

Sahrudin mengaku sudah berkeliling sejumlah wilayah untuk mendapatkan LPG 3 kilogram. Namun hasilnya nihil, ternyata gas pengganti Mitan itu juga langka di wilayah lain.  Untuk itu, ia meminta pemerintah daerah segera menyikapi kondisi tersebut. karena jika tidak, banyak warga yang berteriak menyuarakan kondisi tersebut.

“Kami minta pemerintah daerah segera menyikapi kelangkaan elpiji 3 kilogram ini. Karena jika tidak usaha kami lama dibiarkan macet,” katanya.

Suara yang sama diungkapkan Salahuddin, pengusaha kuliner di Kecamatan Belo. Untuk memastikan kelancaran usahanya, ia terpaksa menggunakan kayu bakar. Namun, pemerintah daerah diharapkan segera tanggap. Tidak membiarkan berbagai usaha masyarakat mangkrak.

Suara gusar LPG 3 kilogram yang langka, disampaikan Salahuddin melalui media sosial. Ia meminta pemerintah segera mengatasi dampak pasca konversi Mitan ke LPG tersebut.

Sementara itu, warga Soromandi Suharni mengungkapkan, sebulan terakhir warga yang tidak berani menggunakan LPG terpaksa membeli Mitan hingga Rp30 ribu per botol air minum ukuran 1,5 liter.

Ia berharap pemerintah membuat standar harga untuk Mitan nonsubsidi. Jangan sampai kondisi Mitan yang langka dan masalah warga yang takut menggunakan LPG, justru dimanfaatkan oleh oknum-oknum spekulan untuk meraup keuntungan lebih.

“Masa naiknya sampai 7-8 kali lipat. Kita minta pemerintah untuk mengawasi. Jangan biarkan masyarakat sengsara. Sudah banyak masalah yang dihadapi masyarakat, kenaikan berbagai tarif tahun 2020, ditambah lagi harga minyak tanah yang sangat mahal,” katanya.

Di Kecamatan Bolo dan Kecamatan Madapangga Kabupaten Bima harga LPG 3 kilogram dijual hingga Rp40 ribu/ tabung.

Sikapi Stok LPG Kurang, Bupati Bima Surati Pertamina

Pada bagian lain, Bupati Bima Hj Indah Dhamayanti Putri SE menindaklanjuti hasil monitoring  Bagian Perekonomian Setda Kabupaten Bima, berdasarkan informasi masyarakat terkait berkurangnya stok LPG di tingkat pengecer.

Pemkab Bima meminta Pertamina mengoptimalkan penyaluran LPG 3 kg. Permintaan itu disampaikan melalui surat Nomor 500/086/03.4/2019 tertanggal 30 Desember 2019 tentang distribusi LPG tabung 3 kg.

“Hal ini dimaksudkan untuk mengatasi kekurangan stok bahan bakar gas di masyarakat mengingat tidak ada alternatif bahan bakar lain pascakonversi Mitan ke gas,” ucap Bupati Bima dikutip Kepala Bagian Humas dan Protokol Setda Kabupaten Bima, M Chandra Kusuma AP.

Bupati meminta jumlah penyaluran LPG 3 kg beberapa titik seperti Woha, Sape dan Bolo yang sebelumnya hanya 1-2 truk menjadi 3-4 truk per sekali pengiriman. Selain itu, meminta agar frekuensi pengiriman dari sekali sepekan menjadi 2-3 per pekan, sehingga masyarakat tidak kesulitan menemukan LPG di pengecer terdekat.

Bupati juga mengingatkan Pertamina segera menindaklanjuti keluhan masyarakat, karena hal tersebut menyangkut kebutuhan utama masyarakat. Apabila tidak segera ditangani akan berdampak sosial dan mengganggu stabilitas daerah. Pemkab Bima juga meminta masyarakat bersabar, karena pemerintah daerah tidak tinggal diam terhadap persoalan konversi Mitan ke LPG yang merupakan kebijakan pemerintah pusat.

Adapun Kabag Perekonomian Setda Kabupaten Bima, Hariman SE, M.Si meminta Pertamina untuk memfasilitasi konversi pangkalan pengecer Mitan menjadi penyalur LPG agar masyarakat semakin mudah untuk mendapatkan LPG.

Menurutnya, kelangkaan LPG mulai terpantau di Woha dan Sape yang juga menyebabkan adanya kenaikan harga di tingkat penyalur dari harga Rp15 ribu per tabung LPG 3 kg menjadi Rp20-30 ribu per tabung

“Hal ini harus diatasi dengan meningkatkan jumlah tabung dan frekuensi penyaluran oleh pihak Pertamina dan sub agen di Bima,” kata Hariman.

Sementara itu, menurut pihak pertamina yang disampaikan oleh Sigit selaku perwakilan Pertamina Wilayah NTB melalui pesan whatsapp, berjanji akan berupaya maksimal merecovery kebutuhan LPG yang kurang. Selain itu menyatakan komitmen memenuhi kebutuhan harian normal masyarakat terhadap LPG. [AD/US]